Empat : Gara-Gara Cewek Gatal Itu

9 0 0
                                    

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Saat orang lain masih enak di dalam selimut, Citra dan Yuna sudah berada di dapur sejak jam 3 pagi. Hari ini orderan risol Yuna membludak. Yuna bagian mengisi isian kulit risol, Citra bagian menggulung.

"Gue nanti bawa 11 potong, ya," ucap Citra mengawali perbincangan mereka pagi ini.

"Banyak banget, buat makan 3kali ya? Pagi, siang, malam?"

"Bukan. Teman gue pesan."

"Dikit banget cuma bawa 11. Bawa 30 lah."

"Gue gak jual keliling, ini udah ada yang pesan."

"Kenapa lo gak mau keliling lagi? Malu lo?" tanya Yuna penasaran.

"Iya malu. Muka gue dibilang mirip risol."

"Bego. Ngapa dipikirin? Gue aja keliling kampus 5 fakultas juga gue jabanin. Sekarang nama risol gue udah terkenal se-kampus. Gue gak perlu keliling , orang-orang udah pada pesan lewat WA."

"Gue gak sekuat mental kayak elu."

"Diiihhh. Lumayan tahu untung risol ini. Lihat aja tuh gue bisa bayar cicilan motor karna jual risol. Tinggal setahun lagi cicilannya. Nanti kalau udah lunas gue mau kredit mobil. Intinya lo itu harus berani usaha, malu itu nomor sekian. Ntar kalau usaha lo sukses, gak ada lagi yang berani ngejek lo."

"Nanti lah gue pikir-pikir lagi."

"Kebanyakan mikir lo. Udah bawa aja 30. Lo jual 4ribu, lo bayar gue 2 ribu per potong. Per potong lo untung 2ribu. Habis 30 aja lo udah untung 60ribu. Lumayan banget cuan nya cuy," Yuna menggebu-gebu, menyemangati. Sedangkan Citra sudah malas menanggapi.

"Kalau nanti untung lo udah terkumpul banyak, lo nanam modal aja ke usaha risol gue. Jadi perpotongnya lo nerima full 4ribu," lanjut Yuna.

"Dihh, nanam modal. Sok keren lu."

"Bukan sok keren bego. Lo itu harus paham bisnis dari sekarang."

"Kalau pun gue mau punya bisnis, gue gak mau jualan risol."

"Jadi mau jualan apa lu?" tanya Yuna penasaran.

"Brownies mungkin." jawab Citra sambil berpikir.

"Kenapa?"

"Biar kalau diejek orang jadi agak keren dikit. Muka lo kaya brownies. Yaaahh, setidaknya muka gue dibilang manis kayak brownies, gak berminyak kayak risol."

Yuna terkekeh mendengar celoteh adik kandung satu-satunya itu.

"Terserah lu dah. Entar kalau lu memang mau jual brownies, gue kasih pinjaman modal."

Begitulah akhir dari perbincangan mereka pagi ini. Suara adzan mengoyak keheningan sunyi. Waktu subuh dimulai.

***

Citra masuk gerbang sekolah dan bergabung bersama kerumunan murid lain pagi hari ini. Di tangan kiri nya tertenteng plastik kresek putih yang di dalam nya ada risol-risol yang sudah terbungkus rapih di dalam mika. Langkah kaki membawanya memasuki kelas. Berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya, hari ini suara cerewet Sintia menyambutnya.

"Citra risol aku mana?" teriak Sintia menghampiri Citra. "Aku udah lapar banget tau, nungguin risol ini."

Citra hanya balas nyegir sambil mengeluarkan sebungkus mika dari dalam plastik.

"Randra! Ini punyamu," teriak Sintia memanggil Randra yang juga memiliki pesanan Risol. Yang dipanggil menghampiri.

Citra memberikan pesanan risol milik Randra. "Enam belas ribu," katanya. Setelah menerima risolnya, Randra balik ke bangkunya.

Rame-Rame Coffe ShopTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang