>>>>>>>>>

2.8K 357 473
                                        

"Leukemia Limfoblastik Akut

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Leukemia Limfoblastik Akut. Jika tidak segera diobati, maka bisa menyebabkan kematian hanya dalam hitungan minggu, bahkan hari."

Telinga Jeongwoo terasa berdenging mendengar kata-kata itu. Pandangannya kosong, suara-suara di sekitarnya terdengar samar, seolah-olah ada jarak yang tak terjangkau antara dirinya dan dunia di luar sana.

"Woo," Jaehyuk menepuk pundak Jeongwoo, yang kini berada di ruang dokter untuk mendengar kabar buruk tentang kondisi Haruto.

"Iya?" Jeongwoo menjawab dengan suara kosong, seolah-olah tidak sepenuhnya hadir di sana. Ia menatap Jaehyuk dengan pandangan yang membuat hati siapa pun yang melihatnya terasa sakit.

"Lo bisa keluar kalau ngga mau dengerin ini lebih lanjut, biar Abang yang ngobrol sama dokter."

Jeongwoo menggelengkan kepala cepat-cepat, memaksakan diri untuk tetap berada di sana. "Ngga apa-apa, gue mau denger semuanya."

Dokter itu menatap Jeongwoo sejenak, lalu mengulas senyum tipis, memahami betul betapa beratnya kabar yang sedang mereka terima. Jeongwoo tampak sangat lemas, seperti kehilangan semangat hidup.

Jaehyuk mengangguk paham dan kembali fokus pada dokter yang melanjutkan penjelasannya. "Apa yang harus kami lakukan sekarang? Apa adik saya bisa sembuh?"

"Adik kalian bisa sembuh jika menjalani pengobatan dengan baik dan benar," jawab dokter itu. "Salah satu pengobatannya adalah kemoterapi."

Jaehyuk menghela napas panjang, hatinya sudah bisa menebak bahwa biaya untuk itu pasti sangat besar. Namun, sebelum ia bisa melanjutkan, suara Jeongwoo tiba-tiba memecah keheningan.

"Tolong..." Jeongwoo bersuara pelan, kepalanya menunduk dan kedua tangan terkatup erat, bergetar karena menahan emosi. "Tolong lakukan apapun untuk kakak saya."

"Tolong dia, saya hanya punya dia di dunia ini. Tolong kakak saya, tolong kakak kembar saya."

Pundaknya bergetar hebat, berusaha menahan tangis yang sudah tidak bisa lagi ia bendung. Suara Jeongwoo semakin pecah, memohon dengan segala harapan yang tersisa.

"Saya mohon, lakukan apapun untuk dia. Saya akan membayarnya. Berapapun, bahkan jika harus dengan nyawa saya sendiri," tambahnya dengan suara bergetar, dan akhirnya pertahanan yang ia bangun selama ini runtuh. Jeongwoo menangis terisak, tak bisa menahan kesedihan yang meluap.

Jaehyuk hanya bisa menatapnya dengan tatapan kosong, hatinya terasa hancur melihat adik tirinya yang begitu rapuh. Melihatnya menangis seperti ini terasa terlalu menyakitkan.


▪︎
▪︎
▪︎

Matanya perlahan terbuka, mengerjapkan sejenak untuk membiasakan diri dengan cahaya yang masuk ke dalam matanya. Begitu kesadarannya kembali, ia menyadari bahwa sebelah tangannya terasa sangat berat.

JejalTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang