Cakra membaringkan tubuhnya yang lemas pada sofa ruang tamu, dan menutup wajahnya dengan menggunakan bantal sofa karena dirasa lampu penerangan disana terasa menusuk mata hitam elegannya itu.
Sedari tadi, ia tidak mood untuk melakukan sesuatu setelah mengurus banyak tumpukan kertas yang berserakan di kamarnya akibat sidang proposal kemarin. Untung saja, Cakra lulus dari sidang tersebut meski ada beberapa kendala yang menghampirinya sewaktu menjelaskan pada dosen pembimbingnya itu.
Hari sudah mulai siang, dan ia sendirian di apartemen. Jam kuliahnya sedang kosong, jadi ia bisa bersantai di apartemen tanpa terganggu hal apapun. Jujur saja, kuliah di jurusan Ilmu komunikasi membuatnya cukup kewalahan meskipun Cakra terkenal sebagai mahasiswa yang pintar, dan juga cerdas.
Terlebih, dia bisa dibilang anak introvert yang tak terlalu menyukai lingkungan pergaulan di kampusnya. Andaikan lontaran kata kasar tidak dilarang, bisa saja ia mengeluarkan semua kekesalannya tanpa ragu sedikitpun.
"Dahlah. Gw gabut disini. Malik kerja, terus duo bokem lagi sekolah." Cakra mengangkat bantal yang ia pegang, kemudian ia mengambil ponselnya yang ada di atas meja untuk mengeceknya.
Baru sekitar jam 10 pagi. Sepertinya, ia memiliki ide untuk berjalan-jalan di sekitar taman kota. Kebetulan kondisi saat ini sedang berawan, sepertinya cukup bagus untuk dipakai keluar.
"Oke, gas. Jalan-jalan, yuhu~" Ia berjalan menuju kamarnya untuk mengambil dompet dan juga jaket rompinya, lalu berjalan menuju keluar untuk mengunci pintu apartemen.
Masing-masing dari mereka berempat memang membawa kuncinya, jadi tak perlu khawatir akan hal itu.
Cakra berjalan ke lantai bawah, dan kemudian berjalan keluar dari apartemen menuju taman yang berada di pusat kota. Kurang lebih, jaraknya sekitar 3-4 kilometer dari sana. Kalau kata GemmaD si ahli Gym, hitung-hitung sebagai olahraga tambahan.
Ia memandang pusat kota yang saat ini cukup terstruktur sekaligus semakin maju berkat perkembangan zaman. Meskipun, Cakra sebenarnya masih sedikit kesal dengan struktural pemerintahan yang ada di kota ini, yang cenderung lebih mengutamakan masyarakat kalangan atas dibandingkan kalangan masyarakat menengah ke bawah.
Bila disebutkan dengan kosakata dalam kamus adiknya, kurang lebih seperti "Lu punya duit, lu punya kuasa." Apa seharusnya Cakra mencalonkan diri sebagai presiden di tahun berikutnya, agar kondisi masyarakat di negara ini semakin lebih baik?
Baiklah, pikiran Cakra sepertinya sudah terlalu jauh dengan tujuannya untuk bersantai.
"Tolol, mau refreshing malah overthink, sat, sat." Cakra mengumpat dengan suara pelan seraya menggelengkan kepalanya, dan sampailah dirinya di salah satu zebra cross yang berhubungan dengan taman di pusat kota.
Ia menunggu di antara orang-orang yang sedang menunggu lampu hijau menyala, tapi entah mengapa Cakra merasa sedari tadi diikuti oleh seseorang dari kejauhan.
Kemudian, Cakra pun menoleh ke arah instingnya terasa. Namun, di bagian ujung Terminal Bus tidak ada satu orang pun yang mengawasinya. Bahkan, mereka semua kebanyakan sibuk dengan ponsel dengan logo belahan apel di belakangnya. Ada juga yang foto-foto dengan gaya yang menurut Cakra cukup norak untuk dilihat oleh orang umum.
"Apa perasaan gw doang, ya?" Batin Cakra, memandang dengan tatapan serius sampai ada seseorang yang menyadarkannya dengan tepukan bahu.
"Sudah lampu hijau, lu nggak jalan, Kra?" Tanyanya dengan raut wajah heran, seketika membuat Cakra tersadar dan kemudian berjalan sejajar dengan orang yang ada di sebelahnya. Pantas saja Cakra tidak asing dengan suaranya, ternyata itu teman satu kelasnya di kampus, Indra.
KAMU SEDANG MEMBACA
4 Brother, tapi Bobrok | YTMCI AU
Fanfiction『ALTERNATE UNIVERSE OF YTMCI¡』 -------- Ketika 4 orang yang memiliki kehidupannya masing-masing menjadi saudara, akibat suatu peristiwa yang mengharuskan mereka menjadi satu keluarga. Malik, anggota tertua yang terkadang masih ceroboh dalam bertinda...
