08

562 54 0
                                        

"Sampai jumpa lagi , jaga Alia baik baik ya Junghwan~" ah nenek nya itu tetap seperti anak anak walaupun umurnya sudah hampir berkepala 6

"Iya nek, iya" Kakek melirik ke arah Alia dan Junghwan.

Ia menyerahkan sebuah kotak merah ke pada Alia, Alia hanya mengernyitkan dahi nya bingung sambil menatap kakek.

"Ini buat kamu, karena kamu udah jadi istri Junghwan, kakek kasih kamu kalung turun temurun, kalung ini kakek kasih supaya hubungan kalian langgeng, gak ada sangkut paut nya sih tapi kakek harap kalian tetap bersama" nasehat sang kakek.

Alia tersenyum lebar lalu mengangguk dengan semangat, walaupun ia belum mencintai Junghwan tapi ia harap hubungan pernikahan nya akan selama-lamanya karena ia pun sudah merasa nyaman bersama Junghwan.

Junghwan melirik Alia, ada sinar harapan di mata Alia saat ia melihat kotak kalung tersebut, huft Junghwan merasa tidak enak karena selanjutnya ia akan berpisah dengan Alia bukan?

"Buat kamu, kakek harap kamu benar memilih Alia sebagai istri kamu, walaupun kakek selalu maksa kamu buat nikah bukan berarti kamu harus asal memilih istri. Namun kakek rasa kamu cukup bisa milih istri atau kamu udah kenal lama sama Alia? " tanya kakek

"Udah lumayan kek" jawab Junghwan tenang.

Kakek diam diam tersenyum mengejek melihat tingkah cucu nya yang sangat tenang saat ini.

"Kakek sudah merasa cocok dengan Alia, kakek harap kamu gak mikir macem macem, apalagi sampai nyakitin perasaan Alia. Jangan pernah ninggalin dia, kalau tidak kamu tidak akan kakek anggap cucu kakek" Junghwan membelalakan matanya mendengar ucapan kakek.

Di lihat dari cara dan gaya bicara nya sudah jelas bahwa kakeknya ini sedang serius bahkan ancaman tadi sedikit terdengar menyeramkan di telinga Junghwan.

"Kamu tau kan rasanya kehilangan? Kakek mau Alia juga tidak merasakan nya Junghwan" tekan sang kakek sebelum sang nenek meneriaki nya untuk cepat masuk ke dalam bandara.

"Kakek bisa percaya sama Junghwan" ucap Junghwan serius

"Kakek pegang ucapan kamu"

...

Junghwan membaringkan tubuh nya di atas kasur king size nya dengan pikiran yang menerawang entah kemana.

Sudah tiga minggu ia hidup bersama Alia, ia rasa sudah cukup membuat kebohongan di sekitar nya, bukankah semakin banyak kebohongan akan semakin menyakiti perasaan Alia?

Namun saat melihat binar bahagia Alia di bandara tadi membuat Junghwan merasa bersalah namun tak ingin mengakhiri hubungan nya ini.

Junghwan rasa ia sama sekali tidak memiliki perasaan kepada Alia tapi ia merasa bahwa ia sudah merasa nyaman dengan Alia.

Lain dengan Junghwan Alia sekarang duduk di meja rias sambil tersenyum lebar menatap kalung yang terpasang cantik di lehernya, ia tak bisa untuk tak bahagia hari ini.

Ia melirik ke arah Junghwan sebentar lalu kembali fokus menatap leher nya.

Junghwan yang sebentar lagi akan memejamkan matanya harus kembali terbangun di saat suara ponsel nya terdengar, ia melihat sebuah panggilan dari teman nya

"Halo"

"Halo bro"

"Tumben nelpon, ada apa nih? " tanya Junghwan penasaran.

"Gue ada urusan makanya gue balik, salah gue balik ke kampung halaman gue? "

"Ya enggak sih, tapi to the point bisa? "

"Lu emang gak berubah, gue mau ketemu sama lo besok malam bisa? Gue butuh lo dengan wawasan pertemanan lo yang luas itu"

"Dateng aja lo pas susah" kesal Junghwan namun tetap mengiyakan permintaan sang Sahabat

"Sekalian lah Wan kita ngumpul bareng, gue bareng sama Bang Ji bakal dateng"

"Iya gue bakal dateng kok"

"Oke, untuk lokasi nya nanti gue chat lo"

"Oke"

"Yaudah gue tutup dulu, byee~"

Ttut

Junghwan mematikan telpon nya setelah sambungan terputus lalu kembali memejamkan matanya, cuaca siang ini sangat cerah, ia menatap langit dari arah balkon nya sangat menenangkan menatap langit biru dan awan putih di atas sana.

Tiba tiba, ia teringat dengan orang tuanya, apa kabar mereka, apakah mereka sudah tenang, atau mereka sekarang sedang memperhatikan Junghwan? Junghwan hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk orang tua nya yang sudah lebih dulu pulang ke hadapan Tuhan.

"Alia" Alia menoleh saat namanya di panggil.

"Saya tau ini akan menyakitkan, namun saya harap kamu tidak kecewa. Jadi seblum itu saya akan bilang, tolong jangan tinggalkan saya kecuali saya yang nyuruh" ucap Junghwan menoleh ke arah Alia yang menatap bingung ke arah nya.

"Maksud kamu apa? " tanya nya

"Nanti, saya akan berfikir sebentar, nanti saat saya sudah siap saya akan bercerita dan saya pastikan itu akan secepatnya" Alia terus menatap Junghwan bingung namun tetap mengiyakan.

Junghwan harus mengambil langkah ini, ia tak mau terus ada kebohongan lagi, ia juga akan jujur dengan kakek nanti entah apapun resiko nya ia akan Terima setidaknya ia akan merasa tenang jika ia sudah jujur, karena Junghwan juga merasa gelisah sejak kakek dan nenek nya datang berkunjung beberapa hari yang lalu.

...

"Oh iya kek, kakek belum nyeritain apa maksud kakek malam itu" ucap sang nenek kepada kakek.

Mereka sudah keluar dari bandara dan sedang menuju rumah nya dengan supir pribadi mereka.

"Nenek akan kaget kalo kakek bilang sebenarnya Junghwan sama Alia belum resmi menikah"

"Apaan sih kek, masa nenek kaget cuma karena Junghwan sama Alia belum resmi menikah?...... HAH JUNGHWAN SAMA ALIA BELUM RESMI NIKAH? " Tanya nenek terkejut.

"Makanya sebenarnya kakek sedikit takut dengan kedua anak itu, kakek yakin setelah kita kembali kita bakal mendengar kabar kalo Alia dan Junghwan udah cerai padahal mereka belom nikah"

"Darimana kakek tau? " tanya nenek heran.

"Pak Joko"

"Pak Joko? "

"Gitu gitu Pak Joko lumayan pintar dan bisa di jadiin mata mata"  kakek tersenyum melihat wajah bingung nenek.

"Tapi kakek yakin, mereka bakal balik berdua lagi, karena kakek liat cucu kita udah ngerasa nyaman dengan Alia begitupun sebaliknya"

...

Fake Wife [SELESAI] //JunghwanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang