Happy Reading!
.
♡♡♡
*
*Setiap orang butuh waktu untuk berdamai dengan masa lalu. Ini bukan tentang perlombaan lari, siapa tercepat dia yang jadi pemenangnya.
Bukan.....bukan itu
Ini tentang konsistensi diri tentang penerimaan,menerima jika dirinya sakit, menerima jika dirinya belum sepenuhnya pulih. Tidak plinpan untuk mengambil keputusan terutama keputusan atas diri sendiri.
Konsisten bukan berarti stuck di dalam penerimaan diri saja, konsisten harus dibarengi dengan ritme usaha yang teratur dan tertata. Usaha untuk bangkit, usaha untuk menyembuhkan lebam dan sayatan-sayatan tak kasat mata. Tidak perlu tergesa.
Karena setiap orang punya masa untuk kembali pulih seperti sedia kala.
Mengenyahkan ketakutan tentunya tidak gampang, apalagi ketakutan itu merupakan anak yang lahir dari perlakuan-perlakuan kurang mengenakan.
Luka fisik dan luka batin
Luka fisik gampang sembuhnya namun apakah luka batin jauh lebih gampang?Luka fisik itu nyata, terlihat jelas, orang lain bisa langsung mengambil tindakan untuk melakukan pertolongan.
Tapi untuk luka batin? Luka itu tidak akan nampak kecuali orang itu memperlihatkanya.
Sayangnya kebanyakan orang cenderung memilih menyembunyikanya. Menutup ruam jiwanya dalam-dalam, semuanya seolah sempurna tanpa cela.
Membuat snap yang isinya meyakinkan orang lain bahwa dirinya seorang yang kuat. Sesorang yang terlihat bahagia, menunjukan pribadi yang mandiri dan tahan banting.
Faktanya
Itu sebuah pembohongan, seandainya ada penerjemah yang mampu mencerna isi hati mereka.
Kebahagiaan yang mereka tunjukan hanya sebuah dusta
Nyatanya, mereka butuh support system untuk menguatkan, mereka bukan pribadi yang mandiri, yang bisa apa-apa sendiri, bukan itu yang mereka maksud. Mereka butuh sesorang yang mau merangkulnya ketika langkahnya mulai tidak seimbang, membantu mereka berdiri ketika jatuh, dan menggenggam tanganya ketika mereka berjalan sendirian. Ya, itu teriakan-terikan mereka yang terpendam, teriakan tak bersuara tapi terdengar sangat keras bagi orang-orang yang mampu memahami rasanya jadi mereka.
Yang harus dilakukan bukan menghamkimi, tapi menyemangati, bukan menjatuhkan dengan ucapan yang dilontarkan tanpa pemikiran jangka panjang.
"Yah cuman dikatain gitu aja lo nangis? Lemah banget jadi orang."
"Yaelah dibawa santai aja kalik, gitu aja baperan, kayak gitu mah nggak usah dipikirin, lebay banget."
"Gue yang dapat perlakuan lebih dari itu aja biasa-biasa aja tuh! Lo nya yang baperan"
Kalimat-kalimat itu adalah Salah satu alasan yang membuat Wilna lebih memilih memendam apa yang ia rasakan.
Meskipun hatinya bersorak untuk mengutarakan keresahan tapi otaknya masih setia menjaga kewarasan. Setidaknya untuk saat ini lebih baik memendam semua sendiri untuk mengantisipasi.
Agar ia tidak salah memilih telinga lagi
"Yakin belum mau cerita?" Tanya Dira yang terdengar pelan.

ČTEŠ
KAMPANA [ ON GOING ]
Werewolf1.Curcuma domestic "Kue cucur?" 2.Hibiscus rosa-sinensis, "Rosa Kumenangis kah?" 3.Impatien Balsamina "Patien? Pasien kah?" Woy maksud lo apa! Jangan pake bahasa alien dong! Gue kagak ngerti! Kampret! Beribu umpatan rasanya ingin Wilna keluarkan u...