02

665 51 4
                                        

"Semua orang punya cara tersendiri untuk bertumbuh dan menggapai masa depan."

☆☆☆

"Pagi anak Papa yang cantik."Galen melihat Lavelyn turun dari tangga.

Lavelyn tersenyum tipis. "Pagi, Papa."

"Loh, kok kayak nggak semangat gitu? Kamu kecapekan ya? Sahabat kamu mana? Panggil dulu supaya sarapan bareng,"ucap Paula yang sudah duduk.

Lavelyn mengangguk. "Iya nih, Ma. Rasanya kayak nggak semangat. Sebentar lagi mereka juga turun kok."

"Nanti jangan lupa di minum vitaminnya."Galen memperingati dan di angguki oleh Lavelyn.

Setelahnya Kairi dan Naya ikut bergabung. Keluarga mereka dengan khidmat menikmati sarapan.

.

.

Lavelyn, Kairi, Nayara, Galen, Paula, dan Daksa berkumpul di ruang keluarga ketika menyelesaikan sarapan mereka. Sudah menjadi hal biasa di keluarga Pradipta ketika di hari Minggu banyak menghabiskan waktu berkumpul bersama. Mengobrol sepanjang hari sembari menceritakan keseharian antar anggota keluarga.

"Gimana perasaan kalian setelah berhasil menyelesaikan perkuliahan?"tanya Galen menatap pada Lavelyn, Kairi, dan Nayara.

Kairi tersenyum. "Senang sekali, Om. Rasanya seperti mimpi."

"Rasanya baru kemarin kita bertiga pusing kerjain skripsi. Tahu-tahu sudah lulus aja,"celetuk Nayara.

Paula mengangguk. "Turut bahagia untuk keberhasilan kalian."

"Kalian jangan gegabah dalam mencari pekerjaan. Pilih yang menurut kalian akan berjangka panjang. Untuk saat ini, mungkin istirahat dulu. 4 tahun bukan hal mudah bagi kalian untuk menjalaninya. Tetapi, jika ada yang cocok, nggak ada salahnya diterima."Galen memberikan nasehat.

Lavelyn lupa jika ia mendapatkan tawaran pekerjaan dari keluarga Altama. Ia harus membicarakan soal ini dengan orang tuanya. "Ma. Pa. Aku dapat tawaran kerja dari om Jeremy sama Kak Rayan."

"Tawaran kerja di bisnis Tour & Travel Astama Group dan EO Astama Group?"tanya Paula mendapat anggukan dari Lavelyn.

Ia menghela nafasnya. "Jadi kemarin aku sempat samperin keluarga Harden. Tau-tau di tawarin kerjaan. Katanya Om Jeremy kalau mau, besok sudah bisa kerja. Soal Kak Rayan, dia nawarin kerjaan sebagai Public Relation. Untuk mulai masuknya, nggak tahu."

"Hah? Besok? Lo serius?"tanya Kairi kaget.

Lavelyn mengangguk. "Serius. Om Jeremy juga bilang buat ajak kalian kerja. Tetapi, serius deh gue bingung harus milih antara Travel atau EO."

"Menurut Papa lebih baik Tour & Travel Astama Group saja. Kapan lagi coba dapet tawaran langsung kerja di bisnis Travel keluarga Altama. Jenjang karir kalian termasuk bagus loh,"ujar Galen.

Lavelyn mengerutkan dahi. "Tadi Papa bilang jangan gegabah. Kenapa sekarang menggebu-gebu?"

"Kalau tawaran kerjanya di Travel yang bahkan sudah dapat banyak penghargaan dan bisnisnya di akui. Kenapa tidak? Lagian masa kamu nggak mau deket sama Astalian,"goda Daksa menaik-turunkan alisnya.

Lavelyn terkekeh ringan. "Ah, Kakak tahu aja. Tetapi, serius deh aku masih galau soal tawaran itu."

"Apa yang perlu kamu galauin? Bukannya bagus ada kesempatan lebih dekat sama Astalian? Pasti hari-hari kamu jadi makin cerah. Kamu juga nggak minat kan bantuin bisnis hotel keluarga,"timpal Daksa.

Cinta Cowok Idaman [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang