Chapter 3

69 3 0
                                    

"Done". Setelah merasa selesai mengobati kaki Margarethe yang memar gara gara dirinya Ben langsung membereskan kota obat tadi untuk dikembalikan ke pelayan kereta tadi. Ya, mereka sedang duduk di kelas VIP karena memang sebenarnya dan seharusnya disinilah mereka beristirahat selama perjalanan jika saja mereka tidak salah kereta akan tetapi dengan bujukan Ben semuanya dapat diatasi. Dia merasa memang sudah kewajibannya bukan untuk memberikan kenyamanan kepada Margarethe. Ben ingin saja langsung berdiri dan mencari pelayan kereta tadi jika saja dia tidak melihat ekpresi tidur Margarethe yang sangat lucu dan.... cantik. Melihat Margarethe yang tidur dengan sangat lelap membuat Ben melupakan niatnya untuk mencari pelayan tadi dan lebih memilih untuk duduk disamping Margarethe. Ben langsung menyandarkan kepala Margarethe kebahunya segera karena takut kepalanya tersantuk. Lalu tanpa disadari Ben pun diam-diam mengagumi wajah gadis itu yang sangat cantik, bersih, putih merona dan bibir ituuu... Secepat mungkin Ben menghentikan aksinya untuk menyentuh bibir gadis itu, merasa detak jantungnya yang tak karuan Ben cepat-cepat mengambil air minum yang berada di meja, tak jauh didepan dirinya dan menegak air itu habis. Ben berdiam diri melihat ke arah luar kaca, mengagumi keindahan gunung-gunung yang lewat sedari tadi hingga tertidur dan tak menyadari jika kepala keduanya sudah saling bersentuhan satu sama lain karena posisi kepala Ben yang menindih kepala Margarethe.
..............
"Permisi saya pesan menu breakfast untuk dua orang."
"Baik pak, ada yang lainnya pak?" tanya wanita cantik yang sepertinya juga pelayan dikereta ini.
"Aku mau roti bakar dengann... Eh kok dia nggak dengar aku?" tanya Margarethe sambil menatap sebal ke arah pelayan kereta yang cukup manis tadi.
"Sudahlah, aku juga sudah pesan breakfast untuk kita berdua. Tunggu saja, sebentar lagi akan datang."
"Tapi aku cuma bisa makan roti bakar kalau pagi-pagi."
Ben hanya bisa mendengus mendengar ucapan manja Margarethe yang sebenarnya menurut Ben lumayan lucu dan membuat dirinya sedikit terkikik karena tingkah lucunya itu tetapi berhasil ditahan takut ketawan oleh Margarethe.
Tadi aku bangun duluan, untuk saja tidak ketawan Margarethe kalau aku tidur berdekatan dengannya dan kepalaku menindih kepalanya walaupun masih mengantuk aku memaksakan diriku tetap terjaga agar bisa menjaga dirinya dan membetulkan posisinya agar bisa merasa lebih nyaman. Lalu aku pun meminta bantal kepada pelayan dan membenarkan posisi Margarethe agar bisa tertidur lebih lelap dan menyelimutinya dengan jaket kulit hitamku ini dan segera bergegas pindah ke kursi seberang Margarethe.
"Wahhhhh, kita dimana sekarang?"
"Scusami, ancora vecchio di arrivare alla stazione?"
"forse...., di 15 minuti, signore"
"okay.. grazie"
"Prego, Signore"
"15 menit lagi" kata Ben kepada Margarethe sebelum akhirnya tertawa karena melihat ekspresi lucu yang terpasang diwajah polos Margarethe. Melihat Ben yang tertawa puas, membuat Margarethe tambah bingung, belim habis rasa bingungnya karena ternyata sosok asing yang bersamanya ini sangatlah mengejutkan ditambah lagi sifatnya yang sangat susah ditebak.
"Kenapaa?"
"Kamu yang kenapa?" jawab Ben lalu dilanjutkan dengan tawanya yang belum habis.
"Kamuuu.... bicara bahasa apa? Bukannyaaaa.. itu bahasa itali ya? Kamu bisa bahasa Itali?"
"Tidak terlalu tetapi kalau hanya untuk percakapan umum, aku sedikit bisa."
"Aku pernah tinggal di Italia selama 1 tahun jadi setidaknya aku tau dan masih ingat beberapa?"
"Jadii...?"
"Maksudnya?" Ben bingung dengan pertanyaan Margarethe yang menurutnya sangat menggantung.
"Jadi apa? Kamu jadi apa di Italia? Emangnya kamu ngapain?"
"Aku belajar memasak bersama temanku, dia chef yang cukup terkenal di kotanya."
"Kamuu cheffff??" tanya Margarethe dengan sedikit antusias mengetahui orang asing yang bersamanya ini ternyata seorang chef.
"Dulu, tapi sekarang tidak lagi."
"Kenapa?"
"Aku tidak memiliki biaya yang cukup untuk melanjutkan kuliahku."
"Diii....?"
"Di Perancis, 2 tahun lalu jadi aku memutuskan bekerja untuk nantinya uang yang sudah bisa aku kumpulkan bisa aku pakai untuk biaya kuliahku."
"Wahhh..." Margarethe menatap Ben dengan sangat kagum karena sikap dewasa Ben yang belum tentu bisa di lakukan oleh Margarethe.
Baru saja ingin bertanya lagi tentang Ben, Margarethe mendengar bunyi yang sepertinya merupakan pengumuman kalau kereta sudah tiba di tempat. Sebenarnya Margarethe tidak terlalu sedih karena berdua dengan Ben ditempat yang ia tidak pernah kunjungi ini sebelumnya, Ben tampann, sangat tampan malah, berpostur tinggi tegap, yahhh sempurna lahhh untuk ukuran laki-laki dannn matanya yang indah membuat Margarethe yakin pasti banyak sekali wanita yang menginginkannya lalu yang membuatnya takut bagaimana kalau Ben tidak sebaik dugaannya karena melihat sikap Ben yang cuek dan dingin terhadapnya juga bagaimana kalau karena Ben bukanlah orang yang baik dan hal itulah malah yang akan membuat Margarethe jatuh cinta kepadanya...?
"Sudah sampai"
"Ahh, iyaiya." aku pun segera berdiri tapi segera ditahan oleh Ben, Ben segera berdiri dan menyuruhku untuk tetap duduk.
"Tunggu disini, aku akan mengambil koperku dulu, tunggu sampai penumpang turun dulu baru nanti kita turun." kata Ben yang sedikit terdengar sepertj perintah yang harus dituruti oleh Margarethe mau tak mau, jujur saja Ben takut jika Margarethe akan terhimpit oleh pengunjung walaupun disini tertib tapi tetap saja dengan keadaan kakinya yang masih bengkak Ben tidak ingin terjadi hal lainnya yang bisa menciderai Margarethe.
"Cepat yaaaaa!!!" teriak Margarethe ke Ben yang sedang mengambil kopernya.
"Ayoo!!" ajak Ben ke Margarethe sambil menawarkan tangannya.
"Ayokkkk!!" jawab Margarethe dengan semangatnya sambil mencoba berdiri
"Aduhh!" Margarethe merasa kakinya masih sedikit nyeri mungkin karena bengkaknya yang belum hilang.
Dengan cekatan Ben langsung menahan Margarethe agar tidak terjatuh dan langsung menjatuhkan kopernya untuk menahan Margarethe.
Ben langsung memegang tangan Margarethe dengan tangan kirinya dan memegang pinggang Margarethe dengan tangan kanannya untuk membantunya berdiri dengan perasaan yang cemas "Masih sakit?"
"Sedikitt, masih nyerii." jawab Margarethe dengan sedikit meringis saat mencoba berdiri walaupun dibantu oleh Ben. Margarethe tidak menyangka bawa kakinya akan membengkak seperti ini dan untung saja ada Ben yang bisa membantunya, setidaknyaa..
Aku dan Ben segera turun dari kereta, dan berhubung Ben membantuku untuk berjalan jadi aku juga membantunya membawa kopernya yang ternyata cukup berat sihhh bagiku.
"Sini, biar aku saja." Ben berusaha mengambil kopernya yang kubawa dengan tangan kananku ini yang langsung kutolak, walaupun memang berat dan merasa kesusahan tapi aku kasihan melihat Ben yang tangannya sudah penuh karena satu tangan memegang tanganku dan yang lainnya memegang pinggangku masih harus membawa kopernya sendiri.
"Sudahhh... aku bisa kok."
Aku bisa melihat Ben yang menatapku tapi kuacuhkan saja karena aku tidak mau tidak melihatku lemah karena tohhh walau bagaimanapun aku juga kuat.
Ben dan aku menyusuri stasiun yang cukup besar ini sampai Ben membawaku ke tempat yang sepertinya merupakan bagian informasi. Ben mendudukiku dulu di kursi yang tidak jauh dari bagian informasi, menyuruhku untuk menunggu sebentar. Setelah beberapa saat aku melihat Ben sudah selesai berbincang dengan wanita cantik bagian informasi itu dan langsung mendatangiku dan membantuku berjalan lagi keluar dari stasiun ini. Ben segera menyetop taksi dan berkata kepada Pak Supir yang aku sendiri bingung tapi malas untuk bertanya karena rasa lelah yang sudah menyelimutiku.

Chasing TurnerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang