End

333 35 13
                                        


"Jim, a..aku ingin menyerah," kata taehyung secara tiba tiba.

"Kau ingin menyerah? Lantas bagaimana dengan usaha yang kau Bagun selama ini?! Aku tidak mempunyai teman yang mudah putus asa seperti ini. Dimana taehyung yang aku kenal?!" Nada bicara Jimin meninggi. Dia terlampau kaget dan juga emosi ketika taehyung bilang kalau dia 'ingin menyerah'.

Taehyung tertegun ketika Jimin berbicara dengan nada tinggi seperti itu. Karna baru pertama kalinya taehyung mendengar Jimin berbicara dengan nada tinggi.

"Mianhae," sesal nya.

"Kau tidak perlu minta maaf, tae. Seharusnya yang minta maaf itu aku. Maaf sudah berbicara dengan nada tinggi. Tapi aku harap kau tidak menyerah dan tetap melanjutkan apa yang menjadi impianmu." kata Jimin sambil menatap wajah taehyung.

Jimin dan taehyung masuk ke dalam studio milik hoseok dan juga yoongi. Yoongi dan hoseok senang,ahirnya orang yang mereka tunggu telah sampai.

Hoseok menuntun Jimin untuk ikut berlatih dance bersama dengan dirinya. Sementara taehyung. Dia ikut dengan yoongi untuk pergi melatih kemampuan vocalnya. Jimin dan taehyung. Mereka sangat cepat dalam menguasai apa yang telah mereka pelajari. Dan ini membuat hoseok dan yoongi sangat senang melatih mereka.  Latihan pun telah usai. Yoongi mengajak taehyung,Jimin, dan juga hoseok untuk pergi makan malam.

dicafe. mereka berbincang bincang mengenai latihan mereka hari ini. Tanpa disadari, seseorang yang berada tak jauh dari mereka mendengarkan perkataan demi perkataan yang mereka lontarkan.

-
-

Malam ini rasanya nya sangat sepi seperti biasanya. Tidak ada perubahan apapun seperti malam malam sebelumnya.

Langit malam ini cukup terlihat gelap dari biasanya. Hanya ada beberapa bintang yang bersinar di atas sana.

Taehyung mempercepat langkah kakinya agar dia cepat sampai di rumah, sebelum dia ketahuan oleh orang tuanya. Taehyung mengatur nafasnya yang memburu karena berlari. Taehyung membuka pintu rumahnya dengan sangat pelan. Dia berharap orang tuanya sudah berada dikamar seperti biasa ya. "Kau dari mana?" Tanya seseorang yang berada di sofa ruang tamu. Taehyung bingung harus menjawab apa. Jika dia menjawab jujur, pasti dia akan terkena marah oleh orang tuanya.

"Aku pergi ke rumah Jimin untuk belajar," Kata taehyung dengan gugup.

"Belajar katamu? Belajar bernyanyi begitu?! Kau tidak bisa mengelak Kim. Appa melihat mu, jimin, yoongi dan satu namja lainnya tengah membicarakan latihan bernyanyi di restoran tadi."

Taehyung tidak bisa mengelak lagi, karena yang dikatakan ayah nya itu memang benar. Tapi taehyung bukan anak anak yang harus selalu dituntut dan di awasi seperti ini.

"Kalau aku berlatih memangnya kenapa? Apakah Appa dan eomma akan marah?"

Plak!

Seokjin menampar keras pipi mulus milik taehyung. Seokjin semakin geram dengan anak ya yang sudah mulai membangkang dan sudah tidak bisa di atur seperti dulu lagi.

"Kau tau, Tae? Eomma dan appa selalu mengharapkan mu untuk menjadi contoh yang baik untuk adikmu. Eomma dan appa tidak suka kau menjadi penyanyi seperti keinginan mu. Kau ini anak pertama dalam keluarga ini. Kau harus mampu menggantikan peran kami suatu saat nanti. Dan jangan lupa, kau juga harus mengurus perusahaan appa mu kelak. Kami harap setelah ini kau turuti kami, dan tinggalkan cita citamu yang tidak berguna itu." Kata jieun pada anaknya. Ji-eun berusaha meminta pengertian pada taehyung. Karena yang ji-eun dan suaminya lakukan selama ini memang untuk kebaikan tarhyung. Tapi berbanding balik dengan taehyung. Taehyung mengaggap jika yang di lakukan oleh orang tuanya selama ini bukan lah hal baik untuk dirinya. Taehyung sangat lelah memenuhi segala ekspektasi dari keluarganya.

"appa, eomma. Kenapa kalian selalu membeda bedakan aku dengan adik ku?"

"Kenapa? Kau tidak suka? Eomma harus bilang berapa kali lagi, untuk menjawab pertanyaan mu ini?"

"Eomma, apa tidak ada hal yang lain selain itu?"

"Tidak ada. Kau ini anak paling tua di sini. Kau harus bisa menjadi contoh yang baik untuk adikmu. Kau juga tidak boleh membantah perkataan kami. Tolong jadi lah kakak yang baik untuk adikmu. Dan turuti apa yang kami perintah kan," ucap sang ibu.

Pemuda itu membuang nafasnya pelan, sebelum ia berucap beberapa kalimat pada ibu nya.

"Eomma, jika aku pergi, apa eomma akan merasa kehilangan ku?" Pertanyaan itu sontak membuat pasangan suami istri yang berada di ruangan itu hanya diam membeku. Pasangan itu hanya diam tanpa ada niat sedikit pun untuk membalas pertanyaan anaknya. Mereka memilih pergi meninggalkan ruangan itu menuju ke kamarnya.

Setelah kepergian orang tuanya. Pemuda itu jatuh terduduk. Pandangan nya melihat lurus kedepan.

"Apa keadaan akan berubah jika aku bertahan? Tapi aku benar benar sudah lelah sekarang."

Sudah cukup lama dia berdiam diri di sana. Taehyung memutuskan untuk pergi ke kamarnya. Taehyung mengunci pintu kamarnya, dia tidak ingin siapapun menggangunya. Dikamar. Taehyung melempar keras gelas dan barang yang berada di kamarnya.

Jungkook yang tidak sengaja lewat di depan kamar taehyung, mendengar taehyung seperti sedang membanting sesuatu di dalam kamar. Jungkook lantas berusaha membuka pintu kamar taehyung. Namun pintu itu dikunci. Jungkook menggedor bahkan memanggil taehyung beberapa kali, namun Jungkook tidak mendapatkan hasil apapun.

Ji-eun dan seokjin yang mendengar gedoran dan teriakan dari Jungkook pun lantas menghampiri anaknya.

"Kookie ada apa?" Tanya orang tuanya khawatir.

"Apa kalian dengar? Taehyunggie Hyung sepertinya memecahkan barang barang yang ada di kamarnya."

Setelah mendengar penuturan Jungkook. Seokjin langsung berusaha untuk mendobrak pintu kamar taehyung. Seokjin terus menerus berusaha mendobrak Pintu kamar taehyung, namun belum membuah kan hasil apapun.

Sementaara didalam kamar, taehyung hanya bisa menangis.

"kenapa harus aku? Aku lelah. kenapa appa tidak pernah menghargai usaha ku selama ini hiks..."

Taehyung memecahkan gelas yang berada di kamarnya. Taehyung mengambil pecahan tersebut. Lalu menggoreskan nya pada tangan nya. darah mulai bercucuran dari pergelangan tangan taehyung. Taehyung sama sekali tak memperdulikan itu. Ia benar benar sudah lelah menghadapi semua ini. Setelah berhasil menggores nadi dipergelangan tangannya. Taehyung pun mulai kehilangan kesadarannya. Dia sudah pasrah jika dia harus pergi dengan takdir seperti ini.

Seokjin berhasil membuka pintu kamar taehyung dengan kunci cadangan. Saat memasuki kamar Taehyung, dia dan yang lainnya mencium bau anyir. Kamar taehyung sangat kacau, pecahan kaca berserakan dimana mana. Mereka masi menyelusuri keberadaan taehyung. Jungkook melihat taehyung sedang bersandar dilantai samping ranjang milik taehyung. Jungkook melangkahkan kakinya menghampiri taehyung. Betapa terkejutnya Jungkook melihat keadaan hyung nya.

"Eomma, appa! Tae hyung ada disebelah sini."

Ji-eun dan juga seokjin menghampiri Jungkook. Betapa terkejutnya mereka melihat keadaan sang putra.

Jiuen memeluk erat tubuh taehyung. Seokjin menangis di samping Jungkook sambil berusaha menemukan sang anak.

Jieun dan seokjin merasa bersalah pada taehyung . Mereka merasa gagal menjadi orang tua yang baik untuk anak anak mereka . Hanya penyesalan lah yang akan terus menghantui mereka. Suara Isak tangis memenuhi kamar taehyung.




End

Terimakasih banyak untuk dukungannya selama ini.

Aku nggak dapet fell buat nyiksa taehyung. Jadi mungkin segini aja cerita yang bisa aku buat. Semoga suka.

What About Me Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang