Judul Awal : From Rigel To Alpha
Adhara Soraya hanya jatuh cinta kepada Revan Alfa Samantha--sang Pianis tuli--yang tak sengaja ia lihat tengah memainkan violin di waktu senja. Raya semakin jatuh cinta, ketika Revan menawarkan pertemanan dan menunju...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hai gais akhirnya aku tergerak up ini wkwkwk. Sebenarnya ini sudah aku up di Medium yang di versi AU, tapi yang di versi wattpad aku tambahin dikit.
Happy reading!!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Matahari yang terik, awan yang terlihat jarang, dan hanya warna biru sejauh mata memandang. Di atas sana cakrawala sepertinya sedang berbahagia. Melengkapi hati Raya yang sebenarnya sedang biasa saja. Ini hari senin, dan Raya sedang tidak ada kelas saat ini. Namun, ia harus menepati janjinya untuk mengantar pesanan bunga di gedung fakultas kedokteran.
Beberapa waktu lalu, dia mendapat pesan dari seseorang bernama Samudra Alaska yang memesan bunga rose pink untuk ulang tahunnya. Sejatinya, ia tak pernah menginjakkan kaki di gedung fakultas kedokteran. Namun, keadaan memaksanya demikian. Sebab, si Pemesan telah membayarnya dua kali lipat. Yang jelas saja Raya menyetujuinya. Sebab biaya ongkir itu akan masuk ke dalam kantongnya sendiri. Lumayan untuk membayar hutang Arjuna--ayahnya.
Bersama Attaya, kini tungkainya mengayun menyusuri lorong gedung fakultas kedokteran, sembari tangannya memegang bunga pesanan. Suasana yang asing bagi Raya. Untuk pertama kalinya ia menginjakkan kaki di gedung yang dipenuhi mahasiswa ambisius dengan pakaian rapi.
"Ini kita nyamper ke kelasnya?" tanya Attaya yang mengekori langkah Raya.
"Katanya, sih, suruh nunggu di kantin," jawab Raya tanpa menoleh sedikitpun.
Kontan Attaya menghentikan langkahnya. Ia menyadari sesuatu yang salah. Dengan kasar ia menarik lengan Raya dan membuat gadis itu menghadap dirinya. "Gue lupa kalau lo tolol."
Dahi raya mengkerut. Ia menatap bingung sahabatnya itu. "Apa, sih, Ta?"
Attaya menghela napas kesal. "Kantin sebelah sana, tolol!" Dia menunjuk arah belakang yang berlawanan dengan tujuan mereka sebelumnya. "Lo kalau belum pernah ke sini setidaknya jangan sotoy!"
Raya tersenyum kikuk, dengan memperlihatkan gigi putihnya. "Ya sorry. Kan, gue pikir lo juga nggak tahu."
Attaya mendengus kesal. "Gue nggak sekuper lo." Lalu, ia menarik tangan Raya dan mengajaknya berjalan ke arah kantin fakultas kedokteran. "Dah, yuk, ikut gue."