Status: On going ~~~
Farel tidak mengerti, tahu-tahu sang Ibu menyuruhnya untuk mencari pasangan hidup hanya karena ingin memiliki cucu seperti teman arisannya.
Atas permintaan konyol itu, Farel jelas saja menolak. Gila saja! Walau 26 tahun, dia le...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. . .
Waktu melesat begitu cepat. Ada banyak hal yang mereka lewati selama masa pendekatan yang telah disepakati. Keduanya sudah melewatinya dalam 4 bulan terakhir. Dan semua itu cukup membuat Farel memahami bagaimana Keyla selama ini.
Sifat, Kebiasaan, makanan kesukaan, Hobi dan semua hal tentang Keyla, Farel tahu.
Keyla yang suka dengan makanan pedas, Keyla yang lebih suka telur dadar ketimbang telur ceplok. Keyla yang benci dengan berbagai jenis Teh dan banyak lagi hal yang ia tahu tentang gadis itu.
Artinya kebersamaan mereka kini tinggal satu bulan lagi. Yang Farel sesali kenapa waktu begitu cepat berlalu? Tidak bisakah waktu diulang lagi dari awal?
Ia berdiri di balkon atas sambil menatap birunya langit malam. Gedung-gedung bertingkat dengan lampu-lampu kota yang menyala terlihat meriah ketika malam hari tiba. Jalanan Raya juga masih ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang. Sama dengan isi kepalanya yang tidak pernah sepi. Benar kata orang-orang, Jakarta tidak pernah tidur.
"Kak?"
Suara Aura tiba-tiba membuatnya menoleh sejenak. Kemudian ia kembali menatap apa yang ada di depannya.
"Ngelamunin apa sih?"
"Siapa juga yang ngelamun."
Aura berdecak. Farel pikir Aura tidak memperhatikan sedari tadi?
"Halah emang aku nggak tau?"
"Apa sih, Ra. Orang lagi lihat pemandangan."
"Kak Farel tuh emang lihatin pemandangan, tapi pikirannya ke yang lain, kan?"