Bertemu Dia

0 0 0
                                        

Weekand adalah hari yang paling dinanti, tidak harus bangun pagi, dan buru-buru pergi ke kampus karena takut terlambat, semua bisa dilakukan dengan santai di hari sabtu ini.

Sesuai dengan penjelasan kakak kacamata dua hari yang lalu, hari ini Nadia dan Kiska berada di lapangan depan kampus bersama anggota UKM lainnya.

Terlihat beberapa dari mereka ada yang menyebar keseluruhan penjuru lapangan. Ada yang saling kenalan, bertukar nomor, bermain ponsel, caper ke kakak tingkat bahkan ada yang duduk diam sambil memperhatikan sekitar, seperti yang dilakukan oleh Nadia dan Kiska.

"Aku gak nyangka ternyata banyak yang ikut UKM ini" bisik Kiska kepada Nadia.

"Kalau mau ngundurin diri sekarang masih bisa kan?"

"Jangan dong, ingat tujuan kita ikut UKM ini!"

"Tujuan kamu kali, bukan tujuanku"

"Kita itu satu paket Nadia. Jadi tujuanku, tujuanmu juga"

Langkah kaki seorang berhenti tepat didepan Nadia dan Kiska yang sedang duduk lesehan diatas rumput beralaskan sendal. Membuat percakapan keduanya berhenti, dan beralih menatap seorang lelaki.

"Kamu ikut UKM ini juga?" tanya Fikri

"Loh, abang ikut UKM ini juga?" bukannya menjawab Nadia malah bertanya balik karena terkejut.

"Iya. Gak di sekolah gak dikuliah, gak di UKM aku jumpa nya kamu lagi kamu lagi" ucap Fikri.

Kiska yang tidak tahu apa-apa menyenggol lengan Nadia, meminta penjelasan.

"Ini abang kelasku dulu, namanya bang fikri"

"Sekarang juga masih jadi seniormu"

"Fikri, abang kelas Nadia dari sd sampe sekarang dan juga seniormu disini" ujar Fikri sambil mengulurkan tangannya kepada Kiska.

"Kiska bg, temen sekamarnya Nadia, dan junior abang disini" ucap Kiska menyalami senior barunya itu sambil tersenyum canggung.

"Kamu gak bilang ada abang kelasmu disini" bisik Kiska yang masih bisa di dengar oleh Fikri.

"Ya, mana ku tau kalau dia ikut UKM ini juga"

"Gak sopan ya ngomongin orang didepannya langsung"

Mereka berdua tersenyum menampilkan deretan gigi untuk menghilangkan kecanggungan.

Tidak lama kemudian, rapat pun dimulai. Para anggota yang menyebar dilapangan tadi berkumpul. Duduk dibawah pohon membentuk lingkaran.

"Selamat sore semuanya, perkenalkan saya Fajar, ketua panitia untuk temu ramah 2018, seperti yang sudah disepakati oleh seluruh panitia. Temu ramah akan dilaksanakan minggu depan, diharapkan kepada semua anggota baru, ikut serta dalam kegiatan kita untuk mempererat tali persaudaraan kita. Sedikit gambaran, untuk acaranya, kita akan membagi menjadi beberapa tim. Untuk nama-namanya akan kami umumkan sehari sebelum acara nanti" ujar ketua panitia temu ramah saat rapat perkenalan anggota.

Matahari perlahan mulai tenggelam, rapat telah selesai. Para anggota sudah banyak yang pulang dan menyisakan beberapa orang saja di lapangan.

Nadia pun mengajak Kiska untuk pulang ke kos. Namun fikri datang menghampiri.

"Kalian mau pulang naik apa?" tanya Fikri basa basi.

"Naik angkotlah" jawab Nadia

"Angkot uda gak ada jam segini. Yaudah kalian pulang abang anter. Sebentar. Abang cari kawan satu lagi." Setelah mengucapkan itu Fikri berlari meninggalkan mereka. Nadia dan Kiska diam di tempat, menunggu Fikri.

Dari kejauhan Nadia melihat Fikri berbicara dengan seseorang sambil menunjuk kearah mereka. Lelaki itu seperti tidak asing dimatanya. Tubuh Nadia seketika membeku, ia sangat mengingat siapa lawan bicara Fikri. Oh tidak, dia sang lelaki aneh. Jangan bilang kalau dia yang akan mengantarkannya pulang! Sial!

Dari sekian banyaknya organisasi di kampus ini. Kenapa harus satu organisasi sama dia? Dunia yang katanya luas ini, mengapa begitu sempit? Nadia bergumam dalam hati. Padahal Nadia sangat berharap agar tidak bertemu lagi dengan lelaki itu. Namun mengapa malah bertemu disini? Dan sekarang mereka berada di satu oganisasi yang sama? Kebetulan yang sangat menyebalkan.;

Fikri dan Syahrul mengambil sepeda motor yang terpakir tidak jauh dari sisi mereka berdiri dan menghampiri Nadia dan Kiska.

"Yuk pulang. Nadia kamu dianter sama abang ini ya" ucap Fikri sambil menujuk seorang lelaki yang sedang duduk diatas sepeda motor sambil tersenyum kearahnya.

"Aku sama abang aja ya" pinta Nadia setengah berbisik.

"Abang ini maunya nganterin kamu" jelas Fikri

Nadia hanya menghela nafas gusarnya. Ia tidak enak menolak. Dengan berat hati ia pun naik keatas motor pria itu.

"Jagain adekku ya bang" teriak Fikri yang sudah menaiki sepeda motor dengan Kiska yang berada di belakangnya. Mereka berdua pun melaju menjauhi kampus.

Sepanjang jalan, Nadia hanya diam. Tidak ada niatan untuk berbicara dengan pria didepannya. Ia merasa kesal dengan keadaan yang mempertemukan kembali dirinya dengan Syahrul. Satu-satunya orang yang ingin Nadia hindari.

"Jadi nama kamu Nadia, gak keren. Lebih keren Painem" ujar lelaki itu sambil mengarahkan kaca spionnya kearah perempuan yang ada dibelakangnya. Wajah Nadia pun terlihat jelas.

"Enak aja ganti nama orang sembarangan" Omel Nadia.

"Aku tetap manggil kamu painem!"

***

Karet GelangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang