Masa lalu bukan hal yang asing lagi bagi manusia. Mereka pasti ada, di belakang setiap manusia, dan mengikuti diri anak adam sembari berusaha untuk membuat kita ingat tentang apa yang terjadi di masa lalu yang telah kita lewati.
Tidak peduli meski itu adalah ingatan masa lalu tentang kebahagiaan,
maupun kesedihan yang tidak berujung.
Jika ditanya tentang, bagaimana aku bertemu Sasuke dan berakhir seperti ini, itu adalah sebuah cerita panjang yang rasanya enggan untuk aku ingat, enggan untuk aku kenang, dan enggan untuk aku ceritakan.
Namun meski aku enggan untuk mengingat kenangan masa lalu yang selalunya mengejarku seperti mimpi buruk.
Aku tidak akan pernah bisa untuk melupakan kisah itu.
Kisah tentangku dan Sasuke, cinta pertamaku yang tanpa sengaja menjadi sumber rasa sedih tak berujung dalam hidupku.
"Kau masih menyukaiku?"
"Masih."
"Penipu."
Ketika aku terbangun keesokan hari, pemandangan yang aku lihat tampak begitu asing.
Itu adalah gambaran langit-langit kamar berwarna ungu muda, tidak lagi berwarna putih yang selalunya menjadi pemandangan familiar bagiku. Namun, tak butuh lama bagiku untuk sadar bahwa sekarang aku tidak lagi berada dirumah, namun berada di apartemen Uchiha Sasuke.
Bungsu Uchiha yang tanpa sengaja berbagi masa lalu denganku lewat takdir Tuhan.
Kuhela nafas berat, dan kemudian memilih turun dari ranjang.
Ini hari Senin, dan aku perlu bekerja. Maka dari itu, apa yang harus aku lakukan di pagi yang cerah ini adalah membersihkan diri untuk pergi ke halte terdekat agar dapat sampai di kantor tepat waktu, alih-alih memikirkan cerita remajaku di masa lampau. Tidak akan ada yang menyenangkan jika aku telat hari ini, Karin akan terus mengomel padaku dan Ino akan menertawaiku.
Astaga, itu akan menjadi mimpi buruk lain untukku dalam minggu ini.
Jadi, setelah aku bersiap dengan dandanan rapi ala pekerja di dunia fashion, aku segera membuka kunci pintu dan mendapati ruang keluarga yang luas di depanku.
Ini pukul tujuh pagi. Sedangkan aku masih memiliki waktu satu jam sampai pukul delapan.
Barangkali, aku bisa untuk pergi ke minimarket terdekat untuk melakukan sarapan agar tubuhku ternutrisi, atau mungkin juga bisa membeli sarapan di kantin kantor sehingga aku tidak akan kelaparan sampai jam makan siang datang.
Namun, itu adalah rencana yang tampaknya tidak akan bisa aku realisasikan.
Karena pada saat aku melewati dapur, aku melihat tubuh pria yang aku temui dua hari lalu tengah sibuk berkutat dengan peralatan dapur. Aku tidak tahu apa yang sedang Sasuke coba masak. Tapi, melihat bagaimana dapur yang semalam masih rapi terawat mendadak menjadi kapal pecah membuat keningku mengernyit tidak senang.
Sebagai anak pertama perempuan, aku memiliki rasa tanggung jawab dalam urusan dapur dan bersih-bersih rumah.
Orang tuaku terlalu sibuk di rumah sakit, sedangkan Hanabi tidak bisa diandalkan selain mengelap meja. Soal Neji, jangan ditanya.
Ia sama saja dengan kedua orang tuaku yang gila kerja.
Kemudian, begitu melihat dapur yang semalam masih tersusun rapi menjadi ruangan yang seolah-olah hampir saja terserang badai, aku merasa risih.
"Sas, apa yang kau coba masak?" Panggilku kepadanya sembari memungut panci mini yang tergeletak di lantai dapur.
Sasuke lantas berbalik menatapku sejenak sebelum akhirnya melepas sarung tangan plastik yang ia kenakan, kemudian mencuci tangan. "Berniat memasak sarapan." Katanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unperfect
FanfictionSejak Hinata dan Sasuke memilih untuk mengakhiri hubungan mereka yang lama-kelamaan seperti benang kusut, mereka berdua sudah berhenti untuk saling menghubungi satu sama lain. Satu Tahun Dua Tahun Tiga Tahun Empat Tahun Lima Tahun Waktu untuk mereka...
