hujan

320 10 0
                                        

PULANG

___________________________________________________


KRINGG!..

Suara bel panjang itu memecah keheningan koridor Bhayangkara Academy, disambut sorak-sorai tertahan dari para murid yang seolah baru saja lepas dari belenggu. Di depan kelas, Pak Noto merapikan tumpukan kertasnya.

_________

"Ya, anak-anak, sampai di sini dulu pertemuan kita. Saya permisi. Wassalamu'alaikum," pamitnya tenang.

"Wa'alaikumussalam. TERIMA KASIH, PAK NOTO!" jawab serempak itu mengiringi langkah sang guru keluar pintu. Detik berikutnya, kelas berubah menjadi lautan keriuhan. Ada yang bergegas menyambar tas, ada yang masih asyik bersenda gurau, dan ada pula yang masih terpaku di bangkunya.

Termasuk Keyvara. Gadis itu masih sibuk merapikan buku-bukunya yang berserakan, jemarinya bergerak cekatan namun tenang. Tanpa ia sadari, sepasang mata milik pemuda di sebelahnya tak sedetik pun beralih darinya. Merasa ada sepasang mata yang mengintai, Keyvara menoleh. Ia mendapati Reven sedang menopang dagu, menatapnya lurus.

"Kenapa? Kok kamu ngelihatin aku terus?" tanya Keyvara sambil menyampirkan tas di pundak.

"Soalnya lo cantik," jawab Reven spontan, tanpa filter.

Keyvara mematung. Jantungnya berdesir aneh, sementara Reven yang baru menyadari kelancangan mulutnya langsung gelagapan. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan cengiran kuda yang dipaksakan.

"Eh! Maksudnya... itu... nungguin lo! Iya, nungguin lo kelamaan, hehe," kilahnya cepat.

Keyvara hanya membulatkan mulut membentuk huruf 'O'. Mungkin aku salah dengar, pikirnya mencoba rasional.

__________________

Keyvara terpaku di sisi gerbang sekolah yang mulai lengang. Tatapannya kosong, menyisir aspal jalanan yang masih menyisakan uap panas sisa siang tadi. Tangannya meremat tali tas ranselnya dengan gelisah. Ia tidak sedang menunggu siapa pun; ia hanya sedang bertarung dengan isi dompetnya yang kian menipis.

Beberapa lembar ribuan yang tersisa di sana tampak begitu menyedihkan. Mana cukup untuk ongkos angkot sampai ke rumah? batinnya getir.

Pikirannya kemudian melayang pada tawaran Reven beberapa saat lalu. Cowok itu sempat menyejajarkan motornya di depan Keyvara, menawarkan jok belakang yang kosong dengan nada santai. Namun, gengsi Keyvara jauh lebih tinggi daripada rasa butuhnya. Dengan senyum yang dipaksakan sealami mungkin, ia berbohong bahwa sopir rumahnya sedang dalam perjalanan menjemput.

Padahal, kenyataannya jauh dari kata mewah. Jangankan dijemput, bernapas di dalam mobil jemputan saja sudah menjadi hal terlarang baginya. Sang Papa telah menetapkan aturan mutlak: tidak ada fasilitas sopir untuk urusan sekolah. Keyvara dipaksa berbaur dengan debu jalanan dan sesaknya angkutan umum, sebuah hukuman atau mungkin "pelajaran hidup" yang ayahnya terapkan dengan tangan besi.

Kini, setelah Reven berlalu dan gerbang sekolah hampir tertutup rapat, Keyvara benar-benar sendirian. Ia menatap jalan raya dengan bimbang, meratapi kebohongannya sendiri sementara kakinya mulai terasa berat untuk melangkah menantang rute panjang menuju rumah.

Jika ada satu orang yang paling dihindari Keyvara namun juga menjadi satu-satunya tumpuan harapannya saat ini, orang itu adalah Keyvano. Namun bagi kakaknya itu, keberadaan Keyvara tak lebih dari sekadar noda. Keyvano selalu menganggapnya "sampah"—sebuah label menyakitkan yang ditempelkan padanya tanpa ampun di rumah maupun di sekolah.

KEYVARA (Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang