Tunjungan Street

1 0 0
                                    

Sesampainya di Indomaret aku membeli beberapa camilan, minuman, dan es krim. Saat memilih es krim kami memiliki selera yang berbeda, aku mengambil es krim rasa stroberi dan dia rasa cokelat. Setelah kami selesai membeli apa yang kami mau, aku mengatakannya kalau aku lelah dan hari juga sudah mulai larut malam, kamu berjalan menyusuri trotoar jalan tersebut menuju hotel. Saat aku berjalan aku mengeluh kepadanya, karena kakiku rasanya sudah pegal dan mau patah.

"Ih capek banget ya, rasanya kakiku mau patah." aku bicara seperti itu agar dia peka dan memberikanku tumpangan pada pundaknya, lalu dia mengambi barang yang kubawa dan langsung membungkukkan badannya ke arahku.

"Sini sayang, naiklah ke punggungku ini, tenang aja empuk kok. Kalau misal gak enak pukul aja ya punggungku." siapa bapak dari anak ini ya tuhan, kenapa dia sungguh manis dan pengertian, siapa yang tidak salah tingkah dengan sikapnya kepada pacarnya.

Lalu, aku naik ke punggungnya dan dia menggendongku di sepanjang jalan, selain dia menggendongku dia juga tetap mengucapkan banyak omongan dan ocehan dari mulutnya seperti biasa.

Kami berdua terlihat layaknya seperti adik kakak yang saling mencintai dan tidak ingin kehilangan satu sama lain, saat kami sampai di bibir trotoar dan akan menyebrang jalan, dia menurunkanku dan menggandengku seperti biasanya.

"Sayang, ey turun dulu ya bentar, mau nyebrang dulu." dia membangunkanku yang hampir tertidur. Kemudian, kami menyebrang jalan dan para kendaraan berhenti seketika seperti memberikan penghormatan kepada kami berdua. Setelah menyebrang dia menawarkan kembali tumpangan punggungnya.

"Sini gendong lagi yuk." dia langsung setengah membungkuk dan sudah menyiapkan tangan di belakang punggungnya. Aku melihat itu, langsung ikut membungkuk dan menempatkan mukaku didepan kepalanya, dan aku menepuk punggungnya.

"Gak usah sayang, aku udah gak capek lagi kok." aku berbicara dengan lucu kepadanya.

"Yakin kah? nanti sambat lagi di kamar." dia bertanya seakan-akan khawatir kepada kesehatanku.

"Heem" aku bicara menggumam sambil menggelengkan kepalaku.

Lantai Dansa dan Surabaya Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang