Chapter 2 (mereka?) [FAILED]

55 9 2
                                    

۫ ּ 💻꓃⁠ work ִֶָ

"Hufttt.. Kelar juga akhirnya kerjaan," nafas lega ku dengan meregangkan tubuh yang sudah keram dah pegal ini.

KRETEK.. KRETREK.. "Beuh gila bunyinya nyaring juga.. Oke, waktunya pulang untuk istirahat. "

'Ayuna Kiesha' saat ini aku hanyalah karyawan kantor XX, sebagai ilustrator komik. Gaji sebagai ilustrator komik tidak terlalu banyak tapi, ini lebih baik daripada menjadi pengacara dirumah hanya bikin beban saja.

Apa kalian seorang pengacara? PENGANGGURAN BANYAK ACARA. Itulah pengacara, menurut banyak sekali pengacara yang ingin memiliki pekerjaan, sedangkan menurut para pekerja mereka ingin resign dan ingin menikmati dunia.

Kenapa mereka berpikir seperti itu? si pengacara tidak tau betapa lelahnya sang pekerja hingga tidak bisa tidur. Dan sang pekerja tidak tau betapa susah dan berusaha nya sang pengacara mencari pekerjaan. Tanpa mereka sadari, semua yang mereka pikirkan sangat berbalik bagi orang lain.

Dunia ini tidak ada yang gratis, makanan hangat, air bersih, pakaian baru maupun lainnya. Semua manusia butuh 'UANG'. Jika manusia mempunyai uang maka ia bisa bertahan hidup di dunia kejam ini.

"HEIII, AWASSSSS," teriak seorang pria yang menarik lengan ku. Tersadar seketika setelah lamunan ku yang panjang.

"Hei, kalau jalan jangan bengong! apalagi pas nyeberang aduh mba. Di depan sudah lampu hijau mba," suara kesalnya ia.

Dengan rasa kaget lalu membungkuk tanpa melihat wajah pria tersebut berkata "Aduh maaf maaf dan terima kasih."

Pria tersebut tersenyum. "Bangun mba tidak perlu seperti ini, saya hanya membantu tidak lebih. Dan lain kali hati hati yah mba saat berjalan."

Setelah pria itu memberi peringatan dan menyuruh ku bangun dari bungkuk. Ku bangkit dari bungkuk lalu mataku melotot seketika setelah melihat wajahnya tersebut.

"Mba kenapa? kok kaget gituh ngelihat saya? kayak ojan yang ada TransTV, haha. TATAP MATA OJAN OJANN OJANNN, Haha," canda nya.

"Kenapa kak Ned mikir gitu sih? gak boleh gitu. Gak sopan ama orang yang gak dikenal," marah anak yang ada di sebelah pria tersebut.

"Maaf yah kak, kakakku dia gak ada akhlak bercanda nya emang suka diluar angkasa," dengan rasa bersalah.

"Gak apa apa, walau kakak mu keliatan agak miring otak nya. Tapi kakak mu udah nyelamatin nyawa kakak," berjongkok di hadapan adik kecil memegang kedua tangannya, lalu menggerakkan tangan seperti berjabat tangan.

"Hahhh.. Kau itu sudah di selamatkan tapi baik sekali, kau membicarakan ku seperti itu. Dasar wanita," helaan dan makiannya.

Setelah ia berkata seperti itu, aku bangkit dan berdiri di hadapan nya tersenyum berkata, "Adik mu pintar sekali daripada kakaknya dan terimakasih."

Ku pergi dari sana setelah berkata seperti itu. Sebenarnya, sebelum pergi ingin rasanya mencubit bibirnya hingga bengkak sehingga pria itu masuk Rumah Sakit.

"Kepala ku pusing sekali, kenapa mereka bisa mirip didalam mimpiku?"

⊹ ݂ ׁ🏠໊݂ home 𓂃

Sesampainya di rumah, tanpa basa basi untuk melakukan suatu hal lain. Ayuna langsung menghampiri Serena yang sedang serius nya menyaksikan film entahlah apa itu, mungkin film prindapan.

Belum berkata sepatah kata pun Serena langsung terkaget kaget oleh kehadiran Ayuna dengan teriaknya " SYETANNNN USTADDD TOLONGGG!!!! ALLAHUMMA BARIKKLANA FIIMMA ROJAKTANA WAAKINA AZA BANNAR.."

Dia Serena tukang heboh, dan si pengacara yang menikmati hari harinya. Tapi aku bersyukur dia ingin tinggal di kos kos an ayahku untuk menemani ku. Tentu saja, dia bayar kos kos an tidak mungkin gratis untuk tinggal disini.

"Ser, ini gue ayun bukan iblis," suara pelan yang dikatakan oleh Ayuna.

"Astogee bayam rebuss, kok muka lu pucet sih, nying? Butuh BAYGON kagak? eh, maksudnya obat?" Ucap Serena yang jantungnya masih berdegup sangat kencang.

Ayuna hanya mengangguk, perkataan dari Serena. "Yaudah lu pergi sana ke kamar dulu, gua ke apotek dulu," usir nya.

Serena mendorong Ayuna ke depan pintu kamarnya lalu membukakan kenok pintu nya. "Nyonya muda, si pengacara izin ke apoteker dan nyonya silakan istirahat" candaan izinnya.

Tidak sampai situ saja hebohnya. Dia masih mendorong Ayuna hingga sampai di kasur hingga menyelimuti Ayuna hingga dada Ayuna. Ayuna hanya memperhatikan heboh temannya hingga kepalanya geleng geleng.

Sebenarnya, setiap hari Ayuna selalu geleng-geleng kepala melihat temannya yang heboh seperti itu, sehingga terpikir apa ada yang akan rela hidup semati bersama si Serena itu? pasti diluar nalar.

Setelah serena hampir menutup pintu tetapi sesaat dia mengintip di celah pintu.

"Ayun, gue boleh minjem motor lu gak? gua baru inget motor gua di pakai temen gua yang bantet. Jadinya turun mesin, hehe," Serena ter ngenges.

Ayuna hanya mengangguk apa yang diminta temannya itu. Setelah itu pintu tersebut tertutup dengan rapat.

Tiba tiba, "Ayun, uang lu di kamar mandi gue pakai buat beli obat yah?" Yahhh benar, Serena membuka sedikit pintu tersebut lagi sehingga ada celah untuk mengintip kembali.

"Hahh, Pakai aja Serena ku," helaan lelahnya Ayuna. Karena saking senangnya secara bersamaan, "OKEHH" BLANGGG. Serena membanting pintu dengan keras.

"MAAF AYUNNNNN," teriaknya. Ayuna kembali geleng geleng kepalanya.

Ayun mengingat-ingat kejadian tadi yang berada di lampu merah, yang sedang melamun saat menyeberangi zebra cross. Mengingat bahwa mereka adalah pria dan anak laki laki yang mirip persis 99% di dalam mimpi nya.

Wajah mereka berdua sangat mirip di dalam mimpi nya. Akan tetapi Ayuna lupa siapa nama mereka. Tanpa di sadari Ayuna telah terlelap dalam tidurnya saat memikirkan kejadian yang telah terjadi.

꒰‧₊˚💭dream again☆༉‧₊˚.

Dimana? Pantai? Kenapa sepi sekali? Ini mimpi, PASTI.. Apa ini yang dinamakan lucid dream? Ini terasa nyata seperti mimpi ku semalam.

"Manis? Kau cantik sekali memakai baju seperti ini," suara berat dari seseorang.

Ayuna hanya bergidik tanpa mengatakan apapun. Seseorang itu mendekat secara perlahan lahan.

Ayuna sadar suara ini adalah suara dari sang pembunuh itu. Saat pria itu tepat dibelakang ku lalu ia menaruh kepalanya di bahu ku tanpa permisi.

Ayuna merasakan sisi muka hangatnya. "Manis aku rindu, dan sepertinya juga kau merindukan ku kan? wanitaku?" Suara nya yang pelan yang membuat leher Ayuna terasa geli.

Saat Ayuna melirik ke bahu nya yang di sandari oleh sang pria gila itu. Belum sempat melihat ekspresi wajah pria gila itu, tiba tiba ada yang berkata. "Maksud lo apasii? ngomong pakai bahasa yang gue ngerti dong."

Ayuna tersadar bahwa itu suara serena. Dan semua yang di lihat oleh Ayuna seketika menjadi gelap gulita dan si gila itu hilang begitu saja.

•·················•·················•

Killer ManTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang