Minji harus menggadaikan masa mudanya menjadi istri dosennya karena kecerobohan dirinya sendiri. Sementara dia memiliki kekasih dan tetap menjalin hubungan meskipun dia sudah menjadi istri dosennya.
Bagaimana kisahnya?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Mr. Kau sudah sembuh?" Tanya Minji di dalam mobil itu.
" Belum."
" Kau masih demam?" Minji panik, dia meletakkan tangannya di kening Soobin.
" Ini yang masih sakit." Soobin menarik tangan Minji yang bermula di kening ke dadanya.
" Apa aku menyakitimu?" Tanya Minji.
" Kau selalu menyakitiku Minji. Tapi semuanya terhapus karena rasa cintaku begitu besar."
Minji memalingkan wajahnya, dia menatap jendela mobil itu. Sekelilingnya begitu sepi, mobil Soobin di parkir di dekat semak belukar, jauh dari perkemahan.
Soobin mendekati tubuh Minji, dia menyentuh dagu Minji.
" Sudah 1 minggu lebih, aku belum di charge sayang."
Minji yang juga gampang terpancing langsung menoleh, dia melayani ciuman suaminya itu sambil tangannya membuka resleting jeans milik Soobin.
" Bentar, aku matiin dulu lampunya." Soobin memastikan semuanya aman.
Mereka berdua mengatur posisi senyaman mungkin di dalam mobil itu.
" Kita di jok belakang aja sayang." Soobin mengajak Minji pindah.
" Yang, jongkok aja." Perintah Soobin.
" Sempit tahu ih." Kepala Minji hampir terpentok jok kursi depan.
" Bentar, aku mundurin dulu kursinya." Soobin dengan gesit menggeser kursinya sehingga cukup ruang untuk keduanya bermain.
Minji mulai memainkan es krimnya, tangan kanan Soobin memegangi rambut Minji agar wajahnya tetap terlihat, tangan kiri Soobin ia sandarkan di kepalanya dan sandaran jok.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Yang, coba lebih di gigit, tapi pelan-pelan."
Slurp slurp.. suara mulut Minji menyeruputnya. Dan Soobin merem melek di buatnya.