32. Extra Part 2

1K 67 12
                                        

"Hahaha udahlah ma, pa. Emang harusnya kita ga berharap lebih sama kalian. Kalau emang kalian ngelakuin ini semua karena terpaksa harusnya pertanyaan ini bukan pertanyaan yang sulit buat kalian jawab. Tapi kayaknya kalian udah terlanjur nyaman sama keterpaksaan itu yang buat kalian lupa sama darah dagingnya sendiri."

"Ga gitu sa-"

"Kalau nggak kenapa kalian susah buat jawab keinginan kita ma? Kenapa?! Kita cuma pengen kalian balik sama kita, yang notabenenya anak kalian, keluarga kalian sendiri! Bukan malah sama orang ga jelas yang saat ini entah memiliki hubungan apa sama kalian. Cuma itu ma, pa, keinginan Kiesha sama adek-adek, sesusah itu ya buat balik ke kita lagi?"

"Kiesha selama ini berusaha kuat di depan adek-adek, menurut Kiesha itu harus karena Kiesha paling gede disini. Kiesha harus nguatin adek-adek, selalu ngasih harapan ke adek-adek kalau kalian bakal balik secepatnya, saat dimana mereka kangen sama kalian. Setelah itu Kiesha selalu ngerasa bersalah ma, pa, udah ngasih mereka harapan kayak gitu padahal Kiesha sendiri ga tau kapan kalian akan balik. Kiesha selalu mikirin, jawaban apalagi yang harus Kiesha katakan kalau adek-adek terutama Rakha tanya lagi tentang mama sama papa...."

Kiesha menghela nafas panjang sebelum melanjutkan perkataannya.

"Ada kalanya Kiesha capek ma, pa, ngehadapin ini semua. Kiesha butuh mama sama papa. Kiesha ngerasa belum mampu ngejaga adek-adek sendiri."

Mereka semua terdiam, baru kali ini mereka mendengar keluh kesah si sulung. Biasanya dia diam dan hanya mendengarkan keluh kesah mereka.

"Kiesha ga sekuat itu ma, pa, Kiesha capek. Kiesha selalu gagal buat ngejaga adek-adek. Dan ini suatu kegagalan yang paling buat Kiesha menyesali diri sendiri, Kiesha gagal, Kiesha gagal ngejaga Rakha sampai dia meninggalkan kita semua. Kiesha ga becus jadi abang. Ketakutan terbesar Kiesha terjadi ma, pa. Kiesha ga mau kehilangan adek, Kiesha ga bisa. Tapi..." Kiesha menunduk dan air mata yang ia tahan sedari tadi menetes kala itu juga.

"Bangg..."

"T-tapi lagi-lagi Kiesha harus ditekan buat jadi kuat lagi, Kiesha harus nguatin adek-adek yang lain. Kiesha ga boleh lemah dihadapan adek-adek, Kiesha harus kuat hehe t-tapi nyatanya abang ga sekuat itu ma, pa hiks hiks hiks... kenapa? Kenapa Tuhan ngambil adek aku secepat ini hiks hiks......" tubuhnya meluruh dilantai dan tangisnya pecah saat itu juga dihadapan mereka semua.

Mereka sontak ikut menangis, sosok yang selama ini terlihat kuat di hadapan mereka, sosok yang selama ini nguatin mereka nyatanya dia ga sekuat itu, ia berperang melawan batinnya sendiri untuk tetap kuat walaupun sebenarnya tidak demi adek-adeknya yang lain.

Rizwan berjalan mendekati kembarannya kemudian memeluknya dengan erat.

"K-kenapa lu ga pernah ngeluh ke gue Sha? Gue kembaran lu, lu boleh ngeluh ke gue walaupun gue juga adek lu. Tapi seenggaknya bisa sedikit nenangin pikiran lu. Lu selalu mikirin kita tapi kenapa lu ga pernah mikirin diri lu sendiri. Maaf Sha, maaf gue terlalu ga peka sama lu yang notabenenya kembaran gue sendiri. Maaf...." ucapnya yang kini ikut menangis bersama yang lainnya.

"Gue capek Rizz, tapi disisi lain gue punya kalian yang harus gue prioritasin, gue ga boleh egois, gue ga mau kalian ngerasa ga diperhatiin."

