Terror (Bahasa Indonesia)

1.2K 46 2
                                        

Chapter 9:

Malam itu kami semua tidak bisa tidur, Mommy masih shok dan menangis sejadi-jadinya begitu juga dengan aku, Kak Charlotte dan Bibi. Lalu tiba-tiba Handphone Mommy berbunyi, ternyata Mommy ditelepon oleh Pihak Maskapai Pesawat. Katanya sebagian jasad-jasad sudah ditemukan, termasuk jasad Daddy. Jadi besok kita akan menuju Rumah Duka.

Pagi-pagi buta kita sudah berkumpul di Rumah Duka yang berada di rumah Keluarga Besarku. Semua orang disana termasuk aku terisak karena Daddy begitu cepat pergi meninggalkan kita semua, kecuali satu orang...yaitu Pamanku adik dari Daddy, kenapa dia sama sekali tidak menangis? Sedih pun tidak, dia hanya bermuka datar atau seperti senang? Mungkin dia menahan tangisnya.

"Besok kita akan langsung memakamkan Daddy. Mungkin ini terakhir kalinya kita melihatnya.", ucap Kak Charlotte.

"Ya gw gak nyangka", balasku.

Setelah mendoakan jasad Daddy, beberapa saudaraku pun pulang. Tetapi aku, Mommy, Kak Charlotte, dan Bibi tidak, kita akan menginap disini.
Mommy masih terisak jadi Kak Charlotte ikut menenangkan Mommy, tiba-tiba aku melihat ada anak sebaya denganku menatap Paman yang sibuk dengan Handphone nya, dengan tatapan marah. Kenapa dengan anak itu? Lalu tiba-tiba dia menghilang. Aneh, kenapa dia kelihatannya marah sekali? Dia seperti membenci paman, ada apa dengan cinta? Eh?! Maksudnya, ada apa dengan anak itu eheheh.

"Mike, kamu tidur saja. Nanti kamu sakit, besok kan kita akan memakamkan Daddy.", ucap Mom. Aku bisa melihat matanya yang sembap, dia pasti sangat terpukul.

"Iya Mom. Bener nih Mom gak apa-apa?", kataku khawatir.

"Gak apa-apa, sudah sana tidur.", jawab Mom.

Aku dengan malas menaiki tangga dan masuk ke kamar.

Sudah jam berapa sekarang? Jam 01.00, aku tidak bisa tidur.
Tap..tap..tap..
Aku mendengar suara langkah kaki, aku pun bangkit dan mengintip dari pintu. Siapa itu?

To be continued...

TerrorTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang