08|Begal

698 113 22
                                        

                      •┈••✦ ⏳ ✦••┈•

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

                      •┈••✦ ⏳ ✦••┈•

Setelah menghabiskan beberapa jam di gym, Garvin pergi dan menetap disebuah Cafetaria. Sejak kejadian tempo lalu akhirnya Ditto berserta komplotannya sudah diringkus polisi karena menyala gunakan narkoba

Memang gila, tetapi itulah Ditto.

Ia memancarkan tatapan kebosanan melihat orang-orang sibuk berlalu lalang, cuti sekolah Garvin habiskan hanya digym dan mampir dicafetaria.

Garvin sedikit merengangkan otot-ototnya, suasana sudah cukup sepi mungkin karena sudah jam malam, ah! Dirinya sampai lupa waktu kalau sudah berada di gym.

Mengecek handphone tidak ada satupun notifikasi yang masuk, Garvin mengerutkan dahi sedikit merasa binggung kepada Brian yang tidak ada kabar sejak kejadian itu.

Mengenai Alfred, dia mengabari akan kembali ke Amerika serikat untuk mengurusi beberapa hal dan Galen yang sedang pengobatan.

Merasa sudah larut malam Garvin segera beranjak meninggalkan Cafetaria, menuju parkiran menyalakan motor ninja Kawazaki kesayangannya.

Awalnya memang baik-baik saja sampai Garvin merasa dua orang bermotor sedari tadi mengikutinya. Garvin melirik dikaca spion untuk memastikan siapa dua orang itu namun tidak dikenali sebab mereka menggunakan masker dan tudung Hoodie menutupinya.

Kembali melirik arjoli yang melingkari tangannya sudah menunjukkan pukul 23.30 malam, memang sudah sangat larut sebelum kemudian menambah kecepatan.

Motor ninja milik Garvin menungging akibat dua orang bermotor tadi tiba-tiba saja menghadang, sial padahal ia tidak mau berkelahi lagi. Tubuhnya masih terasa sakit akibat beberapa minggu lalu sejak kejadian itu.

Begal kah? Sialan, salahkan Garvin yang memilih melewati jalan pintas hanya karena ingin secepat mungkin pulang kerumah.

"Turun lo!" Ujar orang tersebut sembari menodongkan pisau kearah Garvin membuat ia mengangkat tangan lalu turun perlahan.

"Oke! Oke! Turunin dong pisaunya."

"Banyak bacot, cepet serahin semua barang milik lo!"

"Barang? Barang apasih bodoh,"
Dengan nekat Garvin langsung memukul wajah orang tersebut walau tangannya berhasil terkena goresan pisau.

"Sssh! Perih, perih!" Ringis Garvin ketika bahunya berhasil tergores cukup dalam.

Sekuat tenaga Garvin menendang kuat wajah begal itu, seolah tak mau memberi kesempatan untuk berdiri lagi Garvin kembali meninju secara membabi buta.

Melihat temannya dipukuli, orang yang sedari tadi hanya memperhatikan sembari duduk dimotor kini mengambil kayu entah dari mana, segera berlari memukul keras kepala Garvin.

Tiga kali pukulan dilayangkan berhasil membuat Garvin merasa kepalanya akan pecah sekarang, sakit sekali.

"Sini lo bangsat!" Dia menarik kerah jaket Garvin, meninju wajahnya. Merasa tak puas dia kembali memukul Garvin menggunakan kayu berulang-ulang kali mungkin enam sampai tujuh pukulan Garvin terima telak.

Memukul, meninju, menginjak orang itu lakukan sampai Garvin terkulai lemah diaspal dengan darah mengalir begitu deras dari kepala.

"Mati lo bajingan!"

"Udah woi! Berhenti! Gila lo ya?" Seorang laki-laki yang tadi dipukuli Garvin segera menghentikan aksi temannya yang ingin menancapkan pisau pada Garvin.

"Gila, kalau dia mati gimana?"

"Kayaknya emang udah mati nih bocah." Orang tersebut menginjak kepala Garvin yang sudah tak bergerak sama sekali.

"Udah-udah ambil barang berharga dia terus cabut!"

Mereka mengeledah tubuh Garvin tetapi hanya menemukan Handphone.

"Gembel banget masa cuma punya handphone doang!"

Malang sekali nasib handphone Garvin yang baru saja dibeli karena rusak beberapa minggu lalu kini sudah dicolong.

Pergerakan mereka menjadi terhenti dan rencana mengambil motor Garvin gagal karena teriakan seseorang secara tiba-tiba.

"Begal! Tolong, ada begal!" Teriak seseorang dari kejauhan membuat keduanya segera mungkin pergi sebelum diamuk warga.

Tap! Tap! Tap!

"Dek! Dek! Bangun! Dek!"

Kelopak mata perlahan terbuka menampilkan iris hitam legam disana

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kelopak mata perlahan terbuka menampilkan iris hitam legam disana. Maniknya bergulir liar memerhatikan sekeliling sebelum setelahnya suara seseorang mengintrupsi.

"Apes banget ya hidup." Garvin samar-samar mendengar suara seseorang, maniknya bergulir mencari sumber suara. Disana Galen sedang duduk disebuah sofa sembari memainkan handphone.

Garvin hanya diam sama sekali tidak berniat membalas cibiran Galen, ringisan keluar dari bibirnya ketika merasakan sakit mulai menjalar dari kepala dan tubuhnya seakan remuk. Tenggorakan Garvin juga sakit namun terlalu malas meminta segelas air pada Galen.

Galen berdiri, beranjak menghampiri
brangkar Garvin lalu kemudian menunjukkan layar handphone kewajah Garvin yang sedang termenung.

"Nih.." Garvin memerhatikan layar handphone, membaca setiap tulisan-tulisan didalam sana lalu kemudian menjauhkan layar handphone yang terlalu dekat wajahnya.

"Tahu ini darimana?" Tanya Garvin dengan suara serak juga lirih.

"Kak Jafar suruh nyampein ke lo, tugas Osis juga masih banyak yang harus diurus."

Garvin memang jenius, tidak heran dia langsung terpilih menjadi ketua Osis mengantikan anak kelas dua belas yang akan lulus terlebih lagi pemuda itu tidak suka hal-hal yang melelahkan. Berbeda dengan Garvin, Galen lebih ahli dibidang olahraga dari pada dibidang akademik seperti Garvin. Bukan bodoh, hanya saja Garvin lebih sedikit jenius dibanding dirinya.

Secara tiba-tiba pintu ruang inap terbuka mengalihkan antensi mereka berdua, Ellard dan Felicianne memasuki ruang inap lalu menghampiri brangkar milik Garvin.

"Gimana masih ada yang sakit?" Felicianne mengelus surai hitam milik Garvin, ia hanya mengangguk sebagai balasan, memejamkan mata menikmati tangan Felicianne yang benar-benar lembut.

"Kamu mau kemana, Len?" Ellard bertanya pada Galen yang terlihat kaki jenjangnya ingin beranjak pergi.

Galen berbalik menatap Ellard juga Felicianne, "Galen mau duluan, ada keperluan lain."

Sebelum Galen kembali menarik langkah Felicianne menghentikan dengan berkata,"Galen, This time it's not about basketball, all right?

Galen mengangguk, sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum tipis disana, "Of course I understand, Bun." Setelah berkata seperti itu Galen sepenuhnya menghilang dibalik pintu.

Two brotherCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang