Chapter 5

61 3 0
                                    

Aku memakai celana santaiku lalu hendak beranjak tidur tapi lagi-lagi aku merasakan sesuatu dihatiku saat melihat wanita cantik yang sedang tertidur pulas itu. Tidak! Aku tidak bisa mencintainya! Aku tau diri dan sadar siapa aku! Aku disini dan bersamanya bukan untuk jatuh cinta kepadanya akan tetapi untuk menjaganya sebagai amanat dari raja. Aku tidak bisa jatuh cinta kepadanya.
Tetapi.. setiap melihatnya tertidur, melihatnya makan, mengoceh dan betindak polos dan lucu, terus-terusan membuatku jatuh cinta pada gadis polos itu.
Aku langsung menyelimutinya dengan selimutku begitu melihatnya meringkuk kedinginan karena memang udara Venesia saat itu sedang sedikit lebih dingin dari biasanya. Aku sayang kepadanya dan aku sadar itu saat aku mulai merasa cemas ketika melihatnya terluka, aku tahu aku harus terus melindunginya dimanapun dan kapan pun.
Ku elus rambut lurus halusnya dengan jemariku lalu menelusuri setiap lekuk wajah indahnya itu, mata indahnya, hidung mancungnya, hingga jemariku berhenti pada sesuatu yang sangat indah dan lembut, berwarna merah muda dann... sangat menggoda.. aku berusaha sekeras mungkin untuk mengontrol detak jantungku yang sudah tidak beraturan lagi. Akhirnya aku memutuskan untuk beranjak tidur sebelum sebuah tangan lembut menahanku.
"Bisakah kau menemaniku tidur disini? Akuu.. tidak bisa tidur." pintanya dengan mata yang masih terpejam.
Akhirnya aku pun menemaninya tidur dan duduk disamping ranjang dekat kakinya sambil menepuk-nepuk kaki Margarethe. Lalu saat kurasa Margarethe sudah tertidur aku pun beranjak tidur. Baru beberapa saat memejamkan mata tiba-tiba saja sesuatu yang berat menimpa tubuhku dari atas.
"Aduhh.. Margarethe? Kamu tidak apa-apa?"
"Akuuuu... mimpi burukkkk." jawab Margarethe lalu langsung menangis sembari masih berada diatas tubuhku.
"Margarethee?" panggilku ke Margarethe berharap Margarethe memaklumi keadaanku dengannya yang membuatku kesusahan, merasa sedikit sesak nafas.
Lalu seperti mengerti apa yang ada dipikiranku Margarethe langsung beranjak dari atas tubuhku dan duduk disampingku masih sambil menangis.
Aku pun duduk menghadap Margarethe dan berusaha menenangkannya.
"Kau tidak apa-apa?" tanyaku cemas melihatnya seperti ini.
Margarethe hanya menggelengkan kepalanya dan air matanya masih terus mengalir membuatku makin khawatir.
"Ada apa?" tanyaku lembut berharap dia akan segera merasa baikkan.
Aku berusaha menenangkannya dengan menghapus air matanya.
"Akuuu bermimpi burukk.. akuu bermimpi tentang kecelakaan yang menimpa ibuku dan aku saat aku masih kecill.." jelasnya sambil terisak.
"Ibukuu meninggall sedangkan akuuu.... aku hanya terdiam dan tidak bisa menyelamatkannyaaa.." lanjutnya lalu berhenti dan menangis sejadi-jadinya membuatku merasa bersalah.
"Hmm, ayo sini." aku menuntunnya ke arah jendela dan membuka jendela hotel berharap angin luar dapat menenangkan Margarethe ditambah dengan pemandangan sungai dan lampu-lampu indah yang cantik saat jam malam.
Aku membiarkannya selama beberapa saat melihat pemandangan malam kota Venice.
"Terima kasih Benn."
"Kau selalu membuatku merasa nyaman dan aman." lanjutnya.
"Aku sudah merasa lebih baik sekarang." tambahnya
"Ayo." aku menuntunnya kembali ke tempat tidurnya.
Aku mendudukinya ditempat tidur lalu memberinya sedikit air mineral agar ia dapat merasa sedikit lebih tenang lalu mengambil air kompres dengan lap handuk. Aku mencoba untuk mengelap wajahnya yang sembab agar dia bisa merasa lebih segar lalu mengelap telapak tangannya lalu telapak kakinya.
"Mengapa kau sangat baik Ben?" aku langsung menghentikan aktivitasku saat Margarethe bertanya seperti itu.
Ingin rasanya aku berkata karena aku sangat mencintainya tapi itu tidak bisa.
"Tidurlah." aku berharap dia bisa kembali tidur, sembari aku mengambil gelas yang berada di tangannya untuk meletakkannya di meja.
"Benn.. akuu, takuttt.."
"Tenanglahh, aku ada disinii" jawabku kepadanya berusaha menenangkan sembari menghampirinya dan duduk di tepi ranjang sambil menggenggam tangannya.
"Tiap malam, terkadang aku suka bermimpi tentang kecelakaan itu. Aku tidak bisa tidurr. Aku takutt.." katanya dengan ekspresi cemasnya.
"Aku akan menjagamu."
"Bennn.."
"Maukah kau menemaniku tidur?"
"Tentu.. aku akan tetap berada disini."
"Maksudkuu, disini.." aku merasakan kaku ditubuhku saat Margarethe memintaku untuk menemaninya tidur, hanya melihatnya tertidur dari jauh pun jantungku sudah ingin copot rasanya apalagi jika sedekat itu.
"Ben?"
Aku harus bisa!! Demi Margarethe. Demi Margarethe Turner!! Tidak apa-apa, aku bisa menahan diri, kurasa.
"Baiklah" akupun langsung berbaring di sampingnya dan membiarkan kepalanya tertidur di dadaku.
Aku pun memeluknya agar dia bisa merasa lebih hangat dan aman.
Aku berusaha sekeras mungkin untuk menenangkan detak jantungku yang sudah berdetak tidak karuan lagi, aku mencoba menarik napas dan menghembuskannya setenang mungkin, berusaha bisa bersikap tenang.
Aku bisa merasakan rambut halus dan lembutnya menyentuh kulit dada bidangku ini.
Aku memeluknya erat, aku tidak ingin melepasnya. Apakah aku tidak boleh egois untuk sekali ini saja?
Bolehkah aku mencintainya? Bolehkah aku mengabaikan resikonya untuk sekali ini saja? Tuhan, aku sangat mencintainya.. Bolehkan aku mencintai dan memilikinya Tuhan? Dan dari detik ini aku sadar bahwa mulai dari sekarang, hanya dialah harta dan nyawaku..

Chasing TurnerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang