|7|seven

116 20 3
                                    

Kedua alis Jaehyun berkedut saat didengarnya Kim Taehyung memanggil nama pasangan dansanya malam ini. Oh, tidak, coret itu. Pasangan dansanya malam ini adalah Lily. Bukan Lee Taeyong.

Dapat dirasakan oleh Jaehyun tubuh ramping Taeyong membeku saat mendengar namanya disebut oleh si penyelenggara pesta negeri dongeng ini. Namun Jaehyun tahu benar bahwa kemampuan Tiffany dan timnya sama sekali tidak dapat diragukan. Bahkan Jaehyun sendiri pun tak yakin ia akan mengenali Lee Taeyong dalam penyamarannya saat ini jika bukan karena ia sendirilah yang mengatur segalanya seperti ini.

Jaehyun mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggang Taeyong yang ramping. Bahkan ia dapat merasakan tekstur lembut dan berumpak gaun yang dikenakan Taeyong mengikuti lekuk tubuhnya itu dengan baik pada telapak tangannya. "Oh? Kau mengajak seorang laki-laki untuk jadi pasangan dansamu?"

"Bukan aku. Tapi adikku yang gagah berani ini ingin mengajak sang primadona klub dance untuk pergi ke pesta dansa bersamanya. Bukan begitu adikku?" Kim Taehyung membalas Jaehyun dengan smirk yang terurai diwajah tampannya sambil melirik Mingyu sesekali.

Jika Nakamoto Yuta atau mungkin Tiffany mendengarnya mengatakan hal barusan itu, Jaehyun tak tahu lagi harus ditaruh di mana mukanya.

Mingyu mengangguk lalu menaikkan sebelah alisnya samar sebelum menimpali, "Kau tahu Lee Taeyong?"

Jaehyun mengusap pinggang Taeyong yang mengeras dalam kegelisahan dan ketakutan akan terbongkarnya jati dirinya. Ingin Jaehyun katakan pada Lily di pelukannya ini bahwa Tidak, Kim Mingyu atau siapapun di ballroom ini tidak tahu bahwa Lee Taeyong adalah Lily.

"Gadis-gadis membicarakannya di kampus." timpal Jaehyun santai.

"Mereka punya selera yang bagus." Mingyu menyunggingkan senyum.

Ada sesuatu dari cara Mingyu mengucapkan kalimat barusan yang membuat Jaehyun mengeratkan tangannya kembali di pinggang Taeyong bahkan mungkin tanpa disadarinya sendiri. Jaehyun menarik sudut bibirnya dan berkata, "Jadi menurutmu memilihnya sebagai pasangan dansamu malam ini adalah ide bagus?"

"Mingyu hari ini adalah hari yang indah, alangkah baiknya jika kau bisa menahan dirimu" Taehyung menyela percakapan diantara dua pria tampan itu.


Mingyu menjentikkan jarinya saat seorang butler yang membawa nampan bundar keperakan dengan empat gelas cocktail melintas tak jauh dari tempatnya dan Jaehyun bersama gadisnya kini berdiri. "Dia akan jadi pasangan dansa yang mempesona." sambung Mingyu tanpa memperdulikan perkataan kakak tirinya. Bahkan tanpa berpikir sedikitpun untuk menjaga ucapannya di hadapan banyak orang yang mengerubungi mereka seperti ini.

"Dan menurutmu akan mengalahkan gadis tercantik sedunia yang akan kubawa malam ini?" Jaehyun menaikkan sebelah alisnya. "Patut kuberi tepuk tangan optimismemu yang luar biasa itu."

Mingyu terkekeh pelan saat sebelah tangannya dengan elegan meraih gelas kaca tinggi berisi cocktail buah berwarna merah dan kuning cerah dari atas nampan perak bundar yang disodorkan butler yang kini tengah membungkukkan badannya penuh hormat. "Apa kau tahu mengapa lebih dari dua per tiga anggota klub menggantungkan kepercayaan mereka padaku malam ini daripada padamu?"

"Karena mereka bodoh, tentu saja." ujar Jaehyun.

Gelas kaca berkaki tunggal yang tinggi dengan puncak permukaan gelas melebar itu disodorkan Mingyu ke arah Taeyong yang masih membatu di sebelah Jaehyun. "Mereka cukup pintar untuk ingat bahwa kau adalah pria terakhir di dunia ini yang bisa membuat seorang gadis merasa istimewa," sangkal Mingyu pada Jaehyun, namun sepasang bola matanya melekat pada manik-manik Emerald dalam soket mata Taeyong. "Kau tidak tahu cara memperlakukan seorang wanita dengan benar."

The Cinderella's Late Night (JAEYONG)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang