Chapter 10: Safir dan Jingga

245 21 12
                                        

"Halilintar! kakakmu?! Serius no fek!?"

Aku memegang kedua bahu Gempa membuat kamera hape tidak stabil. Ice terkaget dari rasa ngantuknya.

"Eh beneran saling kenal ya! baguslah."

Gempa yang senang berbanding balik denganku yang melongo.

Apakah aku harus bilang padanya kita berkenalan lewat adu bogem?

"Oh-kalian berteman baik?"

"......"

___________________________________________________________________

Kualitas Video call tidak terlalu baik namun aku bisa melihat Halilintar memasang wajah merengut akibat pertanyaan Gempa. Kalau saja bisa ku schreenshot.

"Ya Gem, kita sangat baik jika dilihat dari celah sandwich basinya Taufan."

"Ice, Blaze aku duluan ya. Temanku sudah menunggu di luar."

'Laki-laki emas keibuan itu meninggalkan kenang-kenangan berupa sekantong jeruk di atas meja. Begitulah julukannya dari Ice, bahkan lebih bagus daripada diriku. "Kau bisa disebut 'kompor kebakar."

"Yoi, hati-hati Gem."

Aku balik menatap Ice yang rebahan di ranjang berukuran sedang, jari telunjuknya tampak mencoret sesuatu di layar tablet. "Mau nginep lo?" Tepukan keras kulayangkan pada kaki si empu. Ditanggapi olehnya dengan menyilangkan kaki santai.

"Elah masih minggu siang. Aku menggambar disini saja."

"Kau menggambar apa? Boleh kulihat?"

"Seseorang, dan itu masih progress. Tidur sana, muka pucatmu bikin nggak fokus."

"Kurang ajar....Oiya Ice kau tahu darimana aku disini?"

"....dari Gempa."

"...."

Kedua mata biru itu bergulir dari layar setelah membisu beberapa saat. Bibirnya bergerak mengucapkan perintah tanpa suara untuk 'tidur, lagi.

Aku memutuskan kontak mata berusaha menelan sesuatu yang ingin terucap.

Sedikit ada secercah harapan untuk bermimpi di atas kasurku yang nyaman bersama bulu halus kucing. Sungguh, bersama 'majikan membuatku lebih baik. Namun kenyataannya mataku tetap terpaku pada plafon putih dan aroma ruangan berbau obat.

"Cy,...Aku mau istirahat." Ujarku lirih.

"Istirahatlah."

"Bukan, bukan disini."

"...."

Srak

Aku terkejut saat Ice menyelimutiku dengan jaket berbulu putih. Terlihat ia hanya mengenakan tanktop biru muda.

"Mungkin rasanya tidak seperti kucing asli, tapi lumayanlah."

Aku menghargai kemampuan 'telepatinya, tapi kucingku tidak berbau mint segar.

"Aku tidak punya kemampuan khusus. Anggap saja temanmu ini hafal kebiasaan orang." Ucap Ice sebelum ia kembali pada posisi bersandar. Dahiku bertaut heran saat menyadari ia benar-benar orang tak bisa ditebak.

"Bahkan kau tahu aku menyukai terapi bulu?"

"Itu...ya. Ingatanku bagus."

"Kapan? Aku tidak ingat cerita padamu?"

Wajah seriusku berkebalikan dengan lawan bicaraku yang tetap pada tatapan datarnya. "Kau...hanya tidak ingat."

Aku berdecak menyerah.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 17, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

I'M FIRE Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang