Bagian 07

188 17 0
                                    

Hal 07| Rindu keluarga

🌼🌼🌼

"Dimana dia?" tanya Magan begitu sampai di rumah setelah pulang kantor.

"Neng Nola ada dikamar, Tuan."

Magan mengangguk kecil dan segera menuju kamar mereka. Ketika pintu kamar terbuka, ia disambut oleh pemandangan yang menenangkan. Enola sedang menunaikan shalat Maghrib dengan khusyuk. Tidak ingin mengganggu ibadah istrinya, Magan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Ketika Magan sedang mengenakan pakaian rumah, pintu kamar terbuka. Enola muncul sambil membawa segelas air di tangannya. Magan memperhatikan gerak-gerik Enola yang menunduk ketakutan. 

Gadis itu menyodorkan segelas air, namun alih-alih menerimanya, Magan malah bertanya, "Apa kamu masuk ke dapur?"

Enola menggeleng, "Bibi yang ngambil," jelasnya.

Magan menarik lengan Enola, lalu memeriksa bekas lebam di tangannya dengan seksama. "Luka-lukanya udah di obatin?"

Enola mengangguk. Magan mengangkat dagu Enola sehingga mereka bertatapan mata. Dengan ekspresi tegas, Magan bertanya, "Kamu takut sama saya?"

Enola menelan ludah, dengan susah payah menggelengkan kepalanya.

"Saya nggak akan sakiti kamu kalo kamu nurut."

"Maaf," cicit Enola, matanya sedikit bergetar. Ia ketakutan, namun berusaha terlihat tenang di permukaan.

"Minta maaf untuk apa?"

"Karena saya nggak patuh."

Mendengar permintaan maaf Enola yang tulus, Magan tersenyum miring, puas. "Bagus. Saya harap kejadian tadi malam jadi pelajaran buat kamu supaya kamu patuh sama kata-kata saya, mengerti?"

Enola mengangguk patuh. Magan melepaskan tangannya dari wajah Enola dan mengambil gelas berisi air yang sedari tadi diabaikannya. Ia meneguk air beberapa kali sebelum mengembalikan gelas itu pada Enola.

"Mas, bentar lagi Isya, kita shalat bareng, ya?"

Magan memunggungi Enola,  berjalan ke arah lemari dan mengambil beberapa dokumen di dalam kabinet. Dengan acuh tak acuh, ia menjawab, "Shalat sendiri aja. Saya lagi sibuk."

"Tapi, Mas... Shalat itu kewajiban kita sebagai umat muslim, kita ha—"  Kalimat Enola terhenti saat tatapan matanya bertemu dengan tatapan tajam Magan.

Enola memilih untuk tidak membantah, meskipun banyak pertanyaan berputar di kepalanya. Sudah dua bulan tinggal bersama Magan, ia belum pernah melihat Magan menunaikan shalat lima waktu. Bahkan ketika Enola membangunkan Magan untuk shalat Subuh, ia hanya berdecak kesal dan mengabaikan ajakan istrinya.

Enola teringat kembali pertanyaan ayahnya saat itu, yang menanyakan apakah Magan akan menjamin ketaatan Enola pada perintah Allah SWT setelah menikah. Magan saat itu menjawab dengan tegas bahwa ia akan menjaminnya. Namun setelah menikah, Magan sama sekali tidak mempedulikan apakah Enola menunaikan shalat atau tidak, seakan itu bukan urusannya.

"Apa?" tanya Magan sewot karena Enola tak kunjung bergerak. Enola mendongak dan menggeleng.

"Bibi udah selesai masak, kita turun makan, ya?"

"Eum." Magan bergumam pelan. Ia meletakkan dokumen-dokumen itu di atas meja dan bergegas keluar, mendahului Enola. Enola mengikutinya ke lantai bawah untuk makan malam bersama.

Suara dentingan sendok dan garpu beradu dengan piring keramik memenuhi ruang makan. Sepasang suami istri duduk berdampingan, menikmati makan malam dalam keheningan. Di dalam hati, Enola merasa bimbang. Ada sesuatu yang ingin ia minta pada Magan, namun ia ragu-ragu apakah harus menyampaikannya atau tidak..

Kembalikan Cintaku S1 [REPUBLISH]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang