Bagian 04

157 15 0
                                    

Hal 04| Penasaran

🍀🍀🍀

Enola duduk di gazebo, wajahnya tampak sedikit bosan. Pandangannya tertuju pada kolam ikan hias yang berada di bawah gazebo. Beberapa ekor ikan tampak sesekali muncul ke permukaan air, seolah-olah tahu ada seseorang yang akan memberi mereka makan.

Enola mengambil sebuah toples kecil berisi makanan ikan yang terletak di samping. Dengan gerakan malas namun tetap hati-hati, ia melemparkan sedikit demi sedikit makanan ikan ke dalam kolam. Seketika itu juga, ikan-ikan berebutan makanan, menciptakan riak-riak kecil di permukaan air yang tenang.

Suasana di sekitar gazebo menjadi sedikit lebih hidup dengan aktivitas ikan-ikan tersebut. Enola tersenyum kecil melihat tingkah lucu ikan-ikan yang berebut makanan. Ia menikmati kesunyian dan pemandangan di sekitarnya, mencoba untuk melupakan kejadian di dapur tadi pagi.

Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya, membuatnya merasa lebih tenang. Ia menghirup udara segar, menikmati momen kedamaian di tengah keindahan taman yang mengelilingi gazebo. Sesekali, ia kembali melemparkan makanan ikan ke kolam, memperhatikan ikan-ikan yang asyik menikmati santapannya.

Tapi beberapa saat kemudian, rasa bosan mulai menghinggapi Enola, lagi. Biasanya, di akhir pekan, ia akan membantu ibunya memasak atau membersihkan rumah. Ia akan sibuk seharian, menemani ibunya berbelanja, belajar, atau menjaga anak tetangga yang dititipkan. Namun, sejak menikah dengan Magan, ia hanya diminta untuk duduk santai dan tidak perlu melakukan apa pun.

"Neng Nola, ini Bibi buatkan teh dan camilan untuk Neng Nola," kata Bibi Narti, tiba-tiba muncul dengan nampan berisi teh dan camilan di tangannya.

Enola terkejut. "Bibi nggak usah repot-repot, saya nggak dibuatkan minta teh dan camilan," kata Enola, sedikit merasa tidak enak hati karena Bibi Narti harus repot-repot melayaninya.

Bibi Narti tersenyum ramah. Dengan nada lembut, ia menjelaskan, "Bibi nggak keberatan, ini sudah jadi tugas Bibi sebagai asisten rumah tangga untuk melayani Neng Nola. Lagipula, ini sudah jadi kebiasaan Tuan. Biasanya, kalau Tuan ada di rumah, Tuan selalu minta Bibi buatkan teh dan camilan untuk menemani pekerjaannya. Jadi, ada baiknya sekarang Neng Nola mulai menyesuaikan diri dengan kebiasaan Tuan."

"Oh gitu," kata Enola, pandangannya masih tertuju pada nampan berisi makanan di sampingnya. Lalu, alisnya bertaut heran saat melihat sebuah botol kecil transparan berisi beberapa jenis kapsul yang tidak dikenalnya. Ia mengamati botol tersebut dengan rasa ingin tahu. "Ini apa?" tanyanya.

"Oh, itu suplemen yang harus Neng Nola minum. Tuan bilang itu bagus untuk kesehatan," jawab Bibi Narti, menjelaskan isi botol tersebut.

Kerutan di dahi Enola semakin dalam. Ia tidak merasa curiga, hanya merasa heran mengapa harus mengonsumsi suplemen, padahal tubuhnya sehat-sehat saja.

"Ada yang Neng Nola butuhkan lagi?" tanya Bibi Narti.

Enola menggeleng. "Duduklah, Bi. Saya ada beberapa pertanyaan yang mau saya tanyakan ke Bibi," ajak Enola, lalu menggeser sedikit posisinya agar Bibi Narti bisa duduk di sampingnya.

Bibi memandang Enola sejenak dengan sedikit rasa heran. Pandangannya beralih ke dalam rumah sebelum akhirnya menyetujui permintaan Enola dan duduk di sampingnya.

"Bibi udah berapa lama kerja di sini?" tanya Enola memulai percakapan.

"Sudah hampir enam tahun, Neng," jawab Bibi.

"Berarti Bibi udah kenal banget ya, sama Mas Magan? Saya cuma mau tahu kebiasaan-kebiasaan kecilnya aja, biar saya nggak asal-asalan. Pertama, saya mau tanya tentang jam pulangnya Mas Magan,"

Enola sangat ingin mengenal suaminya lebih baik. Sejak pindah ke rumah ini, ia belum sempat berbincang-bincang dengan suaminya. Magan tampak sangat sibuk, bahkan di malam pertama mereka. Ia ingin mengetahui sedikit tentang kehidupan suaminya, dan bertanya kepada Bibi.

"Tuan nggak punya jadwal tetap. Tapi kadang-kadang beliau pulang dan nginap di kantor," jawab Bibi.

Ekspresi wajah Enola berubah terkejut. "Sampai segitunya dia sibuk kerja?"

Bibi mengangguk. "Dan setiap pulang kantor, Tuan selalu langsung ke ruang kerja. Kadang sampai lupa makan."

"Seriusan? Sampai segitunya?" Enola kaget.

Bibi mengangguk lagi. "Tuan jarang libur. Bahkan pas hari libur pun, Tuan tetep kerja. Neng Nola mungkin bakal kaget kalau tiba-tiba Tuan nggak ada di kamar."

Kini Enola memahami alasan di balik permintaan Magan untuk memajukan pernikahan mereka. Ternyata, Magan adalah seorang yang sangat pekerja keras. Enola merasa sedikit bingung. Mengapa Magan ingin menikah jika ia lebih mementingkan pekerjaannya? Sejak menikah, Magan lebih banyak menghabiskan waktu di ruang kerjanya daripada berbincang dengannya.

"Terus, makanan kesukaannya?"

Bibi tersenyum saat menjawab, "Tuan nggak pilih-pilih makanan. Apa aja yang Bibi hidangkan diatas meja, akan di habiskan. Dan sampai hari ini pun kalau di tanya kesukaannya apa, Bibi nggak bisa jawab karena Tuan nggak pernah ngomong."

"Dia tertutup banget, ya?" Gumam Enola sedikit linglung.

"Iya, begitulah Tuan." Bibi setuju, "Bibi juga nggak terlalu mengenal sosok pribadi Tuan. Tapi Bibi sudah cukup hafal kebiasaannya."

"Mas Magan tinggal sendirian dirumah sebesar ini, apa Mas Magan tidak punya sanak-saudara?"

"Setau Bibi, Tuan hidup sendiri. Dia nggak pernah bawa keluarganya ke sini."

Magan tidak menyembunyikan identitasnya sebagai anak yatim piatu yang dibesarkan di panti asuhan. Tidak ada yang salah dengan latar belakang suaminya tersebut. Namun, sifat Magan yang tertutup membuat Enola kesulitan untuk mengetahui lebih banyak tentang kehidupan pribadinya.

"Itu ruangan apa?" Enola menunjuk sebuah ruangan yang terletak di seberang kolam, berada agak terpisah dari bangunan utama rumah.

Ruangan itu memiliki pintu ganda yang besar dan mencolok, berwarna cokelat kemerahan tua, dan tampak kokoh. Pintu tersebut tertutup rapat. Desain pintu itu satu-satunya yang berbeda dari pintu-pintu lainnya di rumah ini, membuat ruangan tersebut tampak menarik perhatian.

Ukuran pintu yang besar dan kokoh, mengindikasikan bahwa ruangan di balik pintu tersebut bukanlah ruangan biasa. Enola penasaran, ingin sekali mengetahui apa yang ada di dalam ruangan tersebut. Rasa penasaran itu sebenarnya sudah muncul sejak tadi, namun ia sempat mengabaikannya karena rasa bosan yang mendominasi pikirannya. Namun, kehadiran Bibi Narti di sampingnya memberinya keberanian untuk bertanya.

"Ruangan di balik pintu itu... apa isinya, Bi?" tanya Enola, dengan nada suara yang lembut namun penuh rasa ingin tahu.

Enola menoleh karena Bibi Narti masih terdiam. Namun, ia merasakan perubahan ekspresi wajah Bibi. Rasa rileks yang sebelumnya terpancar dari wajah Bibi Narti, kini berubah menjadi tegang, dengan sorot mata yang tampak gelisah, bahkan sedikit ketakutan.

"I-itu ruang kerja Tuan. N-neng Nola jangan pernah masuk ke tempat itu, ya?" jawab Bibi Narti dengan nada gugup, suaranya sedikit gemetar.

Enola mengerutkan dahi, menunjukkan rasa heran. "Kenapa?"

Bibi Narti buru-buru berdiri dari duduknya. "Tuan Magan nggak suka. Ya sudah, Bibi mau bereskan dapur dulu."

Enola belum sempat mengajukan pertanyaan lebih lanjut ketika Bibi Narti telah pergi meninggalkannya dengan langkah tergesa-gesa.

Setelah kepergian Bibi, pandangan Enola kembali tertuju pada pintu ruangan tersebut. Ia merasa heran mengapa dirinya dilarang memasuki ruangan itu. Bukankah itu hanya ruang kerja? Mungkinkah Magan memiliki banyak rahasia pekerjaan yang ingin disembunyikan di ruangan tersebut, sehingga ia melarang orang lain untuk masuk? Namun, Enola adalah istri sah Magan. Mengapa ia tidak diperbolehkan masuk?

***

JANGAN LUPA VOTE & KOMEN!!

Kembalikan Cintaku S1 [REPUBLISH]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang