3. Bad faith

12 2 0
                                    

"This ain't the right time for you to fall in love with me"


Sarasvati jengah luar biasa. Di tatapnya sepasang manusia yang dengan sengaja menghalangi jalannya kini dengan sengit. Ia sedang dalam fase PMS dan akan sangat bijak apabila orang-orang sialan ini segera enyah dari hadapannya. Ini bukan perihal Sara yang merasa cemburu melihat jemari lentik Shera mengusap manja lengan Nanta tapi lebih kepada rasa muaknya mendapati kedua manusia yang tanpa tahu malu berani muncul dihadapannya.

"Get out of my way."

"Oh, mantan. Buru-buru banget. Nggak mau duduk dulu ngopi bareng? Macchiato and palm sugar latte are still your favorites, right?"

"Yuk, gabung aja. Gue nggak keberatan kok socialize sama bekasnya partner gue."

Menarik napas panjang lantas Sara menghelanya dengan cepat. Pada kondisi normalnya saja ia bukan penyabar apalagi dalam keadaannya saat ini. Kepala yang terasa berat, nyeri pada punggung bawah dan sedikit pada perut juga mood yang tidak bisa dikatakan baik. Maka sebelum memancing keributan, Sara memutuskan untuk berbalik. Ada pintu samping café ini yang bisa ia gunakan jika kedua manusia itu tidak mau enyah dari hadapannya.

Tapi niatan bijak Sara sepertinya tidak mendapat dukungan dari Nanta yang kini menahan lengannya. Demi Tuhan, mereka berdiri di pintu keluar café yang mana untungnya tidak ramai dari lalu-lalang pengunjung. Tapi tetap saja, sedikit keributan akan membuat mereka menjadi tontonan dan Sara bukan tipe perempuan yang gemar akan sensasi. Menggeram, Sara lantas menghempaskan tangan Nanta dari lengannya. Nggak sudi dipegang sama bakteri. Ia bersumpah akan melakukan ekstra sanitasi sepulangnya nanti.

Matanya menatap tajam pada laki-laki itu lantas berucap, "Gue nggak punya urusan sama kalian."

"Tapi gue punya, Saras." Kata Nanta dengan wajah penuh keseriusan.

Mengingatkan Sara pada Nanta yang selama ini menjadi pujaan hatinya. Nanta si laki-laki sopan dan baik hati yang menjeratnya dengan pesona pada pandangan pertama. Bukan Nanta dengan seringai iblis yang akhir-akhir ini membawa Shera kemana-mana bersamanya dan membuat Sara muak. Bukan Nanta si kurang ajar yang dengan sialannya meninggalkan Sara di Kaffeine tempo hari. Bukan juga Nanta si brengsek yang mematahkan hati Sara tanpa belas kasihan. Baru Sara ketahui bahwa laki-laki dihadapannya ini bermuka dua atau bahkan lebih. Literally muka malaikat kelakuan setan.

"We need to talk, Sarasvati." Kata Nanta sekali lagi.

"Gue kira urusan kita sudah kelar, Kak Nanta. I'm trying my best to behave, don't try me." Sahut Sara yang sekali lagi berusaha pergi.

Tatapan mencemooh yang Shera tujukan padanya cukup membuat Sara geram. Perempuan itu, yang memang sejak lama menaruh tatap benci padanya kini merasa di atas awan. Sara benar-benar benci. Demi Tuhan ia akan membalas semua kesakitan ini.

"Kita cuman butuh waktu lo 5 menit, Saras. Lagian, silaturahmi sama mantan nggak ada salahnya 'kan. Kecuali, you're afraid it could mess up your move on progress." Shera akhirnya membuka suara masih dengan seringai mencemooh di wajahnya dan gerak tubuh centil yang membuat Sara ingin melemparkan kitab anatomi tepat di wajahnya. You bitch, Sara mengeram dalam hati. Tapi dia cantik. Sialan. Anjing.

"What about?" Sara memutuskan mengalah bukan karena ia tidak ingin melawan dengan konfrontasi tapi sekali lagi, Sara benci sensasi. Dan dengan mengalah akan membuat kedua manusia sialan itu segera enyah dari hadapannya.

Nanta menggeser posisinya –tentu saja dengan menarik serta tangan Shera—menuju sisi samping pintu keluar sehingga mau tidak mau Sara mengikutinya.

"Beneran nggak mau duduk aja? Bills on me, kok." Kata Nanta sekali lagi tapi Sara buru-buru memberi tatapan yang memaksanya agar cepat bicara.

AscendancyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang