WARNING 21+ ONLY!
Waktu adalah obat terbaik untuk menyembuhkan luka, begitulah yang sering orang lain katakan. Namun, faktanya tidak sejalan dengan kenyataan. Lima tahun sudah berlalu, makin keras James berusaha melupakan sosok Safa, makin besar pul...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
James terbangun, karena tubuhnya terasa sulit digerakkan. Tidak hanya itu saja, kepala pun seperti ditimpa beban ribuan ton. Hangover. Laki-laki itu ingin segera mandi air hangat, tapi begitu menunduk, keadaan tubuhnya saat ini tengah dibungkus selimut dan diikat menggunakan tali. Geram, itulah yang dia rasakan saat ini. Sebelumnya, tidak ada yang berani melakukan hal seperti ini pada James, seberapa mabuk pun laki-laki itu. Dia berjanji akan memberikan pelajaran pada siapa pun yang sudah membuatnya menjadi seperti ini.
"I'll make you regret it," gumam James dengan sepasang iris mencari si pelaku. Begitu menatap sofa, dia menangkap tubuh seorang perempuan tengah terlelap di sana. Dia menggunakan celana boyfriend jeans, benar-benar bukan tipe perempuan yang akan James bawa check in. Tubuh bagian atasnya diselimuti kardigan rajut. Begitu mata James tertuju pada lantai, di samping sofa terdapat sepatu bot kulit yang diperkirakan tingginya sebatas betis.
James menggeleng-geleng, karena perempuan itu tidak terlihat menarik. Bagaimana bisa mereka berada dalam kamar yang sama? Namun, laki-laki itu sedikit bersyukur, karena tidak terjadi apa-apa di antara mereka semalam.
"Hei, you! Bangun dan cepat buka ikatan di tubuhku!" teriak James, karena tidak nyaman berada dalam posisi seperti itu. Ditambah, dia harus bekerja hari ini. Terlambat tidak masalah, asalkan tidak bolos.
Terikan pertama, tidak ada respons apa-apa. Perempuan itu masih terlelap. Begitu pun dengan teriakan kedua dan ketiga. Hingga di teriakan keempat, barulah perempuan itu mengerjap. Dia mengubah posisi dari yang tadinya telentang menjadi duduk. Refleks, kardigan yang digunakan untuk menyelimuti tubuh bagian atas melorot. Saat itulah James bisa melihat tang top hitam yang panjangnya hanya beberapa senti di atas pusar. Tidak ada yang menarik. Postur perempuan itu seperti finalis Indonesia's Next Top Model. Tipe kutilang dara alias kurus, tinggi, langsing, berdada rata.
"Who are you?"
Mendengar pertanyaan demikian, sontak saja Kalila berdecak. Dia memakai kembali kardigannya, dilanjutkan dengan mengenakan bot. "Gue Kalila, calon pacar Logan. Lo beruntung, karena nggak gue buang ke TPA."
"What?" James melotot mendengar respons Kalila. Dibuang katanya, apa dia tidak salah dengar? Selama ini banyak orang yang berlomba-lomba ingin tidur dan menjadi kekasih James, tapi ini ... sudahlah, laki-laki itu speechless. Dia bergidik mengetahui Logan menyukai perempuan seperti ini.
"What?" tanya Kalila menirukan gaya bicara James. Dia bangkit, kemudian bersedekap di depan perut. Keningnya mengerut, meneliti wajah laki-laki yang masih telentang di atas ranjang. "Gue ingetin, ya, kalau lo mau mabok, ya, mabok aja. Tapi jangan nyusahin orang juga kali, apalagi kalau sampe nyusahin calon laki gue."
Niatnya, James yang akan memberikan perempuan itu pelajaran. Namun lihatlah yang terjadi kini, keadaan malah berjalan sebaliknya. James yang mendapat pelajaran, ditambah nasihat dan peringatan juga. "Come on! Aku itu member VIP di C'est La Vie. Jadi-"
"Songong lo! Mentang-mentang member, terus bisa bertingkah semaunya begitu?" sambar Kalila membuat James melotot. Di detik berikutnya perempuan itu segera mengibaskan tangan di udara. "Udahlah, cukup, cukup. Btw, lo nggak usah bilang terima kasih sama gue. Kelihatannya lo teman Logan, itu berarti lo teman gue juga, ya ... meski terpaksa. Gue pergi dulu. Bye, Mister Wiski."
Setelah itu, Kalila melenggang meninggalkan James yang ternganga. "Woi! Lepasin ikatannya!"
Begitu sampai di depan pintu, Kalila berbalik. Dia kembali masuk, membuat senyum James terbit. Benar saja, perempuan itu berjalan menghampiri ranjang. Namun bukannya membuka ikatan, dia malah melemparkan sesetrip Antimo. "Buat lo. Jangan lupa restui gue sama Logan, ya, Teman."
Wajah James memerah menahan kemarahan, apalagi kini dia melihat Kalila benar-benar meninggalkan kamar tersebut dengan wajah polos seolah tanpa dosa. Menatap Antimo yang tergeletak di sampingnya, laki-laki itu murka. Dia berteriak, "Sialaaan! Kamu pikir aku mabuk perjalanan?"
***
"Jam berapa ini?" tanya papa James, membuat yang ditanya nyaris menyemburkan kopi yang baru disesapnya. Dia murka, melihat sang putra baru datang tengah hari. Setelah lima tahun berlalu, hubungan antarkeduanya berjalan menjadi makin tidak baik. Dulu, sang ayah masih bisa mengobrol dengan tenang, tapi tidak dengan sekarang. "Jangan mentang-mentang kamu anak Papa, terus bisa datang dan pergi seenaknya! Kamu itu harusnya jadi contoh buat karyawan lain, James! Bukannya setiap malam mabuk-mabukan, main perempuan. Sampai kapan kamu bakal begini terus? Kamu itu sudah dewasa, tapi sikapmu seperti anak-anak!"
James tidak menyahut. Dia hanya membuang pandangan, menatap deretan gedung dari jendela ruang kerjanya. Setelah kepergian Safa, James secara sepihak memutuskan pertunangan dengan Grace. Hal itu tentu membuat kedua orang tuanya merasa kecewa, terutama sang papa. Iren, Lenka, dan perempuan yang dikencani laki-laki itu pun diputuskan tanpa penjelasan. Lima tahun belakangan, James berhubungan dengan perempuan murni hanya untuk kesenangan semata, tanpa melibatkan perasaan.
"Papa tidak mau tahu, pokoknya kamu harus memperbaiki hubungan dengan Grace. Keluarganya masih kasih kesempatan, tinggal kamu yang berusaha!" Setelah mengatakan kalimat itu, papa James pergi. Seperti biasa, perintah tanpa bantahan.
James sudah biasa mendapatkan perlakuan seperti ini. Bagi papanya, apa pun yang James lakukan hanya bersenang-senang dan mempermalukan nama baik keluarga Gunawan. Dia memang tak seperti Ludwiq yang gila kerja, tapi ... James selalu berusaha melakukan semuanya sebaik mungkin.
"Jangan terlalu dimasukkan ke dalam hati, James. Kamu tahu sendiri bagaimana tabiat papamu," pesan Rusli, asisten sekaligus sahabat sang papa sebelum menyusul atasannya keluar dari ruangan James.
James tahu Jegu Luxury dirintis oleh sang kakek mulai dari nol. Dulu Jegu hanya homestay kecil yang terletak di tempat wisata, tapi berkat usaha kakek dan sang papa, kini Jegu Luxury mulai mengepakkan sayap di kota besar. Bukan dalam bentuk homestay, melainkan hotel. Selain kedua orang tersebut, pernikahan antara papa dan mamanyalah yang membuat Jegu Luxury bisa seperti ini. Kakek dari pihak mama James yang berperan besar menyuntikkan dana serta memperkenalkan relasi untuk berinvestasi di Jegu Luxury.
Pernikahan bisnis bukanlah hal yang aneh. Para pebisnis meyakini, cinta akan datang seiring berjalannya waktu. James sendiri bukannya tidak menyukai Grace. Perempuan itu cantik, juga berpendidikan tinggi. Namun entah mengapa, kepergian Safa membuat gairahnya mengoleksi perempuan lenyap. Dia ingin fokus mencari Safa, dan tidak mau direpotkan dengan rengekan perempuan-perempuan lain yang minta ditemani melakukan ini dan itu.
Kembali pada keterlambatan James hari ini. Laki-laki itu tentu tidak akan terlambat dan mendapatkan omelan sang papa, apabila Kalila membantunya membukakan ikatan. Tadi, untung saja ada orang yang datang karena mendengar teriakannya. Jika tidak, mungkin sampai saat ini James masih terjebak di kamar motel tersebut.