Aku terbangun, sayup sayup aku mencoba mencerna segalanya. Aku melihat sekitar dan yang aku tau sekarang aku berada di rumah sakit karena bau obat obatan langsung menyapa indera penciuman ku, saat aku ingin duduk ternyata kaki dan tangan ku di ikat. Aku melihat seseorang tengah duduk di sofa depan tempat tidur ku namun dia tidak memperdulikan aku, akhirnya aku hanya bisa baring sambil menatap langit langit kamar.
"Kau sudah sadar"
Mendengar itu aku langsung melihat ke sumber suara, orang itu tersenyum ramah ke arahku. Aku sedang berpikir, apakah dia adalah salah satu orang yang aku kenal. Orang itu mendekat lalu semakin tersenyum lebar ke arah ku
"Ah ternyata anda komandan"
"Hei teman, aku sekarang menjadi pimpinan bodyguard"
"Ah ternyata kau hidup senang setelah pensiun"
Orang itu membuka semua tali yang mengikat ku, orang yang tadi duduk di sofa itu kini sedang menodongkan pistol ke arah ku.
"Pak, apa yang anda lakukan", ucapnya
"Jangan khawatir, kau pergilah. Aku akan menjaganya"
"Tapi pak"
"Percaya saja padaku"
Setelah semua ikatan terlepas, aku mendudukkan diriku. Kepalaku masih sedikit pusing, tangan ku di gips dan dahiku sedikit di perban. Dia ternyata adalah mantan komandan ku saat kami masih menjadi tentara bayaran, saat dia pensiun aku masih bekerja menjadi tentara bayaran hingga aku tidak pernah lagi bertemu dengannya. Dia membawaku duduk di taman yang ada di rumah sakit dan dia menceritakan tentang dirinya.
"Ku dengar kau menjadi buronan"
"Iya, apa kau ingin menangkap ku"
"Haha tentu tidak" Ucapnya sambil tertawa, "Aku punya tawaran bagus untuk mu"
Mendengar itu aku tidak menjawab dan hanya melihat ke arahnya
"Bergabunglah dengan ku, memang pekerjaan ini tidak bisa di bilang bersih tapi setidaknya kau mendapatkan hasil yang sesuai"
"Tidak, terimakasih. Aku tidak menerima tawaran pekerjaan berbahaya lagi sekarang"
"Coba kau pikirkan dulu, menjadi bagian ku juga bisa menguntungkan bagimu. Kamu bisa menyamarkan identitas mu sehingga kau bisa hidup bebas"
"Tidak perlu, aku akan bertahan hidup dengan kemampuan ku sendiri"
Setelah mengucapkan itu aku pergi meninggalkan dia, aku sempat ingin di tahan oleh beberapa pengawal namun mantan komandan ku menyuruh mereka untuk membiarkan ku. Aku berjalan menuju kamar ku di temani oleh seorang pengawal, dia hanya sekedar berjalan di dekatku tanpa mengatakan apapun. Saat di dalam lift aku menyandarkan diriku, lift berhenti dan beberapa orang masuk. Aku melihat orang itu, seketika membuat jantung ku berdebar dengan kencang.
Dia, bagaimana dia ada disini.
Saat menjadi tentara, aku mempunyai seorang kekasih namanya adalah ailya. Dia adalah salah satu pengungsi, aku mengajarinya beberapa bahasa yang aku tau hingga akhirnya dia menjadi seorang translator. Namun suatu hari, aku melihat dia sedang menjadi translator untuk sebuah bisnis. Aku hanya melihat nya dari kejauhan, saat dia mengantarkan petinggi pulang tiba-tiba ia di tangkap dan di bawa pergi. Aku berusaha mengejar nya, namun sayang saat aku menemukannya dia telah terkapar. Dengan berat hati, aku membuka penutup kepala dan ternyata ia sudah meninggal dengan kondisi kepala yang pecah. Aku menangis, aku memeluk jasad wanita yang aku cintai itu. Saat aku memeluk jasadnya, tiba-tiba kepala ku di pukul dengan keras hingga kesadaran ku hilang. Entah berapa lama aku pingsan, namun saat aku sadar aku melihat sebuah pistol sudah tersemat di tanganku. Dan dari kejadian itu aku di tuduh sebagai pembunuh dan akhirnya menjadi buronan, aku di hakimi secara sepihak hingga aku harus hidup dalam bayang bayang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Declaration
ФэнтезиDi bawah payung hitam aku berteduh sendirian, terselimuti oleh kabut aku kedinginan dan buta 'Hidup manusia mana yang penuh warna? Hidup manusia mana yang isinya bahagia setiap hari?' Iya, ternyata benar. Tidak ada. Panca indera pun tak mampu melih...
