Status: On going ~~~
Farel tidak mengerti, tahu-tahu sang Ibu menyuruhnya untuk mencari pasangan hidup hanya karena ingin memiliki cucu seperti teman arisannya.
Atas permintaan konyol itu, Farel jelas saja menolak. Gila saja! Walau 26 tahun, dia le...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Farel sama sekali tidak tahu kalau Keyla meneleponnya sebanyak itu. Ia benar-benar tidak sengaja mengabaikan panggilan. Hpnya dalam mode silent karena saat itu ia benar-benar tidak ingin diganggu. Farel pusing memikirkan data diagram penjualan menurun yang drastis.
Dengan rasa cemas ia langsung datang mencari Keyla. Karena saat Farel menelepon kembali, Keyla terang-terangan me reject nya.
Terbukti jika Keyla marah besar. Farel menduga Keyla pasti berpikir yang tidak tidak. Apalagi dalam beberapa hari mereka tidak berinteraksi secara langsung ataupun lewat ponsel.
Farel belum bisa menemui Keyla bukan karena masih marah soal waktu itu. Tapi ia lebih sadar kalau disini memang dialah yang bersalah. Itulah sebabnya ia jadi merasa malu untuk menemui Keyla.
Aura menceramahi Farel habis-habisan karena tindakannya. Mengatai bahwa kakaknya sama sekali tidak menghargai seorang perempuan.
Farel mengetuk pintu rumah Keyla. Pukul 9 malam lampu rumah Keyla masih menyala. Sepertinya para penghuni belum tidur. Suara musik audio dari HP terdengar jelas.
Ia berharap Keyla mau menemuinya.
Ah, dia tidak sempat membelikan sesuatu untuk menyogok.
"Key... Bukain pintunya!" terdengar suara ibunya menitahkan.
"Mama aja, lagi mager, nih. "
"Ya udah, tolong parut kelapanya!"
"Aku aja deh yang ke depan."
Namun, detik kemudian ia menyesal sudah memilih membuka pintu.
"Ngapain ke sini?" tanya Keyla dengan ketus.
"Ketemu kamu lah," jawab Farel dengan jelas.
"Buat apa? Di Telpon aja tadi nggak ada jawaban."
"Aku nggak tahu kamu nelpon."
"Ketahuan ngibulnya."
"Sumpah!"
"Siapa, Key?" teriak ibu dari dapur.
"Ini Ma, tukang paket."
Farel melototi Keyla. Tega sekali Keyla begitu sama pacarnya.
"Kok gitu? Beneran nggak disuruh masuk?"
"Pulang aja deh."
"Ngusir?"
"Iya," ucap Keyla penuh penekanan.
"Key, maafin dong!"
"Punya hubungan sama kamu cuma nguras pikiran. Bahkan aku nggak tahu salahku apa, tapi kamu tiba-tiba nggak ada kabar. Kalo bosan tuh bilang!"
"Mana ada aku bosan."
"Ah, udah. Kamu pulang aja."
"Key, aku harus gimana biar kamu nggak marah lagi?"