"Pa, kapan mau pergi lagi?" tanyaku pada Papa ketika kami sedang makan malam di sebuah restaurant di salah satu mall di daerah Jakarta Timur.
"Memangnya kenapa? Mau minta oleh-oleh lagi?" tanya Papa kemudian menyumpit chicken katsu yang dipesannya.
"Gapapa. Cuma nanya aja."
"Papa gatau sih kalo deket-deket ini. Tapi bulan depan Papa harus ke Papua selama 2 minggu."
"Dua minggu? Lama banget Pa," aku memasang muka badmood.
"Ya mau gimana lagi? Papa kan kerja demi kamu, biaya hidup dan sekolahmu. Papa ngelakuin ini karna Papa sayang sama kamu. Kalo Papa gak sayang kamu, mana mungkin Papa bela-belain ke Papua."
Papa benar juga. Semua ini beliau lakukan demi aku. Aku jadi terharu!
Ketika sedang asik makan, terlintas dipikiranku tentang Mama. Dulu kami bertiga sering makan diluar setelah Papa pulang dari luar kota. Kini, hanya aku dan Papa yang bisa makan diluar rumah seperti ini.
"Pa...." panggilku pelan. "Besok kan hari minggu. Pulang dari gereja ke makam Mama yuk!"
"Oke, Papa setuju!"
"Makasih ya Pa, karna Papa belum mau gantiin Mama dengan orang lain."
Papa berhenti mengunyah. Mungkin Papa shock?
"Papa mana mungkin gantiin Mama kamu. Mama satu-satunya orang yang ada dihati Papa. Kemarin, sekarang, besok dan selamanya."
So sweet banget sih Papaku ini! Jadi terharu lagi!
"Makasih lagi ya Pa!" aku mengembangkan senyum bahagia dan haru.
-TP-
Orang-orang berhamburan keluar dari gereja tepat pukul 11. Aku dan Papa langsung masuk ke mobil dengan cat hitam milik Papa. Keinginanku untuk bertemu Mama hari ini akan segera terkabulkan.
Perjalanan dari gereja ke TPU tempat Mama dimakamkan 3 tahun lalu memang tidak memerlukan waktu yang lama. Setelah membeli bunga, aku pun tiba pada pukul 11.23 di TPU.
"Selamat hari Minggu, Ma," aku berjongkok didepan makam Mama. " Maaf ya Ma aku baru kesini lagi setelah hampir satu bulan. Sekarang aku dan Papa mau berdoa dulu ya!"
Selesai berdoa, aku melanjutkan perbincanganku dengan Mama, sedangkan Papa pergi sebentar untuk membeli minum.
"Ma, aku udah jadi anak baru nih! Sekolahku namanya Merpati Putih. Anak-anaknya asik kok, pada gak sombong lagi..." ujarku sampai aku teringat sesuatu.
"Tapi ada satu yang sombong, Ma! Namanya Gembel Hip Hop, nama aslinya Zio. Dia ngeselin banget, Ma! Setiap ketemu dia aku pasti dapet sial. Kemaren aja handphone-ku jatuh gara-gara dia," aku menceritakan semua kejadian yang kualami bersama Zio. "Udah gitu Ma, dia sekelas sama aku! Sial banget 'kan, Ma?!"
Tiba-tiba Papa datang menghampiriku dengan sebotol minuman.
"Pa, aku mau ketoilet dulu ya!" kataku setelah meneguk minuman yang dibelikan Papa.
"Yaudah. Jangan lama-lama dan hati-hati ya!" balas Papa.
"Oke!" aku menjawab lalu pergi.
Ketika aku mau kembali ke makam Mama, aku melihat seorang cowok yang aku kenal sedang berjongkok didepan makam seseorang.
Zio.
Diam-diam, aku kembali ke makam Mama dan memperhatikannya. Tak lama kemudian, dia pergi dari sana dan menaiki motornya yang diparkir didekat mobilku.
"Pa, aku kesana sebentar ya!" aku menunjuk kearah makam yang tadi Zio datangi.
"Buat apa? Sebentar lagi kita pulang, jadi jangan lama-lama!"
"Iya Pa sebentar doang kok!"
Setelah mendekat, aku memastikan bahwa makam inilah yang tadi Zio datangi. Ternyata benar, karena ada sekuntum bunga mawar putih segar diatasnya.
Disana tertulis :
R.I.P
Anindita Kusuma
Lahir : 5 Oktober 1967
Wafat : 16 Januari 2011
Apa mungkin ini makam Mamanya Zio? Astaga, aku tidak boleh berpikir seperti itu dulu. Mungkin ini makam tantenya atau siapalah. Tidak terlalu penting juga buatku kan?!
Sebaiknya aku pergi, pikirku.
"Udah, Ta?" tanya Papa setelah menyadari kehadiranku.
"Udah, Pa," jawabku singkat.
Kemudian aku menundukkan badan dan berkata pada makam Mama, "Kami pulang dulu ya, Ma! Kapan-kapan aku sama Papa bakalan kesini lagi kok! Mama baik-baik ya disana."
Aku berdiri dan meninggalkan makam Mama.
"Kamu tadi pergi kemana, Ta?" tanya Papa setelah kami menyusuri jalan dan keluar dari daerah TPU.
Kasih tau gak ya? Tapi kan Papa gak kenal, kasih tau ajalah, pikirku dalam hati.
"Abis ngeliat makam seseorang, Pa," ucapku agak ragu, takut Papa bertanya lebih lanjut.
Dan benar saja, Papa malah makin kepo!
"Makam siapa? Keluarga kita yang dimakamkan disitu kan hanya Mama."
"Hmmmm....itu..... makam keluarga temen aku, Pa."
"Teman SMA atau SMP? Atau mungkin SD?"
"SMA, Pa. Tapi belom tau pasti sih itu makam keluarganya atau bukan."
"Oh begitu. Yasudah, Papa cuma nanya kok."
Syukurlah percakapanku dan Papa cuma sampai disini. Kalo Papa sampai kepo banget, matilah aku karna gak bisa jawab apa-apa!
--------------
a.n
hello again guys! terus baca cerita ini yaaa, jangan lupa tinggalin comment dan vote nya biar gue semangat lanjutin cerita ini.
thanks a lot;)
KAMU SEDANG MEMBACA
Tulip Putih [ON HOLD]
Teen Fiction"Lo nyebelin!" aku memukul Zio dengan bantal saat aku tahu bahwa dia telah menaruhkan garam dalam sirupku. "Ahahaha!" tawa Zio nyaring sambil terus menghindar dari seranganku. Sekejap, ia berhenti tertawa dan memegang tanganku. "Gue beneran nyebelin...
![Tulip Putih [ON HOLD]](https://img.wattpad.com/cover/9083444-64-k772165.jpg)