🌺 Bab.6 🌺
"Aku melihat banyak badan tanpa kepala, banyak kepala yang melayang," racau Adam, menatap gelisah sekeliling. Sepertinya perahu mereka tidak jauh dari tempat yang tadi.
"Tenanglah! Jelaskan dulu kau ini siapa? Kenapa sampai ada di sini?" tanya si gadis penolong.
Byuuur!
Tiba-tiba sebuah kepala menyembul keluar dari dalam air. Tepat di samping perahu.
Serempak mereka berdua menoleh. Si gadis penolong gegas berdiri siaga. Adam membeliak menyaksikan kepala basah kuyup itu mengibas kuat rambutnya yang gimbaln Air seketika bercipratan ke dalam perahu juga ke wajah Adam.
"Huwaaahh!!!" Terlanjur trauma kontan Adam menjerit, melihat kepala gimbal itu mendekat ke sisi perahu. Ulahnya membuat badan perahu kecil berguncang tak seimbang.
"Berhentilah bergerak, kau bisa membuat jukung ini terbalik!" bentak gadis penolong gusar. Mata yang bulat fokus pada sesuatu yang sedang dilemparkan si kepala gimbal ke arahnya.
"Hup!" Gesit gadis itu menangkap. Tubuh langsingnya sedikit terhuyung menahan benda yang terlihat cukup berat.
"Harusnya tak perlu kau lempar begini! Kebiasaan! Kau hampir membuatku jatuh!" omel si gadis.
Si Kepala Gimbal menyibak kasar rambut sebahunya yang menutupi mata. Tampaklah wajah yang masih belia.
"Eugh!" Bocah lelaki itu mendengkus kesal pada Adam. Kening tebalnya menyatu. Dia lalu berenang ke pinggir sungai, melepaskan ikatan tali penambat perahu dari pokok pohon yang tumbuh di sana.
Ternyata dia punya tangan. Dia bukan hantu kepala. Adam menelan ludah, menyadari kebodohan sendiri. Seketika mulutnya bungkam, sembari mengatur napas yang tersengal.
"Apa itu punyaku?" tanya Adam ragu. Mata menyipit setengah percaya mengenali benda berbahan Polyester yang masih berada dalam pelukan si gadis. Hampir mustahil benda itu selamat.
"Hum." Gadis penolong mengangguk. "Sewaktu kau jatuh ke air, kami melihatmu memakai tas. Alung menyelam buat menemukan barangmu ini," terangnya meletakkan tas punggung itu ke tengah lantai perahu yang basah.
"Dia menyelam?" desis Adam terperangah. Dalam hati bersyukur tas berisi barang-barang penting bisa kembali.
"Alung sudah mahir menyelam. Itu bukan sesuatu yang sulit untuknya," tambah gadis itu lagi.
Adam tersenyum masygul mendengarnya. Orang yang susah payah membantu malah dikira hantu kepala. Tak salah jika sekarang bocah lelaki itu menatap tak suka pada Adam. Sementang rambut gimbal dikatai hantu.
"Hhh...." Tangan kanan Alung mengibas-ngibas. Sebuah isyarat pada Adam agar segera berpindah. Dia mau naik ke perahu.
"Kau duduk agak ke tengah! Alung tidak bisa membantuku mendayung kalau kau duduk di situ," titah gadis penolong, melihat Adam bengong.
"Baik." Adam dengan patuh bergeser ke tengah jukung. Tubuh Alung yang telanjang dada, melompat naik.
"Makasih ya, Dek," ujar Adam.
"Panggil dia Alung saja! Alung tidak bisa ngomong, tapi pendengarannya normal. Alung paham apapun yang kau katakan," terang si gadis, tangannya mulai mengulurkan sampan ke dalam air, siap mengayuh jukung.
"Ooh." Adam mengangguk maklum. "Makasih, Alung," ucapnya lagi, berusaha memberikan senyum persahabatan pada bocah itu. Tapi, Alung tampak acuh, hanya menoleh sekilas.
"Kalau nama kamu?" Adam beralih pada gadis di belakangnya. Tubuh kurus berotot milik lelaki itu pelan berputar. Posisinya kini menghadap si gadis yang menurut Adam berparas sangat mirip Song Hye Kyo.
KAMU SEDANG MEMBACA
KABUT MERAYU
Mystery / ThrillerRibuan mil rela ditempuh demi sebuah panggilan tugas.