"Tapi sekarang kita yang ngerasa egois ga pernah mikirin perasaan lu gimana, lu yang udah berperan besar buat ngejaga kita selama mama papa ga ada. Lu terlalu ambil peran sampai lu ga inget sama diri lu sendiri."

"Itu udah kewajiban gue sebagai anak sulung Rizz, kalau bukan gue siapa lagi? Gue ga mau bebanin pikiran kalian. Cukup gue yang nanggung itu semua. Karena itu udah tanggungjawab gue sebagai abang kalian."

"Tapi ga gini caranya Sha, kalau kayak gini lu nyakitin diri lu sendiri. Inget Sha walaupun lu paling gede disini, tapi lu ga sendirian ada kita adek-adek lu Sha."

"G-ga bisa Rizz..." ucapnya lemah.

"Ga bisa gimana Sha? Seenggaknya lu punya gue kembaran lu, gue ngerasa jadi kembaran yang ga becus karena ga peka sama perasaan lu gimana selama ini."

"J-jangan bilang kayak gitu Rizz, lu udah jadi kembaran gue yang always bantuin gue buat nasehatin adek-adek."

"Tetap aja Sha gue ngerasa ga ber-"

"Stop....g-gue ga mau denger ucapan lu lagi..." lirihnya begitu lemah dan beberapa detik kemudian tubuhnya meluruh di dekapan kembarannya dan matanya terpejam perlahan yang sontak membuat lainnya panik bukan main.

"Abang!!" teriak yang lainnya dan sontak mendekati kedua abangnya tersebut berbeda dengan kedua orang tuanya yang mematung di tempat.

"Sha bangun, ga lucu sumpah." ucap Rizwan cemas sembari menepuk pipi kembarannya beberapa kali tapi tidak ada respon sama sekali.

Melihat kembarannya tumbang, badan dia rasanya ikut lemas. Terlihat dari tangannya yang gemetar saat menepuk pipi Kiesha.

"Bang Kiesha bangun bang hiks hiks, bang bangunnn..." ucap Afan sembari menangis.

"Pa! Jangan diem aja ini bantuin angkat bang Kiesha, ayo kita bawa ke rumah sakit!" sentak Fateh tanpa sadar kala melihat kedua orang tuanya justru diam di tempat tanpa ada pergerakan sama sekali.

"E-eh maaf, iya ayo kita bawa Abang ke rumah sakit." ucapnya dan sontak mendekat lalu mengambil alih tubuh Kiesha yang berada di dekapan Rizwan.

"Ck. daritadi kek." decak Afan kesal.

Sontak Rey menyenggol lengan adeknya dan menatapnya seolah berkata 'jangan kayak gitu dek', yang membuat afan memutar bola matanya malas.

"Ma, pa, Rizwan mohon kalian balik sama kita..." ucapnya lirih.

"Bang, gue mohon jangan ikut down ya." ucap Rassya saat mendengar ucapan lirih tersebut.

"T-tapi dada gue sakit banget Sya.." ucapnya melemah.

"Bang jangan bercanda deh." ucap Rassya dengan nada sedikit tinggi sontak membuat lainnya menoleh ke arah mereka berdua.

"Ken-"

Brukk

"Astaghfirullah bang Rizwan!!"

Belum selesai Rey tanya, tapi mereka kembali di kejutkan dengan Rizwan yang tiba-tiba ambruk dengan Rassya yang ikut ambruk krna belum siap untuk menyangga.

"Pa, mending kita bawa mereka ke kamar aja, ga usah di bawa ke rumah sakit. Nanti Rey telpon om Saga."

"Okeyy, kalau gitu. Kamu sama Rassya tolong angkat bang Rizwan, kita bawa ke kamar bang Kiesha aja." ucap sang papa, lalu beranjak menuju kamar Kiesha diikuti yang lainnya.

"Fateh berharap kalian sadar dan balik sama kita ma, pa.." gumamnya.


























































































































Ada Extra Part 2 nya nihh wkwk
Mau Extra Part yg ke 3 ga nih??
Kalau mau stay terus ya guysss
Btw maaf karna baru bisa update lagi:) Setelah sekian lama gw anggurin nih cerita kira" masih ada yg nungguin ga??
Okeyy see you next part🤗
Love u all🥰


04-09-24

THE WILLIAM'S [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang