Suara derap langkah menderu di segala penjuru apartemen. Suaranya menjurus ke salah satu ruangan setelah mendengar tangis keras dari ruangan tersebut. Langsung saja kelima orang itu mencecar salah satu pemuda yang menyebabkan kericuhan.
"Myeongho-ya! Kenapa?!"
"Myeongho-hyung, kenapa kau menangis?"
"Ya! Ada apa?"
"Apakah kau baik-baik saja hyung?"
"Apa yang terjadi?"
Wajah cemas menghiasi seluruh permukaan wajah mereka. Khawatir, karena sebelumnya Myeongho tidak pernah menangis tersedu-sedu seperti itu.
"Myeongho-ya~ kenapaaa" Tanya Dokyeom sembari memeluk temannya berharap memberikan ketenangan untuk Myeongho.
"P-papa Mamaku..." Jawab Myeongho tersedu-sedu.
"Ada apa dengan orang tuamu?” tanya Jeonghan
" Mereka tiada hyungg" Serunya dengan tangis yang lebih keras.
Semua yang berada dalam kamar itu terkejut bukan main. Tidak menyangka kabar ini akan hampir di salah satu member seventeen.
"T-tapi bagaimana bisa hyung? Buk-"
"Seungkwan-ah." Seru Jeonghan dengan gelengan kepala.
Sunyi menerka ruangan itu. Hanya ada suara tangisan Myeongho. Yang lain tidak bersuara hanya memeluk Myeongho erat-erat untuk memberikan ketenangan.
°°°
"HAH?! APA MAKSUTMU YOON JEONGHAN?"
"Bisakah kau lebih tenang, seungcheol-ah? Tolong beritahu manajer-nim dan anak anak lainnya. Aku harus menenangkan semua orang disini."
"Baiklah, akan aku urus"
S. Coups menutup telepon dari Jeonghan. Kabar ini cukup membuatnya terkejut dan terpukul. Tetapi ia harus tenang dan tidak gegabah. Segera ia mengumpulkan para member dan memberi tahu berita tersebut. Seperti dugaan S. Coups, reaksi member lain sama-sama terkejut. Ada yang langsung lari menuju lantai bawah untuk menghampiri Myeongho, ada yang langsung menangis dan ada juga yang terdiam tidak bisa berkata-kata.
"Segera menuju ke lantai bawah, temani Myeongho dan tenangkan dia, bilang ke Jeonghan bahwa aku akan ke agensi karena Manajer hyung tidak bisa aku hubungi" Titah S. Coups sembari bersiap dan berjalan meninggalkan dorm.
Member yang masih tersisa segera menuju ke kamar Myeongho dan menenangkannya.
°°°
Sesampainya di agensi, S. Coups langsung mencari manajer seventeen. S. Coups marah, bagaimana bisa manajernya ini tidak bisa dihubungi padahal ada hal mendadak. Ia berputar mengelilingi agensi, bertanya-tanya kepada staff lain keberadaan manajer seventeen namun nihil hasilnya, tidak ada yang tahu dimana mereka.
S. Coups sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Air mata yang ditahannya sudah menetes deras. Ia terduduk di lorong gedung dan menumpahkan segala emosi yang ia tahan.
"Seungcheol-ssi kau mencari kami? Mengapa kau menangis? Ada masalah? "
Akhirnya yang dicari ketemu. Segera S. Coups berdiri dan menceritakannya.
"KAU KEMANA SAJA HYUNG? ORANG TUA MYEONGHO MENINGGAL DAN KALIAN TIDAK BISA KU HUBUNGI SAMA SEKALI. SATU JAM AKU MENCARI KALIAN SEMUANYA TAPI TAK ADA YANG TAHU DIMANA KALIAN!" Teriak S. Coups dengan amarah yang memuncak
"Seungcheol-ssi sebentar apa katamu?” tanya Woyoung memastikan.
"Orang tua Myeongho. Mereka meninggal Hyung" Jawabnya dengan berderai air mata.
"Bagaimana bisa?"
"Mereka kecelakaan Hyung, mobil yang ditumpangi tertabrak oleh truk dan berakhir jatuh ke jurang. Dan kalian... Kenapa kalian tidak bisa aku hubungi?!" Isaknya
"Seungcheol-ssi, tenangkan dirimu dahulu, aku akan segera memberitahukan agensi dan atasan. Maafkan kami, sebelumnya kami sedang ada rapat tertutup dengan CEO dan ia melarang siapapun menggunakan ponsel" Jelas Woyoung
"A-aku kasihan dengan Myeongho hyung, tatapannya kosong dan..."
S. Coups tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Sedangkan sang Manajer segera memberi kabar kepada agensi tentang apa yang terjadi.
"Ayo bangun Seungcheol-ah, kita harus segera berangkat ke China" Ujar Woyoung setelah mengurus semuanya.
°°°
Isak tangis Myeongho terdengar sangat pilu saat sampai di rumah duka tempat orang tuanya disemayamkan. Para member juga ikut meneteskan air mata dan seketika suasana rumah duka menjadi hening, hanya terdengar suara Myeongho memanggil nama orang tuanya.
"Mama. Papa. Ayo bangun. Kenapa kalian tidur disini? Aku sudah pulang. Ini kan yang kalian tunggu? Bukankah kalian berjanji akan berlibur bersama?"
Myeongho berharap ini hanyalah candaan, ia masih mengira ini hanyalah mimpi dan ayah ibunya akan bangun dan memeluknya kembali. Tidak ada hentinya ia memanggil dan menggoncangkan tubuh kaku orang tuanya. Tetapi tetap saja, hanya raga yang ada disana.
"Hao, sudahlah biarkan mereka tenang disana" Ucap kakak sepupu Myeongho berusaha menenangkannya.
"TIDAK! MEREKA MASIH HIDUP GE! APA YANG KAU KATAKAN!" Bentak Myeongho mengelak saudara sepupunya.
Myeongho melanjutkan kegiatannya membangunkan orang tuanya kembali hingga pada akhirnya tubuhnya jatuh lemas dan kehilangan kesadarannya. Keluarga dan juga member yang ada di rumah duka terkejut.
"Myeongho-ya!" Teriak Jeonghan.
"Hao-a! Bangunlah." Ujar Salah satu Sepupu
Myeongho dibawa ke ruang istirahat disebelah ruangan orang tuanya disemayamkan. Ia terlalu lelah menangis sehingga tubuhnya lemas dan tidak bertenaga.
"Aku titipkan pada kalian dulu ya, aku harus menyapa para pelayat, mereka mulai berdatangan" Ucap kakak sepupu myeongho kepada Jun.
"Baik ge. Tidak apa-apa. Kami akan menjaganya" Jawab Jun.
Para member menatap Myeongho dengan nanar. Tubuh kurusnya semakin terlihat tidak karuan. Myeongho tidak makan tidak minum tidak membersihkan dirinya sejak ia mendapat kabar tentang orang tuanya hingga sampai ke rumah duka.
"Myeongho-ya, ayo bangun."
Jeonghan duduk disamping Myeongho dan memegang tangannya, Seungkwan juga disebelahnya sambil terus menghapus air matanya. Member lain duduk tak jauh dari Myeongho. Beberapa masih menangis dan ada juga yang menenangkan satu sama lain.
Beberapa saat kemudian terdengar desahan kecil dari Myeongho. Ia telah sadar.
"Eisa! Kau sudah bangun?" Loncat Jeonghan
"Apa yang kau butuhkah. Minumlah dulu" Ujar Joshua sembari menyodorkan botol air mineral kepada Jeonghan.
Segera Jeonghan membantu Myeongho bangun dan minum. Setelah minum, Myeongho menatap kosong kedepan. Memikirkan apa yang sedang terjadi. Hingga beberapa saat ia baru menyadari situasi yang terjadi. Tangisnya kembali pecah. Jeonghan segera memeluk Myeongho kembali menyalurkan rasa hangat dan nyaman yang diharap bisa menenangkan hati Myeongho.
"Hyung.. Mereka benar-benar pergi ya?” isaknya.
" Ya Eisa, mereka memang sudah tiada. Tetapi kau tidak boleh seperti ini. Mereka akan sedih melihat kau seperti ini. Mari tenangkan dirimu terlebih dulu ya" Ujar Jeonghan sembari mengelus kepala Myeongho menenangkannya.
"Tapi kenapa secepat ini hyung? Sekarang aku tidak punya siapapun. Aku sendirian Hyung." Lanjutnya terisak.
"Kau masih ada keluargamu hao. Jangan lupa juga kau masih ada kami. Kami akan selalu bersamamu" Timpal Jun.
Myeongho kembali terisak didekapan Jeonghan. Ia masih tidak percaya akan apa yang terjadi. Tetapi kenyataan harus diterima. Realita bahwa dirinya ditinggalkan kedua orang tuanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
HOME (SEVENTEEN FAN FICTION)
Fanfic"Hyung, sebentar saja ya.. " "Eisa~jangan seperti itu! Kamu pasti bisa! " Aku ingin berpikir demikian, tetapi kenyataan selalu berbanding terbalik dengan keinginan. Apakah aku bisa bertahan? Apakah aku akan tetap di samping mereka? Aku takut. Discl...
