Chapter 8:
Wah mati lampu rupanya. Gelap (yaiyalah masa terang -_-).
"Siapa yang matiin lampu neh!", ucap Kak Charlotte menuruni tangga.
"Mana gw tau!", ucapku membalasnya.
"Cih! Bi..bibi...nyalain lampu dong!", kata Kak Charlotte memanggil Bibi.
"Gak bisa non..itu dari PLN", ucap BibiTumtum.
Waduh gimana ini? Aku meraba-raba sendok ayam dan mengambilny lalu mengambil nasi dan duduk di sofa. Eh..tunggu, siapa itu? Anak kecil? Aku mengucek mataku dan dia hilang?! Kok? Lah? Ah sudahlah.
Lali suara telepon handpone Mom berbunyi, lalu Mom mengangkatnya.
"Duh! Panas banget, nyala kek nyala!", omel Kak Charlotte.
"Sabar non, mungkin lagi ada kesalahan disana", ujar Bibi menangkan Kakak.
APAA?! Aku mendengar teriakan..Mom, dilanjut oleh suara isak tangis, seketika lampu pun menyala. Ada apa dengan Mom?!
"Kenapa Mom?", ujarku bertanya.
"Daddy..nak...Daddy...", kata-kata Mom bergetar.
"Kenapa Daddy, Mom?!", ujar Kakakku.
"Dia...sudah..tidak ada..", tangis Mom meledak.
"Apa? Tidak mungkin, pasti Mom bercanda kan? Kenapa Mom!!", ucap Kakak tak percaya.
"Mom serius nak..Daddy mengalami kecelakaan pesawat"
Kenapa? Kenapa ini harus tejadi? Daddy yang selalu menghiburku...kenapa?! Apa salah Dad Tuhan? Mengapa kau harus merenggut nyawanya?!
Perasaanku campur aduk. Ada apa? Kenapa? Aku shock berat, aku tak menyangka Daddy telah pergi. :'(
To be continued...
KAMU SEDANG MEMBACA
Terror
Mystery / ThrillerHari-hari manis yang dilewati Michael Endelson berubah drastis 180 derajat, setelah melihat namanya di batu nisan. Hari-hari yang manis berubah menjadi Terror yang harus Michael selesaikan. Apa yang terjadi sebenarnya?!
