Giselle, seorang siswi baru di SMA Harapan Bangsa, tak sengaja bertemu kembali dengan Lee Jeno, cinta pertamanya yang populer. Namun, kebahagiaan itu sirna saat ia mengetahui rahasia kelam keluarga: Jeno dituduh sebagai penyebab kecelakaan maut yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Langkah kaki Giselle terhenti sejenak saat ia menatap gerbang SMA Harapan Bangsa. Baginya, pagi itu tidak sekadar awal semester, melainkan pembukaan tirai sebuah film romansa. Aroma kertas baru dan riuh rendah suara siswa di koridor menciptakan simfoni yang mendebarkan. Terlalu asyik memetakan denah sekolah di layar ponselnya, Giselle kehilangan fokus pada langkahnya sendiri.
Bruk!
Keseimbangan itu hilang dalam sekejap. Tumpukan buku Kimia yang dipeluknya erat kini berserakan di atas lantai marmer yang dingin.
"Astaga, maafkan aku!" serunya panik. Sambil membungkuk cepat, jemarinya berusaha meraih buku-buku yang terkapar. Namun, gerakannya terhenti saat sepasang sepatu sneakers putih bersih berhenti tepat di depannya. Sebuah tangan dengan jemari lentur terulur, mengambilkan salah satu bukunya.
Giselle mendongak, dan pada detik itu juga, waktu seolah berhenti berputar. Di hadapannya berdiri Lee Jeno. Sosok yang selama ini hanya ia kagumi lewat bingkai layar media sosial, kini berdiri nyata dengan pendar cahaya matahari pagi yang membingkai siluetnya.
"Lee Jeno?" Nama itu lolos begitu saja dari bibir Giselle, tanpa permisi.
Laki-laki itu, yang awalnya menunjukkan senyum tipis, mengerutkan kening heran. "Maaf, kita pernah bertemu?"
Wajah Giselle seketika memanas, merah padam hingga ke telinga. "Ah, m-maksud saya... nama Kakak sangat sering dibicarakan di sekolah lama saya. Kakak cukup legendaris." Ia berusaha merangkai kalimat se-logis mungkin demi menutupi rasa gugup yang meledak-ledak.
Jeno terkekeh pelan. Suara tawa yang rendah itu terasa seperti melodi yang menenangkan ketegangan Giselle. "Begitu ya? Berarti kamu siswi baru di sini?"
"Iya, Kak."
"Siapa namamu?"
"Giselle."
"Nama yang cantik," ujar Jeno sambil mengangguk kecil dan menyerahkan buku terakhir. "Senang bertemu denganmu, Giselle. Selamat datang di sekolah ini."
"Terima kasih, Kak Jeno." Giselle membalas senyum itu sehangat yang ia bisa. "Kalau begitu, saya permisi dulu ke ruang administrasi. Sampai jumpa."
Giselle berbalik dengan langkah terburu-buru, menyembunyikan detak jantungnya yang berdentum hebat seperti genderang perang. Di dalam hatinya, ia bersorak; cinta pertamanya bukan lagi sekadar impian, melainkan kenyataan yang baru saja menyapanya.
Jeno masih berdiri di tempatnya, menatap punggung gadis itu hingga hilang di belokan koridor.
"Wah, sang pemikat kita mulai beraksi lagi," sebuah suara familier memecah lamunannya. Jaemin muncul dengan seringai jahil, menyikut lengan Jeno. "Senyum killer itu benar-benar tidak ada matinya. Jadi, siapa namanya tadi? Giselle?"
Jeno mendengus geli, kembali melangkah. "Hanya basa-basi, Jaemin. Dia anak baru yang terlihat kebingungan. Lagipula, kau tahu sendiri 'Ayang'-ku itu sangat galak."
"Halah! Jangan sampai kau malah jatuh hati pada si anak baru ini. Kalau itu terjadi, aku akan langsung melapor pada Nancy!" ancam Jaemin sambil tertawa.
"Tidak akan mungkin. Aku duluan ya, sudah terlambat janji bertemu Nancy di kantin," sahut Jeno santai tanpa menoleh ke belakang.
🌷
Pintu rumah terbanting cukup keras saat Giselle menyerbu masuk dengan napas terengah namun wajah berseri-seri.
"Kak Renjun!" teriaknya mencari keberadaan sang kakak.
Renjun muncul dari arah dapur dengan segelas es teh di tangan, tampak terganggu. "Ada apa, Jijel? Kau berteriak seolah-olah baru saja memenangkan lotre."
Tanpa aba-aba, Giselle menghambur memeluk kakaknya, melompat-lompat kecil dengan kegirangan yang meluap. "Kakak! Aku harus cerita! Aku bertemu dengan 'pangeran' impianku di sekolah!"
Renjun hanya menaikkan satu alisnya, ekspresinya datar. "Siapa? Jeno?"
Pelukan Giselle mengendur. Ia menatap kakaknya dengan mata membulat. "Ih, kok Kakak tahu? Kakak punya indra keenam ya?"
Namun, keceriaan itu tidak menular. Ekspresi Renjun berubah serius, bahkan cenderung tegang. Ia melepaskan pelukan Giselle dan menatap adiknya lekat-lekat. "Dengar, Giselle. Sebaiknya kau jaga jarak darinya. Dia sudah punya kekasih."
Dunia Giselle seolah runtuh seketika. "Tahu dari mana, Kak? Jangan asal bicara!" rengeknya tidak terima.
"Aku tahu dari teman satu gengnya. Jeno sudah menjalin hubungan yang sangat serius dengan seorang gadis bernama Nancy. Mereka sudah bersama sejak lama." Renjun menjelaskan dengan nada tegas, seolah sedang memberikan peringatan keras. "Jadi, hapus angan-anganmu dan cari orang lain, Jijel."
"Tidak asyik! Kakak bukannya mendukungku, malah menghancurkan harapanku!" Giselle mengentakkan kaki, matanya mulai berkaca-kaca karena kecewa.
"Aku hanya tidak ingin kau menjadi tokoh utama dalam drama yang menyakitkan di sekolah barumu nanti," balas Renjun tenang namun menusuk.
Tanpa kata, Giselle berjalan gontai menuju kamarnya. "Giselle mau tidur!"
Renjun hanya bisa menggelengkan kepala melihat pintu kamar yang tertutup rapat. "Kalau lapar, panaskan makanan di dapur. Ibu sedang pergi belanja."
"Iya," sahut Giselle lirih dari dalam kamar. Ia merebahkan diri di atas kasur, menatap langit-langit kamar dengan perasaan yang campur aduk. Pertemuan manis yang ia kira adalah awal dari takdir indah, ternyata hanyalah sebuah prolog dari sebuah patah hati yang belum sempat dimulai.