Teteh Kok Meeting Terus?

13 0 0
                                        

Jumat, 18 Juli 2023

Hari ini ke kantor karena tiga alasan: pertama, karena internet di kos mati; kedua, karena motor dipinjam seorang teman kerja, sehingga saya minta diantarkan ke kantor dulu sebelum motor saya dibawa olehnya; ketiga, karena saya perlu team meeting offline di cafe dekat kantor. 

Saya mengambil spot favorit kembali, sebuah meja dengan posisi agak ujung ruangan yang menghadap timur, single table. Sebagai penderita backpain duduk terlalu lama membuat saya suka pindah-pindah meja kerja, dari yang duduk, setelah dua jam biasanya, saya pindah ke standing table (cafe table). 

Tim suka berdiri ada dua, yaitu saya dan Kang Rindi (Backend Engineer), tim IT Dev baik hati yang senang mengobrol (jadi saya ga kagok kalau bersampingan dengan kang Rindi saat bekerja, selain sudah pernah satu tim di projek lain dan memang nyambung ngobrolnya. Ps: kang rindi memang ramah). 

Beberapa jam berlalu, menjelang dzuhur, seseorang masuk dan celingukan (mencari kursi kosong lagi) dan ternyata dia. Dengan ujung mata saya, saya melihat dia mengambil spot favorit dia lagi (yang kali ini jauh dari standing desk tempat saya berdiri). Setelah meletakkan tas, dia menghampiri kang Rindi dan bercanda (Saya tahu itu bercanda karena topik yang saya dengar seperti) "Kang Rindi, kok lupa sih kalau mau meeting IT Dev? Pak bos udah koar2 di grup," katanya pada kang Rindi. Air muka kang Rindi berubah agak bertanya-tanya, "Lhoh, seinget aku Rabu lho," balasnya. "Oh iya ya Rabu,".

Setelah itu, dia berbalik (sebelumnya memunggungi saya) ke arah saya, "Teh Fakhi, meeting terus nih," 

Nah, kali ini timingnya pas sekali, saya sedang tidak rapat. Jadi saya bisa membalas basi-basinya dengan lebih lama, "Nggak dong, kan perlu silent working juga." jawab saya.

"Lalu, lagi ngapain? Wah ini business process ya, kan bukan kerjaan teh Fakhi sebagai ux?"

"Oh ga, ini userflow, aku menerjemahkan dari bisnis ke habit users," 

"Oh gitu... iya ya, business process makronya ya, dan, ux mikronya,"

"Iya kang, emang selo nih kang ke kantor terus?" tanya saya, karena dari makan siang beberapa hari lalu, dia bilang kalau ke kantor pasti saat luang.

"Iya nih, kalau kayak gini pas luang,"

lalu ada beberapa percakapan lagi, sebelum dia pamit melanjutkan kerjaannya.

Dan, selepas percakapan menjelang dzuhur itu, saya merasa keputusan saya untuk mengabaikannya mulai goyah. 

Saya masih merapal mantra, "Dia hanya ramah, dia hanya ramah," untuk menguatkan hati saya. 

Tapi, kalau dia terus begitu, imun hati saya bisa jadi semakin lemah.

Oh, Allah. Kuatkan hati saya.

***




....Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang