D2 (58)

80 0 0
                                        

Ending guys huhu gak nyangka😭

Happy reading!


Ia ingin mengakui semuanya bahwa ia rindu juga cinta



Pintu kamar Devano terbuka memperlihatkan seorang laki-laki yang tak lain adalah Rio. Melihat apa yang dilakukan sahabatnya itu membuat ia lekas menghampiri Devano dan menghentikan kelakuan sahabatnya itu.

Ini bukan pertama kali sudah sering ia melihat tangan Devano penuh dengan luka sayatan dan dengan gampangnya Devano hanya tersenyum seolah itu tidak apa-apa.

"Dev, lo apa-apa an sih!" Rio menghentikan tangan Devano dan mengambil silet yang digunakan lelaki itu untuk menyayat tangannya.

"Balikin! Gue butuh itu!"

"Gak!"

Devano memilih diam sambil memperhatikan tangannya yang mengeluarkan darah.

"Yang lo butuhkan bukan silet ini tapi, Dafychi!"

"Iya gue butuh Dafychi! Gue maunya dia sekarang! Tapi, sampai sekarang gue... " Suara Devano terhenti ia mengambil pasukan udara sebanyak mungkin untuk mengisi paru-parunya yang terasa menyempit.

"Gue kirim alamat Dafychi," ujar Rio sambil mengeluarkan ponsel nya.

Seperti anak kecil yang akan dibelikan kembang kapas, Devano senang bukan main mendengarnya.

"Lo serius? Lo tau darimana? Kenapa baru sekarang?" tanya Devano dengan wajah sumringah.

"Udah gue kirim," Rio memilih tidak menjawab pertanyaan Devano barusan.

Devano mengecek ponsel nya benar Rio mengirim sebuah alamat rumah Ia lekas bangkit dan pergi tanpa pamit pada Rio.

"Gitu amat tu anak kalo udah cinta sama cewek." Rio geleng-geleng kepala.

****

Mobil Devano tiba disebuah kompleks perumahan tidak semewah kompleks perumahannya tapi, rumah-rumah yang berdiri disini juga ada yang mewah.

Sampai ia tiba disebuah gerbang yang terbuka Devano memutuskan untuk masuk ke halaman yang cukup luas itu.

Ting Tong!

Devano menekan bel dan tidak lama ada seorang wanita berusia sekitar 35 ke atas membukakan pintu.

"Dengan siapa ya?"

"Devano."

"Ohh.. Ditunggu sama mbak Dafychi,"

Tanpa sadar Devano tersenyum mendengar Dafychi yang menunggu nya. Wanita itu pun mempersilahkan Devano masuk dan membawanya pada Dafychi.

Seorang gadis tengah menyusun berbagai tanaman hias dalam pot dengan wajah yang serius. Itu Dafychi, orang yang setahun ini Devano cari-cari akhirnya, ia menemukannya.

"Mbak! Ini yang namanya Devano?"

Dafychi mengalihkan atensinya pada ART nya itu kemudian, pada lelaki yang sudah lama tidak bertemu dengannya.

Dafychi mengangguk.

Setelah kepergian ART tersebut Dafychi mengajak Devano untuk duduk di kursi gantung.

Bukannya mengobrol mereka malah saling diam menatap berbagai tanaman hias yang ada dibelakang perkarangan rumah.

"Mau apa nyari aku?" Dafychi memulai obrolan ia tahu Devano ini orang yang dingin daripada mereka terus membisu lebih baik Dafychi dulu yang memulai.

D2 || Series Ke-1 || CompleteTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang