Ups! Tento obrázek porušuje naše pokyny k obsahu. Před publikováním ho, prosím, buď odstraň, nebo nahraď jiným.
•
•
•
_________
◇
"SETAN!"
Suara Dira menggelegar memenuhi ruang kelas. Ia memanggil Qiya yang sedang sibuk dengan novelnya dengan sebutan 'setan', laknat memang, tidak untuk ditiru.
Qiya menatap lurus ke arah pintu masuk kelas, ada Dira disana. "Ngagetin aja lo dedemit!"
"Enak aja pake ngatain gue dedemit, ngaca lo mak lampir!" Ucap Dira seraya berjalan menuju bangku miliknya.
Tempat duduk Dira depan belakang dengan Qiya, ia memutar kursinya lalu duduk berhadapan dengan temanya yang sedang sibuk berhalu ria dengan para karakter fiksi. Entah sudah berapa banyak cerita yang temanya baca.
"Sundel bolong mana?" tanya Qiya, pasalnya Dira ke kantin bersama Wilna tadi.
"WOY!"
Mereka menengok ke arah pintu masuk kelas, siswi ber-name-tag Wilna memasuki kelas dengan raut jengkel. Penampilanya rapi, wajahnya terlihat manis dan cantik, Wilna memiliki bulu mata lentik, bibir ranum, hidung mancung juga alis yang tidak terlalu tebal tidak juga tipis.
Rambut miliknya ia cepol asal, alasanya selalu gerah dan terlalu feminim kalo ia gerai. Oh iya jangan lupakan sifatnya yang satu ini, suka ngegas, tapi jangan salah, aura kecerianya selalu menjadi sumber kebahagiaan untuk sahabatnya.
"Dasar ya kalian berdua, gue cari kemana-mana malah ngumpet dikelas!"
"Maap bestie, lagian lu kelamaan dikantin!"
"Yaelah gue lama juga gegara pesanan kalian berdua, nih!" Ucap Wilna seraya menyodorkan beberapa cemilan dan minuman dingin yang disambut baik oleh kedua temanya.
"Bunda kita yang satu ini emang paling the best deh! Sini cium dulu!"
"Dira Jauh-jauh sana, takut gue lama- lama sama lo" ucap Wilna, ia menoyor kepala Dira. Sedangakan empunya malah nyengir tanpa dosa.
"Ini geratis kan?" Celetuk cewek yang dari tadi sibuk dengan novelnya, ia mencomot snack pesananya tadi.
"Enak aja main geratisan, bayar!" Sembur Wilna seraya merebut kembali snack tersebut.
"Yaelah buk, jangan perhitungan kaya gitu napa! Sekali kali berbagi dong! ujar Dira.
"Bener tu kata Dira, berbagi kan dapat pahala" ucap Qiya seraya tersenyum manis ala- ala bu ustadzah.
"Kalo temenya tau diri ma gue fine-fine aja, traktir satu dua kali sabi lah. Lah lo berdua"-Wilna menunjuk Dira dan Qiya bergantian-"jangankan tau diri? tau malu aja kagak, maunya geratisan mulu!" Sembur Wilna seraya memutar bola matanya jengah.