23.

954 64 3
                                        

"Maafin papa, papa ga ada niatan buat kasih harapan buat adek kalian."

"Terus apa pa?! Nyatanya papa ga dateng temuin adek." ujar Kiesha.

"Papa ga bisa, ada alasan yang buat papa ga bisa temuin adek kalian."

"Apa alasannya?"

Rayyan diam, bingung mau jawab apa.

"Kenapa papa diam? Ga punya alasan atau emang ada yang papa tutupin dari kita?"

"Jawab pa jangan diem aja!! Papa ga budeg kan?!!" sentak Afan tanpa peduli kalau dikatakan anak tidak punya sopan santun.

Plakk

Tamparan keras mendarat di pipi Afan tepat setelah ucapannya selesai. Sontak Afan memegang pipinya yang panas akibat tamparan tersebut. Wajahnya memerah menahan tangis dan amarah.

"Papa?!!" teriak Kiesha sembari menarik tangan Afan untuk ia lindungi.

"Papa ga ada hak buat sakitin adek aku. Aku selama ini berusaha buat lindungi mereka, tapi kenapa papa malah sakitin mereka??"

"M-maafin papa nak..."

"Kiesha mohon mending papa pergi dari sini!!".

"Tap-"

"Kenapa pa?! Papa mau sakitin adek aku yang lain juga?!"

"G-ga kamu jangan ngomong kayak gitu bang, papa mau perbaiki sikap papa ke kalian."

"Perbaiki apa pa?! Nyatanya sikap papa makin parah. Sebelum papa ninggalin kita, papa udah ga terlalu peduli sama kita. Papa lebih fokus ke pekerjaan papa daripada kita, cuma mama yang selalu ada buat kita. Tapi sejak kalian pamit ada pekerjaan ke luar negeri kalian menghilang gitu aja tanpa kabar, dan sekarang balik-balik papa buat kacau semuanya dan tanpa adanya mama disamping papa-"

"Papa berubah, Kiesha mending papa yang dulu daripada yang sekarang. Mending papa ga peduli sama kita, daripada papa yang sok peduli sama kita tapi malah suka main tangan-"

"Cukup Rakha yang udah celaka gara-gara ulah papa, jangan sakitin adek aku yang lain pa..." ujar sendu Kiesha.

"Jangan sakitin adek-adek aku yang udah Kiesha jaga selama ini pa, Kiesha mohon..." ucap Kiesha lalu menunduk menyembunyikan air mata yang kini turut menetes dikedua pipinya.

"Kalau papa ga bisa jaga emosi papa, mending papa pergi dari kehidupan kita. Kalau boleh jujur Kiesha masih butuh papa buat jaga mereka, tapi kalau dengan sikap papa kayak gini mending Kiesha aja yang jaga mereka."

"Ga sayang, papa ga bakalan pergi ninggalin kalian. Papa mau perbaiki ini semua."

"Apa ucapan papa bisa kita percaya setelah apa yang papa lakuin ke Rakha?" tanya Rizwan menyela.

"Bis-"

"Rayyan!!" panggil seseorang dengan menggelegar membuat mereka semua menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung kecuali Rayyan yang sudah pucat pasi.

"D-diana?"

"Pa, siapa dia?" tanya Fateh dengan raut penuh kebingungan.

"Kalian ga tau siapa saya?"

Mereka menggeleng.

"Ouhh papa kalian belum cerita ya ke kalian. Kenalin saya Diana, istri papa kalian sekaligus mama baru kalian." ucapnya sembari bergelayut manja pada lengan Rayyan.

Mendengar penuturan wanita tersebut, sontak mereka terkejut.

"Ga!! Mama kita cuma satu mama Kay, bukan lu jalang!!" teriak Afan dengan tajam.

"Mas anak-anak kamu ga punya sopan santun banget sama yang lebih tua."

Rayyan cuma diam.

"Pa? Apa benar dia istri baru papa?" tanya Rassya tenang.

"I-iya."

"Apa karena dia, papa ga temuin Rakha? Karena jalang ini?!" ujar Kiesha.

"Mmm-"

"Jawab pa, apa susahnya tinggal jawab!"

"Iya saya yang ngelarang papa kalian buat temuin adek bungsu kalian itu, kenapa?!" ujar Diana dengan berjalan mendekati Afan dan berdiri tepat di belakangnya.

"Kenapa papa nurut sama jalang kayak dia sih?!!" ucap Fateh kesal.

"Kenapa papa ga ada pembelaan sama sekali, papa takut sama jalang kayak dia?!!" ujar Rey ikut kesal.

"Hahaha papa kalian takut karena kalau papa kalian nentang omongan saya, kalian bakal celaka-" ucapnya sembari menyeringai, lalu mengeluarkan pisau lipat dari dalam tasnya dan mengulurkan ke leher Afan tepat dari belakang, membuat mereka semua melotot kaget.

"Dan sekarang papa kalian malah temuin kalian semua sekaligus, dia main-main sama saya. Mau lihat salah satu dari kalian celaka lagi, nyusul adek bungsu kalian hmm?"

"Diana, aku mohon jangan sakitin anak-anak aku."

"Ini salah kamu sendiri karena ga dengerin ucapan aku Rayyan."

"Turunin pisau itu jalang sialan!!!" sentak Rey sembari mendekat.

"Kalian mendekat, ini pisau bakal menancap di leher adek kalian saat itu juga."

Mereka terdiam.

"Bangg..." ucap Afan lirih, entah kenapa keberaniannya yang tadi muncul sekarang lenyap gitu aja saat dihadapkan benda tajam itu.

"Kamu tenang ya dek, abang bakal bantu kamu." ucap Kiesha berusaha menenangkan.

"Pa!! Papa jangan diam aja, bantuin adek!! Kenapa disaat kayak gini papa malah diam aja, papa takut sama ancaman jalang kayak dia?! Apa karena dia istri papa jadi papa ga ada niatan buat hentiin dia? Papa lebih ada di pihak dia daripada kita?! Pa?!!" teriak Rassya emosi.

"Kamu bakal tau gimana perasaannya jadi papa Rassya?!! Jadi kamu diam aja!!"

"Papa bilang apa tadi?! Diam?! Papa ga salah nyuruh aku diam disaat adek aku dalam ancaman kayak gini?!"

"Ouhh apa Rakha celaka juga karena jalang itu pa?! Terus habis itu papa bantuin Rakha seolah-olah papa penyelamat disana?!! Padahal papa juga dalang dibalik kecelakaan itu?! Papa kerjasama sama jalang itu?!!" ucap Rassya sembari menunjuk Diana.

Diana tersenyum senang melihat itu, ia merasa menang karena buat mereka berantem dan berakhir hancur.

"Stop Rassya! Ucapan kamu makin ngelantur. Ga mungkin papa ngelakuin itu!"

"Terus kenapa sekarang papa diam aja? Kenapa papa ga usaha buat tolongin Afan pa?? Kenapa?!!!"

Tanpa menghiraukan ucapan Rassya, kini Rayyan melihat ke arah Diana dengan tatapan memohon.

"Aku mohon sama kamu, lepasin anak aku. Aku bakal nurutin semua perkataan kamu, asal kamu lepasin Afan." ucap Rayyan memohon.

"Hmm..."

"Aku mohon Diana, jangan bawa anak aku dalam kesalahan aku. Mereka ga tau apa-apa."

"Pa??"























































~Tbc~
Double up??

21-10-23

THE WILLIAM'S [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang