Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Membasahi dua tangannya pada air mengalir, Serena mendongkak untuk menatap pantulan wajahnya sendiri di depan cermin. Lelah, tampangnya terlihat lelah sekali. Cepat dia basahi dengan cipratan air lalu membuang napas panjang merasa lega, keluar dari toilet dengan handuk putih melingkari leher.
Dia meraih kembali tas hitam yang tadi sembarangan dia lempar ke lantai, memasangnya lagi ke bahu lalu tanpa suara berusaha mengisi gelas kaca di tangan dengan dispenser air di dapur.
Tak lama lagi pukul 12 malam.
"Habis dari mana?"
God.
Seperti hantu, Mamanya tiba-tiba saja muncul dari arah belakang lengkap dengan setelan tidur yang serba putih. Serena yakin kalau Mamanya itu sebentar lagi akan pergi tidur, atau mungkin sebenarnya sudah, terbangun karena dirinya pulang.
"Kenapa baru pulang?" tanya Mamanya tidak memberikan waktu untuk pertanyaan pertama dijawab.
Serena menurunkan gelas yang baru dia tegak dan menghela. "Habis dari acara di rumah temen sekelas," jawabnya, berusaha terdengar semeyakinkan mungkin. Padahal yang dia ucapkan juga bukan sebuah kebohongan.
Cewek, duh, dengus Serena. Menaruh handuk yang barusan dia pakai untuk mengeringkan wajah kembali menggantung, berdeham saja sebagai jawaban iya.
"Yang tadi bawa mobil?"
Serena merasa kalau ini adalah waktu yang sangat buruk untuk diinterogasi. Padahal bisa saja dilakukan besok pagi, terserah lah Mamanya akan marah sebesar apa tapi yang jelas tolong jangan sekarang. Kepala Serena terasa sangat pusing dan tubuhnya juga pegal, lelah, belum lagi keadaan perasaannya yang tidak bersahabat.
"Tadi kamu dianter si Jeonghyeon ini?" Mamanya masih tidak menyerah juga.
"Bukan." Astaga. Serena meremas bagian belakang rambutnya gemas.
"Terus siapa, dong?"
Siapa yang mengantar Serena?
'Then it's a yes.'
"Zhanghao, Mah. Serena tadi dianter Zhanghao."
Ada hening sebentar di dapur kala itu, beku, sang Mama tidak mengeluarkan suara apapun karena memang tidak ada yang bisa dia proteskan lagi setelah mendengar nama itu. Zhanghao.
"Udah, 'kan?" tanya Serena lalu mendesis malas. "Serena mau ke atas, mau ganti baju terus cepet-cepet tidur." Membawa tubuhnya berjalan karena Mamanya sungguh tidak mengatakan apa-apa lagi sebagai respon.
The dammed dream boy for her only daughter, who could resist?