#40. Salah faham?

11 1 0
                                        

"Udah malem

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Udah malem. Besok kan ketemu bisa." Keyla menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Saat keluar kamar, Farel sudah berdiri di sana dengan senyum selebar senja. Lesung pipinya muncul jelas — sesuatu yang selalu berhasil membuat jantung Keyla kehilangan ritmenya.

Tanpa banyak bicara, Farel menarik Keyla dan menahannya di antara tembok dan tubuhnya. Refleks, Keyla memejamkan mata, tahu apa yang biasanya terjadi bila mereka sudah sedekat ini.

Namun Farel hanya tertawa kecil, menatap wajahnya yang memerah. "Orang aku kangennya sekarang. Dari kemarin malah," katanya lembut.

Keyla mendorong pelan dada Farel, mencoba menenangkan detak jantungnya sendiri.

"Video call kan bisa?" gumamnya.

"Enggak sama. Aku maunya ketemu langsung," jawab Farel, menatapnya dalam.

Tatapan itu terlalu lama, terlalu dalam, sampai waktu seolah berhenti. Farel mendekat, menghapus jarak yang tersisa. Bibir mereka saling menemukan dalam ciuman yang lama, dalam, dan sarat kerinduan.

Ciuman itu berubah jadi cara mereka melepaskan semua rindu yang sempat tertahan. Ketika Farel melepaskannya, napasnya berat.

"Kangen nggak sama aku?" tanyanya dengan suara parau.

Keyla hanya bisa mengangguk, pipinya panas.

"Oh iya, kok aku gak denger suara motor kamu?" tanyanya mencoba mencairkan suasana.

"Naik ojol. Motorku mogok," jawabnya santai.

Percakapan ringan itu hanya jeda sesaat sebelum mereka kembali saling memandang, membiarkan rasa mengambil alih logika.

"Habis ini jangan percaya apapun sebelum lihat sendiri, ya," ucap Farel sambil menangkup wajahnya. "Aku hampir gila karena kamu."

Keyla mengangguk, hampir tanpa suara.

Farel menunduk lagi, mencium keningnya, pipinya, lalu bibirnya — lembut tapi bergetar oleh perasaan yang dalam.

Ciuman itu berubah semakin intens, hingga akhirnya Keyla hanya bisa memejamkan mata, menyerah pada arus hangat yang melingkupi mereka.

"Rel..." suaranya nyaris berbisik.

"Aku sayang kamu," ucap Farel lirih, seolah takut kata itu pecah di udara.

Waktu berjalan pelan. Dunia seakan menyempit, hanya ada mereka berdua. Namun di tengah suasana itu—

BRAK!

"KEYLA! BUKAIN PINTUNYA! KENAPA DIKUNCI SEGALA!" suara ibunya terdengar keras dari luar teras.

Seketika mereka terlonjak panik.

"Rel, kamu sembunyi dulu!" bisik Keyla cepat.

"Kenapa?" Farel memandangnya bingung.

"Kalau Mama tahu kita berdua di dalam kamar, bisa panjang urusannya," jawab Keyla gugup.

Farel akhirnya menuruti, bersembunyi di balik lemari. Keyla mengatur napas, berusaha terlihat tenang sebelum membuka pintu.

"Tumben banget dikunci segala," komentar ibunya sambil menatap curiga.

"Habis dari toilet, Ma," jawab Keyla cepat, pipinya merah.

"Farel mana?"

"Udah pulang."

Ibunya menghela napas. "Mama udah beliin makanan buat dia. Eh, malah udah pulang."

Keyla hanya bisa tersenyum canggung, berharap ibunya cepat pergi.

---

Dua hari kemudian, Farel masih tak tenang. Ia bahagia sempat bersama Keyla, tapi juga frustrasi karena semuanya terasa tergantung di udara.

Sore itu ia menelpon Keyla lewat video call.
"Apa, Rel? Aku lagi kerja nih," ujar Keyla sambil sibuk melayani pelanggan.

"Nggak papa, kangen aja," jawab Farel.

"Udah ya, nanti aja. Banyak pelanggan."

"Nanti pulang aku jemput."

"Jangan. Aku mau ke toko bahan kue dulu."

"Aku temenin."

"Nggak usah, kamu pasti capek. Besok aja ya ketemunya."

"Kenapa sih nggak mau sekarang?" tanya Farel, nada suaranya merajuk.

Keyla terdiam. “Udah ah, Rel. Aku masih malu mau ketemu kamu lagi,"  ujarnya dengan pipi merah.

Farel hanya tertawa kecil. “Ya udah, tapi besok harus mau aku ajak jalan.”

---

Sore harinya, Keyla benar-benar pergi ke toko bahan kue. Setelah itu, entah dorongan apa, ia memutuskan datang ke restoran tempat Farel bekerja.

Namun langkahnya terhenti di parkiran.

Sekitar sepuluh meter di depannya, ia melihat Farel berjalan berangkulan dengan Nessa. Terlalu dekat untuk disalahpahami.

Keyla terpaku. Jantungnya seakan diremas.

Saat tatapan mereka bertemu, Nessa tersenyum sinis — dan sebelum Keyla sempat berpaling, gadis itu memeluk dan mencium Farel.

Keyla ingin percaya itu cuma salah lihat. Tapi tidak, semuanya nyata.

"Tuhan... bawa aku pergi," bisiknya, nyaris tanpa suara.

Air mata jatuh begitu saja, tak terbendung.

Seseorang tiba-tiba datang dari belakang dan menutup matanya.

“Jangan dilihat kalau itu bikin lo hancur,” suara itu bergetar. Hendery.

Keyla akhirnya runtuh. Ia berbalik dan memeluk Hendery sekuat yang ia bisa.

“Ajak gue menghilang, Hen…” suaranya pecah di antara isakan.

“Ajak gue menghilang, Hen…” suaranya pecah di antara isakan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 25, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

PDKT  (On Going) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang