Karina pulang ke rumahnya dengan membawa koper dan langsung masuk ke kamarnya yang sudah 1 bulan ia tinggalkan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ia menangis di atas tempat tidurnya sampai ketiduran.
Jam 8 malam ibu dan ayahnya pulang, ibunya langsung ke kamar Karina saat tahu putrinya sudah pulang.
" Sayang, kamu pulang juga akhirnya. Mamah sudah membeli apartemen yang kamu mau itu. Mamah mau jual lagi kalau kamu berubah pikiran."
" Karin tetap mau pindah mah, tapi gak sekarang-sekarang. Karin mau disini dulu sementara sambil nyicil mindahin barang-barang."
" Kamu putus sama pacar kamu?" Tanya ibunya.
" Nggak." Karina berbohong, itu ia lakukan karena ia masih mencintai Yeonjun dan hatinya masih belum menerima kalau hubungannya dengan Yeonjun harus putus.
" Oh gitu, hati-hati jangan sampai kecolongan hamil yah sayang, suruh pakai kondom kalau kalian tidur, kamu masih muda, dan papah kamu masih menjabat wakil presiden. Jangan buat malu keluarga yah."
" Iya mah." Karina menjawab dengan malas. Keluarga nya memang sangat ambisius dengan jabatan. Karina lelah berada di rumah itu, ibunya sendiri bahkan jarang menanyakan keadaan hati putrinya itu.
" Ya udah, mamah mandi dulu yah. Nanti temuin papah saat makan malam yah."
" Iya mah."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Tumben kamu pulang?" Tanya ayahnya.
Karina tidak menjawab, ia tetap makan.
" Gimana hubungan kamu dengan pacarmu itu? Kalian sudah putus atau masih pacaran?"
" Masih." Jawab Karina singkat.
" Oh, papa kira sudah putus. Tadinya kamu mau papah jodohkan dengan putra sulung pak presiden."
" Ohok." Karina tersedak. Ia tahu siapa putra sulung pak presiden yang ayahnya maksud. Seorang anggota parlemen dan ia seorang duda.