Chapter kemarin langsung rame yaa. Tapi kulihat vote nya sedikit kali.
Apa harus pake target vote?
PUSH VOTE SAMA KOMEN YOK!
TUMAN!
---
---
"Hidup kadang penuh plot twist."
---
---
Selesai sudah acara terakhir Roos hari ini, Pierre bilang besok ia akan kembali bertugas di kediaman Jenderal Nasution.
Nova juga sudah mengemasi barangnya, hanya sedikit, sebagian berisi pakaian milik Roos yang diberikan pada Nova. Nova sedang dalam fase kere, belum mampu jika harus beli pakaian baru. Nova juga harus mulai membiasakan diri memakai kebaya di sini. Walau tak nyaman tapi tak apa, untuk sementara. Jika uang sudah terkumpul ia berniat akan beli pakaian yang lebih nyaman untuk dikenakan.
Gadis itu sedang berada di dapur saat ini, baru saja makan malam bersama dan Nova mengajukan diri untuk mencuci bekas makanan.
"Gara-gara sebotol minuman dia jalan sempoyongan~"
"Hobi anak muda sekarang, yang penting botol katanya~"
Nova bersenandung kecil sembari mencuci piring. Nova tahu diri untuk membantu pekerjaan rumah agar tidak diusir. Repot juga kalau diusir. Tinggal di mana lagi dia nanti.
"Besok dah mangkat aja. Kok gue malah makin takut dah. Idup gue kalo gak apes ya kocak."
"Njebur ke got malah kelempar ditahun-tahun PKI."
"Hidup kadang kiding pa dinding oy! Kiding pa dinding!"
"Nova." panggil seseorang, membuat Nova menghentikan aksi anehnya, menengok ke sumber suara. Ibu Tendean tengah menatapnya.
"Iya?"
"Bisa bicara sebentar?" kata Ibu Tendean. Nova mengangguk lalu ikut duduk di samping wanita berdarah Prancis itu.
"Betah-betah di kediaman Nasution nanti, berikan kabar berkala, jika ada sesuatu bisa beritahu kami."
Nova mengangguk, mengingat dulu saat pertama kali merantau tak ada ucapan-ucapan seperti ini.
Lagi-lagi asing.
"Aku tau, kita tak terikat apa pun, bahkan baru bertemu dua minggu. Tapi aku merasa, seperti ada ikatan kuat diantara kita." ujar Ibu Tendean.
"Enggak, saya yang berterimakasih atas semuanya, makasih mau nampung saya sekaligus berikan pekerjaan." balas Nova.
Ibu Tendean tersenyum lantas memeluk Nova. "Aku titip Pierre padamu ya, jaga dia karena aku tidak bisa di sampingnya tiap saat." kalimat singkat yang seketika membuat pundak Nova serasa diinjak Titan.
Nova berpamit untuk kembali ke kamar berniat untuk tidur lebih awal agar tidak bangun kesiangan besok. Ia kemudian berjalan ke kamar. Merebahkan dirinya pada kasur yang terdapat.
Nova mengamati langit-langit kamarnya. Kelopak matanya perlahan turun dan sayu.
"Nasib dunia ada di tanganku." ujarnya mengutip kalimat dari anime favoritnya. Ia bergumam pelan sebelum menuju dream island.
KAMU SEDANG MEMBACA
Since 1965 [Pierre Tendean]
Historical Fiction"Lo gak seharusnya suka sama gue di tempat ini." ujar Nova frustasi. "Aku, Pierre Andries Tendean akan tetap mencintai Nova apapun yang terjadi." ujarnya tegas. "Kamu adalah cahaya hidupku setelah Mami, Mitzi dan Roos." "Dan kamu adalah tujuan hidup...
![Since 1965 [Pierre Tendean]](https://img.wattpad.com/cover/336970765-64-k770612.jpg)