Kencan yang Bukan Kencan

65 13 5
                                        

Sunyi mungkin sudah terlanjur tergila gila terhadap Biru
Langit, hingga ia dengan kesadaran penuh berlagak seperti penguntit, Sunyi akan menunggu di dekat gerbang sekolahnya setiap jam pulang sekolah untuk menunggu para guru SMP keluar. Mencari sosok Biru yang berdiri menjulang. Lalu kemudian membuntutinya dengan jarak yang agak jauh, meniti setiap gerak langkah yang lebih tua.

Selama itu, Sunyi menyadari gaya berjalan Biru, lelaki itu memiliki kaki yang panjang namun langkahnya tidak terlalu lebar, kedua tangannya juga jarang terayun dengan kuat saat Biru melangkah. Biru jarang menoleh ke arah lain saat berjalan, tidak banyak hal yang bisa membuatnya tertarik untuk mengubah arah pandangan.

Kecuali jika ia bertemu dengan kucing, anak kucing atau anak kecil. Beberapa kali saat Biru berpapasan dengan anak-anak yang bermain sore-sore, lelaki itu akan menyapa dan mengatakan pada anak-anak untuk berhati-hati saat bermain. Biru terlihat nyaman dengan anak-anak. Saat Biru berhenti, Sunyi juga akan ikut menghentikan langkah. Sejujurnya ia memiliki kecemasan jika kebiasaan menguntitnya ini diketahui oleh si objek.
Mungkin Sunyi harus segera menyudahi kegiatannya.

Sore ini Sunyi kembali membuntuti Biru, cuaca begitu mendung dan mungkin tidak lama lagi akan turun hujan. Seperti hari-hari sebelumnya, Sunyi dengan setia meneliti punggung Biru. Tinggal beberapa ratus meter lagi mereka akan segera sampai rumah.

Sunyi berpikir bahwa ini mungkin hanya dunia khayalan, rasa kesepian yang ia rasakan selama ini mungkin Tuhan memahaminya, kemudian menciptakan dunia khayalan yang tidak berkesudahan untuknya semacam mimpi. Mungkin jika hanya sehari, sehari saja ia memanfaatkan dunia khayalan ini dengan benar, ia akan kembali. Tuhan akan mengembalikan semuanya kembali ke keadaan semula.

Sunyi berhenti saat Biru berhenti, lelaki itu mengeluarkan payung, membukanya. Biru tanpa sengaja menatap ke arah Sunyi. Menyadari ada Sunyi di tengah hujan membuatnya setengah terkejut. Biru melambaikan tangan, memberikan gestur untuk Sunyi segera menghampirinya. Sunyi sendiri baru menyadari jika hujan sudah turun, bahkan turun dengan deras. Matanya mengerjap menatap Biru yang menunggunya di ujung sana.

"Sunyi..." Biru bergumam, Biru melangkah menghampiri Sunyi yang terdiam kaku di tengah hujan. Biru tidak akan berbohong jika ia merasa khawatir terhadap gadis itu. Kakinya ia bawa mendekati Sunyi dengan lebih cepat, ingin segera memayungi Sunyi, melindunginya dari hujan.

"Mungkin kalo sehari aja aku manfaatin dengan benar." Sunyi tanpa ragu berlari menerjang hujan, menghampiri Biru. Memeluknya dengan erat bahkan tubuh tidak siap Biru hampir terjungkal dibuatnya. Sunyi tidak peduli, ia menghirup dalam-dalam kemeja Biru, menghirup aroma Biru. Bau yang akan ia hafal sampai ia kembali ke dunia sebenarnya. Khayalan ini akan ia ingat sampai ia mati.

Biru terpaku. Ia tidak bisa bergerak untuk waktu kurang dari satu menit. Tindakan Sunyi mungkin akan menjadi pemicu kemarahannya jika di hari-hari biasa. Tapi saat ini, setelah melihat wajah putus asa Sunyi, mungkin Biru akan membiarkannya. Untuk kali ini saja.

"Kamu baik-baik aja?" Bisikan Biru memecah fokus Sunyi. Sunyi membuka mata namun masih enggan melepaskan pelukannya yang kuat. Gadis itu menggeleng memberi jawaban. Biru tidak mengatakan apa-apa lagi, tangannya ia bawa ke bahu Sunyi, mengusapnya dengan lembut. Mungkin jika diartikan dengan sebuah kalimat, Biru baru saja mengatakan "Kamu gak sendirian, ada saya."

Sunyi menyadari jika begitu berartinya kehadiran seseorang dalam hidup. Kehadiran seseorang itu mungkin bisa menjadi penyelamat paling hebat untuk rasa putus asa.

......

Langkah mereka beriringan di bawah payung. Payung milik Biru terlalu kecil untuk keduanya, tapi Sunyi tidak menyadarinya, gadis itu terlalu kalut atas isi pikirannya sendiri. Biru sengaja mengarahkan sebagian besar bagian payungnya untuk Sunyi, membiarkan sisi bahunya basah terkena hujan.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 05, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

PancarobaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang