Status: On going ~~~
Farel tidak mengerti, tahu-tahu sang Ibu menyuruhnya untuk mencari pasangan hidup hanya karena ingin memiliki cucu seperti teman arisannya.
Atas permintaan konyol itu, Farel jelas saja menolak. Gila saja! Walau 26 tahun, dia le...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Benarkah ini Awal dari tumbuhnya sebuahperasaan?
*******
Sore ini awan mendung menggantung di bawah garis cakrawala. Tidak sedikitpun cahaya matahari yang harusnya masih tersisa sebelum kembali ke peradaban. Semua jadi pertanda akan turun hujan. Atau mungkin alam sedang ngeprank para umat di muka bumi agar cepat-cepat memunguti jemuran.
"Kak!" panggil Aura sambil mengintip Farel dari celah pintu. Sementara Farel fokus mencatat pemasukan hari ini. Dia tidak menyahuti panggilan adiknya.
"Kak!"
"Apa sih, Ra!"
"Anterin ke Rumah Alin," ucap Aura dengan hati-hati. Dia hanya takut situasinya tidak tepat karena sepertinya Farel sangat sibuk.
Sambil menaruh bolpoin, ia menghela nafas. Padahal dia baru saja pulang kerja dan di rumah pun masih lanjut, tapi Aura meminta diantar.
"Kalo sibuk aku pesen Grab aja ya!"
"Emang mau ngapain sih ke rumah Alin?" Meletakkan kacamata diatasi meja sambil menatap adiknya.
"Ada tugas bikin makalah, besok harus dikumpulin."
"Mendadak sih?"
"Cuma 4 halaman. Malem juga kelar."
"Alin yang suruh ke sini!"
"Nggak bisa. Adeknya sakit nggak ada yang jaga."
"Ibunya"
"Ibunya kan jadi TKW."
"Bapaknya?"
"Kak Farel nanya mulu. Mau nggak sih nganter? Kalo nggak mau aku pesen grab aja." Aura agak kesal.
"Emang nggak bisa dikerajain sendiri?"
"Ini tugas kelompok, Kak!"
"VC aja coba."
"Mana bisa jelas kalo VC."
"Ya mangkanya jangan O'on. Biar bisa mencerna penjelasan dengan baik."
"Ya udah aku berangkat sendiri!" Dengan emosi Aura membanting pintu kamar Farel. Berjalan sambil menghentak-hentakkan Kakinya dengan kesal. Farel menggeleng kepala sambil tersenyum. Senang sekali dia mendapati adiknya itu mengoceh sambil marah-marah. Seperti ada jiwa kepuasan tersendiri ketika Aura berhasil ia buat kesal.