19.

1K 79 5
                                        

Cklekk

Suara pintu utama yang terbuka, membuat atensi mereka beralih ke arah sana. Mereka melihat si bungsu yang masuk tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun.

"Rakha? Kok baru pulang? Darimana aja lu?" tanya Kiesha heran saat melihat adeknya baru saja pulang tepat pukul 6.

"Ada urusan. Gue ke kamar dulu, capek." ucapnya tanpa melihat kearah Kiesha dan yang lain, lalu beranjak menuju kamarnya tanpa menghiraukan tatapan bingung semua abangnya karena sikapnya jadi mmm sedikit dingin?

"Sstt bang kayaknya ada yang aneh deh sama Rakha." ujar Afan sembari melihat abangnya satu persatu.

"Iya, ga biasanya Rakha bersikap kayak gitu apalagi sama kita." ucap Rassya.

"Nah iya kalau sama orang lain ga kaget, tapi ini masalahnya sama kita woii!!" sahut Fateh dengan sedikit heboh.

"Santai ga usah heboh juga kali dek." ujar Kiesha.

"Hehehe..."

"Apa Rakha punya masalah?" tanya Zayyan tiba-tiba entah pada siapa.

"Menurut gue iya, karena ga mungkin dia tiba-tiba bersikap kayak gitu." sahut Rey.

"Yaudah nanti coba gue tanya sama dia." ujar Rizwan.

"Tapi hati-hati aja ya Riz kalau tanya. Terus kalau dia emang ga mau cerita ga usah dipaksa, biar nanti dia cerita sendiri sama kita entah itu kapan yang penting jangan buat dia makin tertutup sama kita."

"Iya Sha, lu tenang aja percaya sama gue. Selama yang tanya bukan Afan ataupun Fateh pasti ga akan makin runyam masalahnya."

"Lah kok kita sih bang?!" protes keduanya tidak terima.

"Sadar bego, lu berduakan emosian. Yang ada kalau lu berdua yang tanya bukannya dapat jawaban tapi kalian malah berantem sama Rakha karena kebawa emosi dulu ngehadapin keras kepalanya adek bungsu kalian itu."

"Hmm kalau dipikir-pikir iya juga sih, gara-gara lu sih gue jadi ikut emosian." ucap Afan yang justru melimpahkan semuanya ke Fateh.

"Lah kok gue kena lagi? Siapa suruh lu juga emosian, orang gue ga ada ngajak-ngajak lu."

"Nah kan gini aja udah berantem." ucap Rey dengan malas.

"Hehe maaf bang."

"Udah mending sekarang kita pesen makanan aja, bahan makanan di dapur habis."

"Oke, tapi bentar gue panggil Rakha dulu." ucap Kiesha lalu beranjak dari sana.
.
.
.
Tok tok tok

"Rakha?" panggil Kiesha dari balik pintu.

"Apa?" sahutnya dari dalam tanpa ada niat membukakan pintu.

"Kita mau pesen makanan di luar, lu mau apa? Ayo turun."

"Ga mau."

"Tap-"

"Gue ga mau bang, lu denger ga sih?!" sentak Rakha.

"Lu sebenarnya kenapa sih dek?" ucap Kiesha lirih.

"Yaudah kalau ga mau, tapi nanti kalau lu lapar turun ya. Kita tetap bakal pesenin lu makanan juga."

"Terserah."

Setelah mendapat sahutan yang sedikit tidak menyenangkan itu, mau tidak mau ia turun lagi untuk menemui yang lain.

"Maafin gue bang, gue udah nyentak lu tadi. Gue udah ga sopan sama lu. Tapi gue emang lagi ga mood mau makan." lirih Rakha saat mendengar suara langkah kaki mulai menjauhi kamarnya.

Ia turun dari kasurnya lalu berjalan menuju balkon kamarnya dan duduk di sofa yang terdapat disana. Angin malam langsung menusuk kulitnya, hawa dingin mendominasi. Tapi ia tidak peduli akan hal itu.

THE WILLIAM'S [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang