Putaran Waktu dan Keputusasaan

68 13 11
                                        


Sunyi mulai menerima dengan segala situasi yang terjadi, sudah dua kali ia tidur dan terbangun kemudian menyadari nasibnya tidak juga berubah, harapannya bahwa mungkin yang menimpanya adalah mimpi belaka pun pupus begitu saja.

Pada hari kedua ia berjalan mengelilingi rumah di pagi hari, itu bagian luar. Berjalan dari teras menuju ke belakang rumah. Bunga-bunga yang ibunya tanam tidak sebanyak di masa depan, belum ada pohon pisang di sisi kanan rumah, ada pondok penyimpanan kayu bakar di pojok belakang rumah, terlihat masih begitu baru. Ayah pasti baru membuatnya karena sebentar lagi memasuki akhir tahun dan curah hujan menjadi tinggi.

Hal paling menonjol tentu saja jumlah ternak yang orang tuanya miliki. Hanya kambing sepasang yang masih berumur beberapa bulan. Jelas sekali ini masa lalu. Ayahnya memiliki banyak kambing di tahun-tahun yang akan datang. Orang-orang bahkan sering membeli kambing dari ayahnya.

Pada hari ini Sunyi mengenakan seragam SMA nya. Ada hal yang ia sukai di tubuh 17 tahunnya. Masih begitu terawat tanpa mata panda dan juga Sunyi menyadari jika penglihatannya masih sangat jernih sehingga ia tidak membutuhkan kaca mata, berbeda sekali dengan dirinya versi 4 tahun ke depan.  Ibu memberikan dua bekal makanan yang salah satunya minta Sunyi antarkan ke SMP Bumi. Anak itu terlalu terburu-buru karena ini masa ospek sehingga berangkat lebih pagi sampai melupakan bekal makannya.

Sekolah SMP dan SMA mereka berada dalam satu yayasan pendidikan yang sama. Sekolah mereka pun letaknya bersebelahan. Sunyi tidak membantah sama sekali malah ia tampak bersemangat ingin melakukan ekspedisi masa lalu di sekolahnya, sampai membuat Ibu terheran-heran karena biasanya Sunyi akan mengomel jika dititipi sesuatu untuk adiknya.

Sunyi berjalan ke arah selatan melewati rumah Biru, lelaki itu juga berangkat sekolah dengan kemeja abu dan celana dasar berwarna hitam. Sunyi masih begitu ingat jika Biru adalah guru SMP baru di sekolah adiknya. Biru berjalan dengan membawa tas jinjing di tangannya, sementara Sunyi mengikuti dari belakang. Enggan menyapa Biru. Niatnya hanya ingin melihat lelaki itu memang. Setiap langkah yang ditinggalkan pria itu meninggalkan pula jejak aroma parfume yang sangat Sunyi nikmati. Pagi yang sempurna.

Sunyi tidak begitu ingat masa sekolahnya, seingatnya dulu ia memiliki cukup banyak teman dan memiliki pengalaman yang cukup menyenangkan bermain dengan mereka semua. Gadis itu memasuki kelasnya dan langsung disapa oleh beberapa anak perempuan. Sunyi memilih bangku paling belakang dan beberapa anak mengatakan sangat Sunyi sekali. Tapi baguslah setidaknya Sunyi masih mampu beradaptasi dengan kehidupan SMA nya. Semua agenda sekolah berjalan lancar sampai jam istirahat pertama. Sekolahnya benar-benar sederhana, tipe sekolah negeri di pedesaan, tidak memiliki banyak kegiatan ekstrakurikuler. Mungkin yang aktif hanya pramuka, baris berbaris dan sepak bola, olahraga paling populer untuk anak laki-laki di desa. Jika murid laki-laki memilih kegiatan tambahan sepak bola, maka murid perempuan memilih baris-berbaris, sementara pramuka adalah kegiatan tambahan yang diwajibkan kepada semua murid.

Sunyi memilih berjalan-jalan keluar untuk mengantarkan bekal Bumi ke SMP anak itu. Gadis itu menolak ajakan teman-temannya untuk beli jajanan, dan dibalas keluhan teman-temannya. Sunyi mungkin merasa dirinya sudah tidak relate dengan kehidupan SMA, ia menyadari itu saat menimbrung obrolan teman-temannya yang kebanyakan membicarakan soal cinta-cintaan dan kencan sederhana ala anak desa (janjian di depan minimarket lalu pergi ke pantai) mau bagaimanapun pola pikirnya sekarang adalah gadis berusia 21 tahun yang sedang berkuliah, meski tidak terlalu jauh jarak umur itu namun 4 tahun pengalaman hidup tidak boleh begitu saja diremehkan. Sunyi kini sudah memiliki pemikiran yang lumayan berkembang, ia juga sudah beradaptasi cukup baik sebagai anak kota selama 2 tahun. Bahkan di berbagai waktu tadi Sunyi sempat akan menggunakan gaya bahasa anak kotanya, seperti akan memakai "lo-gue" untung saja ia memiliki pengendalian diri yang baik.

PancarobaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang