EPILOG

3.8K 398 175
                                        

Di sebuah halte yang hampir kosong, Jeongwoo berdiri sambil memeluk tubuhnya sendiri

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Di sebuah halte yang hampir kosong, Jeongwoo berdiri sambil memeluk tubuhnya sendiri. Hujan turun deras, menciptakan irama monoton di atas atap halte. Dinginnya udara malam membuat ia menarik jaket lebih erat. Tatapannya sesekali melirik ke kanan dan kiri, mencari sosok yang dinantikannya.

Ia sudah menelpon Haruto sebelumnya, mengatakan bahwa ia akan menunggu di tempat biasa—halte yang selalu menjadi titik pertemuan mereka.

Namun, waktu terus berlalu. Halte semakin sepi, dan Haruto tak kunjung muncul.

"Woo." Suara itu memecah keheningan. Jeongwoo menoleh dan melihat Jaehyuk berjalan mendekatinya, membawa payung yang basah oleh hujan.

"Loh, Bang Jae? Ngapain ke sini?" tanya Jeongwoo, bingung.

Jaehyuk tidak langsung menjawab. Ia menatap Jeongwoo dengan sorot mata yang sarat kesedihan. Tanpa banyak kata, ia menurunkan payungnya dan memeluk Jeongwoo erat, membiarkan hujan membasahi dirinya.

"Bang? Lo kenapa?" Jeongwoo berusaha melepas pelukan itu, menatap Jaehyuk dengan raut bingung.

"Pulang, Woo," ujar Jaehyuk lirih, suaranya hampir tenggelam oleh suara hujan. "Haruto ngga akan datang."

Kata-kata itu membuat Jeongwoo terdiam sejenak. "Apa sih, Bang? Gue lagi nunggu Haru pulang kerja. Kenapa malah disuruh pulang?" Ia mengerutkan kening, tatapannya penuh rasa tidak percaya.

Jaehyuk tidak menjawab. Ia hanya menatap adiknya dengan pilu. Hatinya terasa seperti dihantam setiap kali melihat Jeongwoo seperti ini—terjebak dalam bayang-bayang masa lalu yang ia tolak untuk di tinggalkan.

Jeongwoo terus menjalani rutinitas yang sama: datang ke halte, menunggu Haruto pulang kerja, lalu naik bus bersama dan duduk di kursi paling belakang. Semua itu terasa nyata bagi Jeongwoo, padahal kenyataannya sudah berbeda sejak setahun lalu.

"Woo…" Suara Jaehyuk bergetar, ia berusaha menahan air matanya. "Gue mohon, lo harus sadar. Haruto udah ngga ada. Dia udah pergi, Woo. Dia udah tenang sama Mama."

Jeongwoo terpaku. Ia memandang jalanan yang basah dengan tatapan kosong, lalu perlahan menepis tangan Jaehyuk yang berada di pundaknya.

"Bercanda lo, Bang," ucap Jeongwoo sambil tertawa hambar. "Haru ada kok. Dia selalu sama gue!" tekannya, suaranya penuh penolakan.

Jaehyuk menggigit bibirnya, mencoba menahan emosi yang membuncah. "Woo…" Ia menghela napas panjang, lalu melanjutkan, "Lo inget setahun lalu? Haruto… dia meninggal di pelukan lo sendiri."

Kata-kata itu menghantam Jeongwoo. Ia tertawa kecil, mencoba menyangkal kenyataan yang baru saja diucapkan Jaehyuk. Namun, tawa itu tidak lama. Di dalam hatinya, ia tahu apa yang Jaehyuk katakan benar.

Seketika, kenangan yang selama ini ia pendam mulai muncul. Haruto yang terkulai lemas dalam pelukannya, tubuhnya yang perlahan mendingin, dan napas terakhir yang terasa begitu menyakitkan.

JejalTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang