15.

1K 83 30
                                        

Brukk

Zayyan jatuh pingsan. Ia begitu shock mendengar berita yang ada di depannya.

"Zay/bang Zay?!!"

Mereka semua terkejut melihatnya, lalu segera menghampirinya.

"B-bang Zayyan hiks hiks bangun bang. Abang ga boleh kayak gini. Ayo kita cari tau kesana hiks..." ucap Rakha sembari terus mengguncangkan badan Zayyan.

"Dek? Iya kita kesana cari tau. Tapi bentar ya abang bawa Zayyan ke kamar dulu kasian dia." ucap Kiesha lalu mengangkat tubuh lemas Zayyan.

"Abanggg, itu beritanya ga bener kan? Iya kan bang? Itu salah kan bang? Ga mungkin hiks hiks....Rakha ga mau kehilangan papah Reyhan sama mamah Ayla hikss. Ayo kita cari tau kesana banggg hiks hiks ayo bangg hiks Rakha pengen tau sendiri. Hiks hikss..."

"Iya, tunggu bang Kiesha dulu ya dek." ucap Rey sembari menenangkan adeknya.

"K-kenapa hiks jadi ini alasan kenapa bang Zayyan nyegah mereka untuk berangkat tadi hiks hiks Rakha nyesel harusnya Rakha ikut nyegah tadi biar mereka ga berangkat hiks hiks..."

"Ssttt udah ya dek jangan nangis lagi, abang ga mau kamu ikut drop."

"Hiks hiks..."

Drrttt

Tiba-tiba ada sebuah panggilan masuk dari salah satu ponsel mereka.

"Eh bang itu bukannya ponselnya bang Zayyan ya? Ada telepon tuh bang. Angkat gihh."

"Bentar gue angkat dulu." ucap Rizwan sembari mengambil ponsel yang tergeletak dilantai itu lalu segera mengangkatnya.

"Halo"

"Apa benar ini dengan keluarga dari bapak Reyhan Algio William dan ibu Ayla Gissela William?"

"Iya pak benar, ada apa ya?"

"Kami dari pihak kepolisian, mau mengabari bahwa bapak Reyhan dan ibu Ayla dinyatakan meninggal dunia saat kecelakaan pesawat beberapa menit yang lalu. Dimohon keluarga buat datang ke Rumah Sakit Husada."

Deg

"I-iya pak makasih."

"Iya sama-sama dek."

Tuttt

Runtuh sudah pertahanan Rizwan, kini air mata mengalir di kedua matanya.

Kakinya melemas membuat semua adeknya bertanya-tanya siapa sebenarnya yang menelpon tadi sampai membuat abangnya kayak gitu.

"Rizz kenapa?" tanya Kiesha yang baru saja menghampiri mereka.

"Sha.." lirihnya lalu menggelengkan kepalanya.

"Bilang Rizz kenapa? Jangan kayak gini."

"Papah Reyhan sama mamah Ayla ga selamat hiks.." ucap Rizwan sembari terisak.

Mereka semua terkejut. Pertahanan mereka ikut runtuh. Mereka semua kini menangis mendengarnya.

"Hiks hiks ga mungkin hikss papah mamah ga mungkin ninggalin kita hiks hiks." racau Rakha.

Afan langsung memeluk adeknya yang terus terisak. Sebenarnya ia tidak jauh berbeda ia juga masih menangis tapi adeknya lebih butuh itu.

"Katanya kita suruh ke Rumah Sakit Husada." ucap Rizwan.

"Yaudah ayo kita kesana."

"Bang Zayyan gimana?" tanya Rassya.

"Salah satu dari kita harus nemenin dia."

"Biar Fateh aja bang yang nemenin bang Zayyan."

"Yaudah kalau gitu baik-baik ya di rumah, kita berangkat dulu." ucap Kiesha sembari mengusap surai hitam Fateh dengan lembut.

THE WILLIAM'S [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang