#5

228 22 0
                                        

05.00

  Fajar mulai mendatang, kini mereka sudah menyiapkan diri untuk berpetualang ke alam liar. Duri yang paling ber semangat diantara Halilintar dan Pak Allo, "Waaaa!!! bang Hali ayo kita berangkattt." Dengan girang, Duri sudah menyiapkan keperluannya deluan. Sedangkan Halilintar masih membantu Pak Allo yang sedang menyiapkan perlengkapan lainnya.

Pak Allo membawa sekantung uang, tak lupa ber-pamitan kepada anak tercintanya. Halilintar memakai sepatu, setelah itu kembali berdiri menuju luar rumah, "Cepatlah. Aku tak ingin menunggu lebih lama lagi." Mereka bertiga kini siap untuk melangkah awal pertualangannya, dini fajar yang tiba mulai memanggil sang mataharinya untuk bersinar lebih terang.

Di setiap sisi perjalanan, mereka tak lupa untuk ber pamitan. Beberapa warga memberikan mereka sebuah makanan untuk bekal,

"Pak Allo, dan tuan pahlawan ini saya ada buah untuk kalian. Jangan lupa kembali ya!"

Seru anak kecil yang setiba menghampiri mereka, Pak Allo tersenyum dan mengelus kepala anak kecil itu. Mereka melangkah terus melangkah, dari awalnya desa yang penuh dengan perumahan sederhana mulai memasuki hutan yang belantara.

╭── ⋅ ⋅ ── ✩ ── ⋅ ⋅ ──╮

Mereka bertiga melangkah memasuki area hutan. Pepohonan yang tinggi, serangga dan angin yang berhembus. Dan tanah yang sangat subur di tumbuhi oleh bermacam macam jenis bunga. Duri berjalan menyadari suatu hal, bahwa tak nampak jejak kaki para warga yang menginjak tanah hutan itu.

Duri berjalan, menengok sekeliling dan bertanya kepada pak Allo. "Hutan ini terlihat subur, tapi sepertinya para warga tak pernah mengunjungi ini. Kira - Kira kenapa ya???"

Pak Allo melemparkan kembali pertanyaan itu,
"Menurut anda. Mengapa kira - kira?"

Duri berfikir sejenak, ia meluangkan waktu perjalanannya untuk berfikir. Sedangkan Halilintar? berjalan sambil membaca peta berharap menemukan petunjuk. Duri menemukan jawabannya, namun ia tak yakin. Duri pun kekeuh menjawab pertanyaan yang dilempar balik itu, "Apa karena hutan ini di hidupi oleh hewan buas dan mereka lebih memilih transportasi air menggunakan sampan?" Pak Allo tersenyum, menganggukkan kepalanya yang berarti begitulah kira - kira.

― Tak terasa, siang hari mulai datang. Mereka bahkan masih jauh dari tujuan, mereka berniat untuk istirahat dibawah pohon yang paling besar di sana. Mereka memakan perbekalan mereka.

"Kalian ini kan dari dunia lain... tapi.. kalian cepat ber adaptasi ya.." Hali tersenyum tipis, "Yah, kehidupan di dunia ini juga hampir mirip dengan dunia kami."

Tiba - Tiba hutan terasa sangat sunyi sekali. Dan ada yang janggal, hewan - hewan se'akan - akan berlari menjauhi sesuatu. Halilintar dan Pak Allo sudah menyadari ada hal yang tak beres, sedangkan Duri yang tiba - tiba terkejut dengan apa yang dilihatnya. "Duri? ada apa?." Duri menelan lidahnya, bola matanya mengecil dan membulat sempurna. Sambil menggeruskan kedua alisnya ka berkata,

"Di belakang kalian-"

Hali dan pak Allo reflek memalingkan tubuh mereka, menghadap ke arah yang di tunjuk oleh Duri. Mereka melihat beberapa monster buas berada di hadapan mereka kali ini, "GRAAAAHHHH!!!!!!!!" Auman keras dari salah satu monster di depan mereka membuat mereka membeku sejenak.  
"BAWA BARANG - BARANG KALIAN, DAN PERGI DARI SINI SEKARANG!!!!" Halilintar mengeluarkan pedangnya. Sambil menerapkan sikap kuda kuda, sedangkan para Monster sudah berjalan untuk menyerang. "Abang ntar gimana???!." Duri membereskan barang barangnya, sedangkan pak Allo hanya melihat kejadian.

𝐌𝐄𝐑𝐏𝐀𝐓𝐈Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang