Chapter 1 : Lost

437 43 5
                                        

Seorang lelaki kecil itu tampak gelisah di atas tempat tidur nya, ia membalikkan badannya ke kanan dan ke kiri untuk mencari posisi yang nyaman namun ia tetap tak kunjung bisa tertidur. Lelaki kecil itu akhirnya turun dari tempat tidur lalu berdo'a, meminta pada tuhan agar dia bisa di beri mimpi indah.

"Ayah"

Ucap lelaki kecil itu ketika melihat cahaya melintas di jendela kamarnya, dengan kaki mungil nya ia berlari keluar kamar dan menuruni tangga untuk menemui ayahnya yang sudah tidak pulang selama beberapa hari. Dengan hati yang girang dan semangat yang meluap luap, ia berjalan menyusuri koridor rumah dengan kaki kecilnya yang tidak beralaskan apapun. Saat ia sudah hampir mencapai pintu, ia mendengar suara benda terjatuh dari kamar ibunya. Dengan ragu akhirnya lelaki kecil itu mendekat, secara perlahan ia terus berjalan sambil memperhatikan cahaya yang terlihat bergerak tidak beraturan dari dalam kamar ibunya.

"Ibu"

Panggil anak lelaki itu, ia dapat melihat jika cahaya yang ada didalam kamar ibunya seketika padam. Ia terus meyakinkan dirinya dan terus melangkah hingga akhirnya ia mencapai kamar ibunya, tangan mungil itu membuka pintu secara perlahan

"Ibu"

Panggil lelaki kecil itu saat ia melihat ibunya terbaring di lantai dengan obat obatan yang berceceran, ia berjalan mendekat dengan langkah kaki yang pasti. Dengan pencahayaan yang minim ia dapat merasakan cairan berwarna merah mengalir hingga mengenai kaki kecilnya, dingin. Itu yang ia rasakan, lelaki kecil itu berjongkok di depan ibunya yang terbaring. Tangannya dengan ragu menghampiri wajah ibunya, namun tiba-tiba matanya di tutup dan ia pun berteriak dengan kencang. Kesadarannya hilang.

Lelaki kecil itu mengerjapkan matanya beberapa kali, ia bangun dan duduk di atas tempat tidur yang asing. Ia melihat sekitar dan tidak menemukan siapapun, lelaki kecil itu turun dan membawa langkah kakinya yang kecil itu untuk keluar dari ruangan. Ia terus berjalan menyusuri koridor yang terasa begitu panjang, sampai akhirnya ia melihat keramaian di sana. Dengan cepat lelaki kecil itu berlari kesana, ia melihat kesana kemari hingga matanya tertuju pada sebuah foto yang terpajang di tengah ruangan.

"Ibu"

Ucapnya. Saat ia hampir mencapai foto ibunya, ia melihat sebuah kotak besar berwarna hitam dan orang orang menyebutnya sebagai peti mati. Tiba-tiba matanya di tutup dan lelaki kecil itu di peluk oleh seorang anak laki-laki yang tidak jauh berbeda darinya.

"Ayo pergi"

Ucapnya, lelaki kecil itu hanya menurut. Setelah kembali ke kamarnya, lelaki kecil itu duduk.

"Ibu kemana, kemarin ibu jatuh. Apa ibu baik baik saja?"

"Ibu... Ibu telah tiada"

Mendengar ucapan itu membuat lelaki kecil itu terdiam, tiba-tiba ia merasa ketakutan. Seseorang wanita masuk lalu berjongkok di depan lelaki kecil, ia tersenyum lalu membawa lelaki kecil itu pergi.

-

Sebuah ruangan berwarna putih, ia duduk. Lalu di sebrang mejanya, terdapat seorang wanita berbaju putih dan pria mengenakan kemeja hitam

"Hai, apa kamu baik baik saja?"

Ucapnya, dia adalah dokter yang akan merawat lelaki kecil itu. Setelah menyaksikan bagaimana ibunya meninggal, tentu saja membuat kondisinya sedikit terganggu. Dan pria yang mengenakan kemeja hitam itu adalah polisi

"Hai, ini dokter. Jangan merasa terganggu, kamu aman disini", ucap sang dokter berusaha meyakinkan

Lelaki kecil itu hanya diam lalu menundukkan kepalanya

"Apa kamu sedih? Apa dokter boleh tau bagaimana kamu melihat ibumu kemarin?", dokter masih berusaha untuk bertanya namun lelaki itu tak kunjung menjawab dan hanya menundukkan kepalanya sambil memainkan jari jarinya.

DeclarationTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang