CHAPTER 9 : UNDANGAN

141 3 0
                                        

James masih bertanya-tanya, kenapa Logan memberikan Kalila pina colada, sedangkan dirinya hanya diberikan sekaleng soda saja

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

James masih bertanya-tanya, kenapa Logan memberikan Kalila pina colada, sedangkan dirinya hanya diberikan sekaleng soda saja. Bukankah bisa jika jenis minuman yang diberikan Logan sama? Dengan begitu, Logan tidak perlu repot menyediakan dua jenis yang berbeda.

Apakah Logan memiliki perasaan pada Kalila? Jika ya, kenapa dia malah menolak perempuan itu? batin James menerka-nerka. Kejadian di balkon C'est La Vie sudah berlalu, tapi sampai sekarang pertanyaan tersebut belum menemukan jawaban.

"Mungkin dia sedang menjalankan aksi tarik ulur," komentar laki-laki itu menyimpulkan. Belakangan memang tengah menjadi tren aksi tarik ulur sebelum jadian. James beranggapan, si Bartender melakukan hal demikian supaya membuat Kalila penasaran. Dia pun menggelengkan kepala, karena biasanya hal seperti itu kerap kali dilakukan oleh perempuan, bukan laki-laki. Selain metode tarik ulur, sepengetahuan James, ada juga metode jinak-jinak merpati. Sayangnya kedua metode itu tidak akan berlaku jika objeknya adalah James.

"Apa aku memang tampan, atau perempuan-perempuan itu hanya mengincar kekayaan keluargaku saja, ya?" katanya sambil mengusap-usap dagu menggunakan ibu jari. Selama ini laki-laki itu tidak pernah memedulikan ketertarikan para perempuan pada dirinya, yang penting, mereka bisa membuat James senang. Itu saja sudah cukup.

Di tengah aktivitas bermonolog, pintu ruang kerja laki-laki itu diketuk dari luar. Sebelum dipersilakan, sesosok perempuan tersebut masuk begitu saja. Dia tersenyum dan melambaikan tangan begitu sudah berdiri di depan meja kerja sang mantan tunangan. "Halo, James. Apa ... kamu sibuk hari ini?"

"Grace." James memperbaiki posisi duduk. Dia bergegas menggerakkan tangan, memberi isyarat agar perempuan itu duduk. Dilihat-lihat, Grace ini terlihat anggun, meski sikap manja tidak pernah lepas dari image-nya. "Ada apa? Tumben mampir."

Grace menaruh beberapa paper bag di atas meja. "Papa dan Mama baru pulang dari Swiss, dan menyuruhku memberikan oleh-oleh itu padamu. Semoga kamu suka, ya."

James mengambil salah satu paper bag, guna mengintip isinya. Terdapat berbagai macam kudapan khas negara tersebut. "Thank you. Harusnya kamu nggak perlu repot-repot, Grace. Bisa menelepon saja, agar aku membawa oleh-oleh ini ke rumahmu."

"Memang boleh?" Pascamemutuskan pertunangan, ini adalah edisi perdana keduanya berjumpa. James yang seolah menjadi orang tersibuk di dunia sangat sulit sekali untuk ditemui. Orang tua Grace berkeras meminta perempuan tersebut untuk memperbaiki hubungan mereka, tapi dia sangsi melakukannya karena pesan terakhir yang dikirimkan untuk James tidak pernah dibalas. Jujur, Grace ingin mengembalikan keadaan seperti dulu, tepatnya saat mereka masih memiliki status.

"Why not?"

"Pesan terakhir yang kukirimkan kepadamu saja tidak dibalas," ucap Grace hati-hati dengan suara terlampau pelan. Namun, kondisi yang hening, membuat James bisa mendengar kalimat tersebut.

"Ah, sorry. Waktu itu kondisinya hectic. Ke depannya, aku pasti akan selalu membalas pesanmu."

Senyum terukir di bibir Grace. Respons James tersebut dia anggap sebagai peluang. Jika sudah seperti ini, tidak menutup kemungkinan bahwa hubungan keduanya bisa kembali seperti dulu. Grace tidak sabar ingin menceritakan kejadian ini pada kedua orang tuanya. Mereka pasti senang, apalagi bila Grace benar-benar kembali menjalin hubungan dengan James. "Aku terima permintaan maafmu, tapi dengan satu syarat."

"Syarat?" James tertular senyum Grace. Perempuan itu memang selalu membawa vibes positif pada orang di sekitar. Dia jadi merasa sedikit menyesal, kenapa dulu rela memutuskan pertunangan hanya karena Safa menghilang. Padahal, dulu James sudah mulai menaruh rasa pada Grace. "Sebutkan apa syaratnya."

Grace membuka ritsleting tas, mengeluarkan sebuah tiket, lalu mengulurkan benda tersebut pada James. "Datanglah ke acara pameran lukisan tunggalku. Aku akan sangat senang bila kamu menyempatkan waktu untuk hadir."

"Oke. Aku pasti akan datang." Tanpa pikir panjang, James mengambil tiket tersebut dari tangan Grace.

"Kalau begitu, aku pamit dulu. Sampai jumpa, James." Grace bangkit, dia melambaikan tangan, sebelum keluar dari ruang kerja James. Di dalam hati sorak-sorai saling bersahutan. Perempuan itu tidak bisa berhenti tersenyum, membayangkan James akan hadir di acara pameran lukisan nanti.

***

"Grace datang?" tanya Amelia sambil meletakkan nasi campur di atas meja kantin. Perempuan itu duduk di hadapan James yang tengah menyantap makan siang. Dia terheran-heran, karena tidak biasanya laki-laki itu makan di kantin kantor.

"Ya. Kamu cemburu?" jawab James sambil mengumbar senyum.

Amelia berdecak dilanjutkan dengan tertawa. "Apa aku terlihat seperti orang cemburu?"

James menyipitkan mata, meneliti tingkah laku Amelia. Alih-alih terlihat cemburu, dari nada suara perempuan itu malah terdengar keantusiasan. Dia heran sendiri, karena setelah putus dengan Amelia bukannya bermusuhan, persahabatan malah terjalin makin erat. "Sayangnya nggak. Tapi ... misal orang tuaku menyuruh agar aku segera menikah, lalu aku belum menemukan perempuan yang cocok, tanpa pikir panjang aku akan memilih menikahimu saja."

"Lebih baik kamu menikahi Grace." Amelia mengibaskan tangan di udara berulang kali, menunjukkan penolakan.

"Why? Aku tampan, kaya, juga memiliki segalanya. Apa yang kurang?" James merasa tidak terima mendapat penolakan.

"Kurangnya, kamu nggak bisa hidup hanya dengan satu perempuan." Jawaban Amelia sontak membuat James mati kutu. Meski dibantah, toh faktanya memang seperti itu. Sekalipun sudah memiliki pasangan, kebiasaan buruk James menggoda perempuan tidak bisa dihilangkan. Kadang laki-laki itu menganggap godaannya hanya candaan semata, tapi tidak dengan yang diajak bercanda. "Jadi, tadi Grace datang buat apa?"

"Hanya kasih oleh-oleh. Orang tuanya baru kembali dari Swiss. Kalau mau, sepulang kerja tunggu aku di lobi." James kembali menekuni makanannya. Dia sudah tidak berselera menggoda Amelia, karena akhirnya pasti akan seperti tadi. "Grace juga memintaku menghadiri pamerannya."

"Wah, hebat." Amelia tidak bisa menyembunyikan kekagumannya pada Grace. Selain melukis, perempuan itu pun piawai menari balet. Dia jadi terheran-heran, bagaimana bisa Grace membagi waktu antara melukis dan menari balet. "Perlu bantuan buat beli buah tangan?"

James buru-buru menggeleng. "Kami baru bertemu lagi setelah sekian lama. Jangan buat dia berpikir terlalu jauh mengenai hubungan kami."

"Apa salahnya memberi hadiah? Anggap saja sebagai ucapan selamat, karena sudah bisa mengadakan pameran tunggal," bantah Amelia tidak setuju. Yang diketahui publik, James dan Grace masih bertunangan. Akan terlihat aneh bila laki-laki itu menghadiri pameran tanpa membawa apa-apa.

"Akan kupertimbangkan nanti." James menyerah, mengingat hari ini Grace datang hanya untuk mengantar oleh-oleh. Dia memang tipe orang yang tidak suka berhutang budi. "Aku duluan. Ada rapat setelah jam makan siang."

Sekarang barulah Amelia tahu alasan James menghabiskan waktu makan siang di kantin, itu karena akan diadakan rapat setelah makan siang. Adikusuma pasti akan ada dalam rapat tersebut, jika tidak, otomatis James akan lebih memilih makan siang di luar. Saat ini, setelah tiba di ruangannya, laki-laki itu pasti akan menekuni file demi file bahan meeting.

"Semangat!" teriak Amelia begitu James sudah berada di ambang pintu keluar kantin. Perempuan itu bahkan sampai mengepalkan tangan di udara, hingga membuat orang-orang yang berada di sana menoleh ke arahnya dan James secara bergantian.

Pina ColadaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang